BERBAGI
virus corona

Terapi plasma konvalesen bukan suatu hal yang baru dalam pengobatan. Terapi serupa juga diberikan untuk pasien yang menderita penyakit SARS, H1N1, dan ebola.

Serat.id – Terapi plasma konvalesen atau donor plasma darah yang mengandung antibodi dari pasien sembuh Covid-19 kepada pasien positif Covid-19, kini menjadi salah satu terobosan terbaru dalam pengobatan Covid-19.

Ada beberapa negara yang menggunakannya, di antaranya Tiongkok, Amerika Serikat, dan Indonesia.

“Meskipun kita tahu bukti dasar medisnya (evidence based medicine) masih dibutuhkan lebih banyak penelitian,”  ungkap  dokter spesialis kedaruratan, Tri Maharani dalam webinar secadaring yang digelar Lapor Covid-19 Gizi Seimbang untuk Mencapai Kesehatan yang Optimal Bagi Donor Darah Plasma Konvalesen”, Minggu, 27 Desember 2020.

Baca juga : AJI Ingatkan Tanggung Jawab Perusahaan Media soal Kasus Covid-19

Puluhan Perempuan Terdampak Covid -19, Dilatih Ketrampilan Menjahit

Pilkada 2020, Ribuan KPPS Positif Covid-19 Tetap Datang ke TPS

Maha, panggilan akrab dari Tri Maharani, mengatakan, terapi plasma konvalesen bukanlah suatu hal yang baru dalam pengobatan.  Sebelumnya, terapi serupa juga diberikan untuk pasien yang menderita penyakit SARS, H1N1, dan ebola.

Ia mengatakan, ada sejumlah persyaratan bagi pendonor untuk dapat mengikuti terapi plasma konvalesen. Hal itu antara lain sebelumnya merupakan pasien positif Covid-19 yang telah sembuh dengan dibuktikan hasil negatif Covid-19, baik dari satau atau lebih apusan ansofating dan arofaring, resolusi gejala secara menyeluruh minimal empat belas hari sebelum donasi plasma.

Kemudian diutamakan pendonor pria atau untuk pendonor wanita harus negatif terhadap antibodi HLA, menentukan titer antibodi yang tinggi melebihi 1 :320.

Selain itu, menurut Maha yang juga penyintas Covid-19, mengacu pada Permenkes Nomor 91 Tahun 2015 tentang Standar Pelayanan Transfusi Darah, sebelum melakukan pendonoran, calon donor terlebih dahulu harus diberitahu alasan plasma darahnya diperlukan, tidak ada imbalan atas donasi plasma darah.

Setelah calon donor setuju, maka dia juga harus melalui skrining kesehatan, antara lain berat dan tinggi badan, riwayat medis, risiko terkait gaya hidup, pemeriksaan fisik dasar, dan pemeriksaan hemeglobin.

Tak hanya itu, tak semua pasien positif Covid-19 dapat menerima plasma konvalesen. Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi agar pasien dapat menjadi penerima donor plasma, antara lain hasil positif Covid-19, menderita dengan gejala berat atau kritis.

Selain itu, dapat diberikan segera kepada pasien yang mengeluhkan sesak napas, tidak diindikasikan pada pasien Covid-19 ringan.

Widati Fatmaningrum, Ahli Gizi Universitas Airlangga mengatakan, bagi donor konvalesen untuk mendapatkan titer antibodi tinggi maka harus diimbangi dengan gizi seimbang. Gizi seimbang tersebut dapat dipenuhi dengan mengikuti pedoman umum gizi seimbang (PUGS).

Selain itu,  ada tiga vitamin yang dapat meningkatkan imun tubuh, yakni vitamin A dengan mengkonsumsi susu, hati, kuning telur, minyak ikan. Kemdian, vitamin C dengan mengkonsumi jeruk kiwi, semangka, tomat, stroberi, dan vitamin D dengan mengkonsumsi hati, susu, telur, ikan, keju.

Kemudian pendonor juga disarankan untuk mengkonsumsi susu dan olahannya atau dapat digantikan dengan mengkonsumsi ikan teri. Sebab, makanan tersebut mengandung kalsium terbanyak yang dibutuhkan untuk pendonor konvalesen.

Adapun setiap harinya pendonor plasma juga perlu menambahkan 400- 800 ml dari jumlah kebutuhan konsumsi manusia akan air. Karena plasma yang didonorkan sembilan puluh persennya ialah air. 

Widiati juga menganjurkan donor untuk membatasi penggunaan gula, garam, serta makanan lemak jenuh.

“Perhatian lain ialah mengkonsumsi zat besi, terutama pada pendonor wanita karena banyak yang mengalami anemia karena siklus menstruasi setiap bulannya,”  ungkapnya.

Sebelumnya, dilansir laman resmi Kementerian Kesehatan, Balitbangkes beker jasama dengan Lembaga Eijkman, Kemenristek/BRIN, Palang Merah Indonesia, Badan Pengawas Obat dan Makanan, serta seluruh rumah sakit yang terlibat dalam pemberian plasma konvalesen telah memulai penelitan uji klinis terapi itu pada 8 September lalu. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here