BERBAGI
Ilustrasi, pixabay.com

Jurnalis juga harus mengormati sikap keluarga korban jika tidak bersedia diwawancara atau menunjukkan sikap enggan digali informasinya,”

Serat.id– Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia meminta para jurnalis dan media harus menghormati pengalaman traumatik terkait liputan musibah Sriwijaya Air SJ-182, yang jatuh Sabtu, 9 Januari 2021 pekan lalu. Jurnalis diminta tak membuat keluarga korban Sriwijaya Air dengan tidak mengajukan pertanyaan yang bisa membuatnya lebih trauma, termasuk dengan pertanyaan “Bagaimana perasaan Anda” dan semacamnya.

“Jurnalis juga harus mengormati sikap keluarga korban jika tidak bersedia diwawancara atau menunjukkan sikap enggan digali informasinya,” kata ketua AJI Indonesia, Abdul Manan, Senin, 11 Januari 2021.

Baca juga : Sriwijaya Air SJ 183 Jatuh, KNKT Kerahkan Tim Investigasi

Dua Wartawan di Brebes dikeroyok Warga Saat Liputan

Jaksa di Jatim Halangi Liputan Jurnalis

Manan menyatakan tugas jurnalis memang mencari informasi, namun hendaknya juga memperhatikan hak narasumber untuk dihormati perasaan traumatik atau sikap enggannya. “Sebagai bagian dari sikap penghormatan, media juga hendaknya tidak mengeskploitasi informasi, foto atau video yang bisa menimbulkan trauma lebih lanjut bagi keluarga dan publik,” kata Manan menambahkan.

AJI menilai seharusnya jurnalis dan media tetap memegang prinsip profesionalisme seperti diatur dalam pasal 2 Kode Etik Jurnalistik. Salah satu prinsip bekerja secara profesional adalah dengan menggunakan sumber informasi yang kredibel dan kompeten. Semangat untuk menggali informasi dari banyak sumber adalah hal yang baik untuk mencari kebenaran, namun pemilihan sumber tetap harus mempertimbangkan kredibilitas dan kompetensinya.

Selain itu Media sebaiknya lebih fokus menjalankan fungsi informatif dan kontrol sosial dan menghindari sisi yang relevansinya jauh dari peristiwa, apalagi kalau sampai mengesankan tidak menghormati pengalaman traumatik keluarga korban.

Termasuk di antaranya mengangkat soal gaji pilot atau awak penerbangan dan semacamnya mungkin bersifat informatif, tapi kurang tepat pada saat sekarang ini. Kecuali ada indikasi kuat dalam proses penyelidikan bahwa itu menjadi faktor signifikan dalam kecelakaan.

“Akan lebih bermanfaat jika jurnalis dan media fokus pada memberi update terbaru tentang peristiwa sehingga bisa membantu publik, termasuk keluarga, dalam bertindak,” kata Manan menjelaskan.

Menurut dia, jurnalis dan media juga perlu lebih mengungkap soal aspek tanggungjawab dari perusahaan dan otoritas penerbangan soal keamanan dan kalaikan pesawat, agar bencana serupa tak terulang di masa mendatang.

Jurnalis juga perlu tetap mengikuti protokol kesehatan dalam liputan kecelakaan Sriwijaya Air ini, dengan tetap memakai masker dan menjaga jarak fisik yang aman untuk menghindari penularan Covid-19. Selain soal kesehatan, yang juga tetap harus diperhatikan adalah aspek keselamatan dalam liputan.

Jurnalis yang bertugas dalam liputan pencarian korban dan puing pesawat di Kepulauan Seribu, hendaknya menggunakan alat keselamatan seperti baju pelampung. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here