BERBAGI
Gereja St. Yoseph atau sering disebut gereja Gedangan di jalan Ronggowarsito, Kota Semarang. (Praditya Wibby/Serat.id)

Menyimpan kisah perjuangan pemuda pribumi tatkala bertempur melawan tentara Jepang, yang dikenal dengan Pertempuran Lima Hari di Semarang pada 15 hingga 19 Oktober 1945.

Serat.id –  Gereja tua dengan bangunan khas tropis era kolonial di jalan Ronggowarsito, Kota Semarang itu masih megah berdiri. Suasana komplek bangunan gereja yang usianya sudah 145 tahun terasa sejuk oleh rindang pohon Trenggulun.  

Warga Kota Semarang menyebut sebagai gereja Gedangan, meski resmi bangunan itu bernama Gereja Santo Yusuf atau St. Yoseph. “Biasa disebut Gereja Gedangan. Sebab kala itu gereja tersebut dibangun di Jalan Zeestraat-Kloosterstraat-Gedangan,” kata Ketua orang muda Katolik (OMK) Gereja Gedangan, Gabriel Rinus Madanarwastu Kippuw, kepada Serat.id beberapa waktu lalu.

Gabriel menjelaskan keberadaan gereja St. Yoseph sebagai simbol sejarah perjalanan agama Katolik di Kota Semarang. “Ini merupakan gereja pertama Katolik di Kota Semarang,” kata Gabriel.

Ia menjelaskan berdirinya gereja itu tak lepas dari nama besar Pastor Lambertus Prinsen dikirim dari Belanda ke Jawa pada tahun 1808. Saat itu Pastor Lambertus ditugaskan sebagai penginjil di wilayah Semarang dan beberapa permukiman sekitarnya. “Meski Peletakan batu pertama baru dilakukan oleh Pastor Lijnen pada tahun 1870 dan selesai dibangun pada tahun 1875,” ujar Gabriel menjelaskan.

Baca juga : Mengenang Pabrik Hygeia, Produsen Air Minum Kemasan Pertama di Indonesia

Reservoir Siranda dan Kisah Heroik Dr Kariadi

Ketika Kaum Kere Mengorganisir Diri, Mengenang Sarekat Kere di Semarang

Sebagai bangunan khas tempat ibadah, gedung gereja gedangan bagian atas bertulisan “IHS” yang bisa dilihat dari luar. Menurut Gabriel, dalam bahasa Latin diartikan Iesus Hominum Salvator (IHS), yang berarti Yesus Penyelamat Manusia.

Tak hanya itu interior bangunan St. Yoseph sangat  khas Eropa abad XII-XVI dengan gaya arsitektur Neogotik. Bangunan gereja yang dirancang arsitek Belanda, W.I. Van Bakel itu menampilkan empat patung tokoh agung dari perjanjian lama dan baru yakni Abraham, St Petrus, St Paulus, dan Imam Melkisedek.

“Patung tersebut secara khusus didatangkan langsung dari Jerman untuk menghiasi altar lama di atas Tabernakel atau tempat penyembahan,” kata Gabriel saat menemani Serat.id.  

Tercatat pada 1873 menara yang sudah terpasang di bangunan gereja itu sempat roboh karena tiang yang terbuat dari batu bata tidak kuat menahan beban. Akhirnya, dibangun kembali dengan batu bata yang diimpor dari Belanda.

Hampir semua interior Gereja St. Yoseph didatangkan dari luar negeri pada tahun 1880. Termasuk

lantainya yang dulu dari marmer dan keramik dari Itali. Namun lantai itu sudah tiga kali perombakan, terakhir 2007 ada penggantian keramik lantai.

Sedangkan di atas altar ruang gereja terdapat art-glass St Yusuf sebagai sosok pelindung Gereja Katolik Gedangan yang berusia ratusan tahun. Tak kalah menarik di lantai bangunan yang dulu digunakan koor dan musik. Di ruangan itu ada orgel pipa atau alat musik piano gerejawi yang cara kerjanya menggunakan blower untuk mengeluarkan suara ke pipa tersebut. Sayangnya alat musik penunjang liturgi kebaktian itu sekarang sudah tak terpakai.

Gabriel mengajak melihat satu sudut terletak batu nisan Mgr Lijnen, pendiri gereja tepat di atasnya berdiri Patung Hati Kudus Yesus yang terbuat dari kayu. Dinding sisi kanan dan kiri ruangan juga dihiasi karya seni ukiran 14 stasi Jalan Salib Tuhan. “Itu mengisahkan perjalanan Yesus dan juga lukisan Triforium bagian dari interior,” katanya.

Gereja St. Yoseph, Mgr Soegijopranoto dan Kisah Perang Lima Hari

Gereja Gedangan juga menyimpan kisah perjuangan pemuda pribumi tatkala bertempur melawan tentara Jepang, yang dikenal dengan Pertempuran Lima Hari di Semarang pada 15 hingga 19 Oktober 1945. Saat kepemimpinan Mgr Soegijopranoto yang merupakan uskup pribumi pertama.

Menurut Gabriel, waktu pertempuran banyak korban dan banyak yang melarikan diri sembunyi ke Gereja Gedangan. “Kala itu, sosok Mgr Soegijopranoto memiliki pengaruh yang kuat dalam perjuangan mengusir tentara Jepang,” kata Gabriel.

Di Gereja itu Mgr Soegijopranto melindungi dan mengobati para pejuang. Waktu itu tentara Jepang hendak masuk gereja Gedangan, namun Soegijopranoto menantang tentara Jepang sehingga enggan masuk.

“Kalau kalian (tentara Jepang) mau masuk ke gereja ini kalian penggal dulu kepalaku,” kata Gabriel menirukan pernyataan Mgr Soegijopranto. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here