BERBAGI
Ilustrasi, pixabay.com

“Kuncinya adalah masyarakat, karena kalau kita sekadar konsentrasi di hilirnya saja tidak ada negara yang mampu mengatasi hanya dengan menambah kapasitas rumah sakit dan SDM,”

Serat.id – Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mendesak pemerintah menangani pandemi Covid-19 dengan memulai dari hulu baru ke hilir.  Intervensi hulu tersebut berupa peningkatan testing, peningkatan tracing, kepatuhan masyarakat akan protokol kesehatan.

“Kuncinya adalah masyarakat, karena kalau kita sekadar konsentrasi di hilirnya saja tidak ada negara yang mampu mengatasi hanya dengan menambah kapasitas rumah sakit dan SDM, karena keterbatasan itu selalu terjadi,” kata Ketua Tim Mitigasi, PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Adib Khumaidi dalam webinar “(Menghindari) Robohnya Layanan Kesehata Kita”, Selasa, 5 Januari 2021.

Baca juga : Klaster Keluarga Dominasi Penularan Covid-19 di Jateng

Ini Awal Penularan Covid-19 ke Tenaga Medis di Salatiga

Puluhan ASN Kota Semarang terinfeksi Covid-19, Ini Kemungkinan Penularannya

Adib mengatakan kini banyak RS mengeluhkan tingkat keterisian tempat tidur atau Bed Ocupanncy Rate (BOR) di ICU rumah sakit rujukan Covid 19 mulai penuh.  Ia mencontohkan rumah sakit rujukan Covid-19 di Surabaya pada 4 Januari 2020 pukul 18.00 penuh 100 persen.

“Bahkan penumpukan pasien hingga membuat pasien terpaksa ditempatkan di Instalasi Gawat Darurat,” kata Adib menambahkan.

Menurut Adib setiap ada kenaikan tinggi dari angka pasien Covid-19 tidak terlepas dari mobilitas masyarakat yang begitu tinggi. Sebagai contoh pada bulan Desember 2020 lalu angka kenaikan disebabkan karena adanya libur panjang dan pilkada. 

Dalam pendekatan segitiga epidemologi, hal yang tidak bisa diintervensi ialah virusnya (agen), sementara pemerintah bisa mengintervensi sektor lain seperti kesadaran personal dari pejamu (host) dari manusianya dengan melakukan pembatasan dengan melihat faktor komorbid, umur berisiko, dan intervensi terhadap lingkungan (enivronment) berupa fasilitas kesehatan maupun APD.

Tak kalah penting, Adib menekankan perlunya screening pasien Covid-19 menjadi hal yang penting dalam manajemen rumah sakit. Pasalnya screening berfungsi agar pasien tidak terkonsentrasi ditempatkan di rumah sakit di tipe a ataupun tipe b.

“ Screening ini harus menjadi suatu kesisteman sehingga  pasien bisa dipilih  untuk isolasi mandiri, masuk tempat karantina, masuk di rumah sakit tipe a, atau tipe b atau tipe c,” kata Adib menjelaskan

Sedangkan gagasan pemerintah daerah mendirikan rumah sakit lapangan, menurut Adib hal itu bukan perkara yang mudah. Karena diperlukan infrastruktur yang memadai, peralatan penunjang kesehatan dan sumber daya manusia.

Ketua Ikatan Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), Ede Surya Darmawan, mengatakan saat ini Puskesmas memiliki peran ganda selain melakukan tracing dan testing juga perlu mengedukasi masyarakat tentang pentingnya memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan.

“Selain itu perlu adanya kerjasama Puskesmas dengan klinik maupun rumah sakit,” kata Darmawan. Ia juga menyarankan pemerintah antar kabupaten dan kota dengan pemerintah provinsi saling bersinergi.

“Ini harus dipantau pada akhirnya bukan sekedar disurvei tapi harus dilakukan, kalau tidak kita akan sangat berat,” kata Darmawan menambahkan. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here