BERBAGI
Ilustrasi keberagaman kepercayaan (sumber: pixabay)
Ilustrasi keberagaman kepercayaan (sumber: pixabay)

Sebanyak 102 orang warga Padukuhan Jurug, Desa Argosari, Kecamatan Sedayu, Kabupaten Bantul, Yogykarata akhirnya mendukung pembangunan Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) Immanuel.

Serat.id – Polemik pembangunan Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) Immanuel di Sedayu, Kelurahan Argosari, Kecamatan Sedaya, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, menemui titik terang.

Kini pembangunan gereja itu didukungan oleh warga sekitar. Pemerintah Desa Argosari juga telah mengklarifikasi tanda tangan warga yang mendukung pendirian rumah ibadat itu pada 4 Januari 2021 di Balai Desa Argosari, Sedayu, Bantul.

“Warga yang memberikan dukungan sebanyak 102 orang. Mereka berasal dari RT 45, 46, 47, dan 48 Padukuhan Jurug, Desa Argosari,” kata staf pembela umum LBH Yogyakarta, Budi Hermawan kepada Serat.id, Kamis, 7 Januari 2021.

Baca juga : Gereja Gedangan, Simbol Sejarah Katolik di Kota Semarang

Polemik Pendirian Gereja di Tlogosari, Menanti Respon Pemkot Semarang

Polemik Penolakan Pendirian Gereja Baptis Indonesia di Tlogosari

Saat itu, kata dia, warga diminta memberi jawaban satu per satu terkait kebenaran atas dukungannya itu.

Dia menjelaskan, persyaratan khusus dalam pendirian rumah ibadat itu tercantum dalam Pasal 14 ayat 2 poin a dan b Peraturan Bersama Menteri Agama Dan Menteri Dalam Negeri Nomor  9 Tahun 2006, Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pedoman Pelaksanaan Tugas Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah dalam Pemeliharaan Kerukunan Umat Beragama, Pemberdayaan Forum Kerukunan Umat Beragama dan Pendirian Rumah Ibadat.

“Serta Pasal 3 ayat 2 poin a dan b Peraturan Bupati Bantul Nomor 113 Tahun 2017 tentang Perubahan Atas Peraturan Bupati Bantul Nomor 98 Tahun 2016 tentang Pedoman Pendirian Rumah Ibadat. Kedua aturan tersebut, menyebutkan 90 orang jemaat dan 60 orang dukungan warga sekitar yang disahkan lurah desa,” kata Budi.

Sementara itu, dalam forum pertemuan dengan agenda klarifikasi tanda tangan dukungan itu, Lurah Argosari Hidayaturachman mengatakan, dirinya tidak memiliki tujuan apa pun.

Dia menjelasakan, forum pertemuan itu murni keinginan dari Pemerintah Desa Argosari untuk mengetahui persetujuan warga terkait pendirian gereja itu.

“Perlu dibuktikan secara riil bukti yang sudah didapatkan oleh Pendeta Tigor Yunus Sitorus itu tidak direkayasa. Sebab di Padukuhan Jurug warganya tidak hanya 100 orang melainkan sebanyak 600 orang,” ujarnya.

Untuk mematuhi protokol kesehatan maka pertemuan dibagi menjadi dua sesi dengan jumlah 30 orang setiap sesi. Sesi pertama diikuti warga dari RT 47 dan RT 48, sedangkan sesi 2 diikuti warga RT 45 dan RT 46.

 “Dalam pertemuan itu warga dipanggil namanya dan ditanya apakah setuju atau tidak? Seluruh warga yang hadir menjawab dengan tegas, mendukung pendirian rumah ibadat GPdI Immanuel Sedayu,” jelas Budi Hermawan.

Lurah Argosari dan Kepala Padukuhan Jurug juga menandatangani surat pernyataan kebenaran atas bukti dukungan 60 orang sebagaimana diatur dalam Peraturan Bupati Bantul Nomor 113 Tahun 2017 tentang Perubahan Atas Peraturan Bupati Bantul Nomor 98 Tahun 2016 Tentang Pedoman Pendirian Rumah Ibadat.

Adapun Pendeta Tigor Yunus Sitorus saat dikonfirmasi mengatakan, silakan mengubungi pihak LBH Yogyakarta. Sebab, yang disampaikan LBH sama dengan pihak gereja. “Karena LBH yang selalu mendampingi,” katanya.

Adapun forum pertemuan klarifikasi tersebut juga dihadiri perangkat Pemerintah Desa Argosari, Kapanewon Sedayu, Polsek Sedayu, dan Koramil.

Sebelumya, tempat ibadah yang juga merupakan rumah pribadi Pendeta Tigor Yunus Sitorus, mendapat penolakan dari warga Gunung Bulu, Argosari pada 2019 silam, meski sudah mengantongi IMB.

“Tadinya sudah berdiri (tempat ibadah) dan sudah memiliki IMB, namun dicabut oleh Pemda Bantul pada 2019 karena ada warga yang menolak adanya gereja tersebut,” kata Budi.

Kemudian pihaknya mendapat surat kuasa dari Sitorus untuk meggugat Pemda Bantul atas pencabutan IMB tersebut.

“Di tengah jalan saat melakukan gugatan, pihak Pemerintah Gunung Bulu menawarkan jalan keluar untuk memindahkan gereja tersebut,” terangnya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here