BERBAGI
Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas saat mengunjungi Gereja Blenduk, Kamis, 24 Desember 2020 (Serat.id / Praditya Wibby)

“Jadikan agama ini sabagai sumber inspirasi untuk membuat kedamaian, untuk menyebarkan kasih sayang,”

Serat.id – Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, mengunjungi acara malam Natal di Gereja GPIB Immanuel, Kamis, malam 24 Desember 2020 tadi. Menteri Yaqut datang di tepat ibadah umat Kristiani yang sering disebut gereja Blenduk itu pukul 20.00

“Kunjungan saya malam ini untuk mengucapkan Natal kepada saudara kita yang merayakan serta menyampaikan bahwa menteri agama bukan hanya dimiliki satu agama saja, tetapi untuk semua,” kata Yaqut Cholil Qouma.

Baca juga : Dua Pendeta Dari Klaster Gereja di Kabupaten Pati Meninggal

Kampanyekan Toleransi, Sinta Nuriyah Sahur di Gereja Semarang

Komnas HAM Minta FKUB Segera Keluarkan Rekomendasi

Yaqut mengatakan kehadirannya sebagai kunjungan sesama saudara yang sedang merayakan Natal dan ikut berbagi kebahagian dengan mereka.

Kedatangan Menteri itu dijaga aparat kepolisian dan Banser yang mengerahkan sekitar 35 anggota, hanya berlangsung beberapa menit saja. “Saya menyampaikan pesan kepada saudara kita yang sedang merayakan Natal, mari kita bergandengan tangan, mari kita jadikan agama ini sabagai sumber inspirasi untuk membuat kedamaian, untuk menyebarkan kasih sayang,” kata Yaqut menjelaskan.

Ia berpesan agar publik meninggalkan anggapan bahwa agama menjadi norma konflik bagi yang berbeda.

Pantauan serat.id suasana malam Natal di Gereja Cathedral Kota Semarang, hanya boleh dihadiri 270 jemaat atau 30 persen dari 900 warga jemaat seluruhnya. Pembatasan jumlah jemaat tersebut menggunakan metode pendaftaran terlebih dahulu sejak September dan hanya boleh diikuti jemaat Gereja Chatedral saja.

“Kami memang membatasi jemaat yang akan mengikuti misa malam natal tahun ini, mengingat masih masa pandemi,” Kata Romo Yoseph Herman Singgih Sutoro saat ditemui usai Misa.

Yoseph menyebut jemaat dari luar kota pernah menjadi anggota Gereja tersebut tetap tidak memperbolehkan mengikuti misa. “Jemaat yang mengikuti misa, harus mengikuti protokol yang diterapkan,” kata Yoseph menjelaskan.

Menurut dia, jemaat harus menunjukkan kartu yang sudah dikelompokkan sesuai warna kartu dan tempat duduk, cek suhu badan serta scan tanda kehadiran sesuai kartu tersebut. “Yang bisa ikut Misa juga kita batasi usia dari umur 10 hingga 70 tahun,” katanya.

Sebelum pandemi, kata dia perayaan Natal biasanya bisa dihadiri sekitar 3.000 jemaat hingga meluber ke luar gereja. Namun pada tahun ini kita batasi sekitar 270 hingga 300 untuk setiap sesi Misa Natal. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here