BERBAGI
Parmi, pedagang tempe dan tahu di Pasar Peterongan tengah melayani pembeli. (Serat.id/ Praditya Wibby)

Para penjual dan produsen tahu-tempe mengeluhkan kenaikan harga kedelai. Dikhawatirkan jika harganya tak stabil membuat usaha mereka gulung tikar.

Serat.id – Kenaikan harga kedelai membuat sejumlah pedagang tempe dan tahu di Kota Semarang menjerit.

Salah satunya adalah Parmi, pedagang tempe dan tahu di Pasar Peterongan. Sebab, kenaikan harga itu berdampak pada kenaikan harga tahu-tempe.

Sebelum harga kedelai naik, kata dia, dirinya menjual tempe berbungkus daun pisang sebesar Rp 8.000 per sepuluh ikat (per ikat dua tempe), dan tahu dijual Rp 6.000 per bungkus (isi 10).

“Awal bulan ini terasa sekali penjualan menurun. Turun hampir 60 persen. Sebab, saya sekarang menjual tempe Rp 10 ribu per ikat dan tahu Rp 7.000 per bungkus,” kata Parmi yang berjualan sejak pukul 06.00 hingga 17.00 itu kepada Serat.id, Selasa, 12 Januari 2021.

Baca juga : Pengusaha Tahu Keluhkan Harga Kedelai Iimpor Melonjak 

Impor Asal China Mandeg, Jateng Terancam Resesi

Dompet Unik dari Limbah Tahu

Dia mengungkapkan, sebelum harga naik, mampu menjual 2.500 ikat tempe, namun kini hanya 1.500 ikat saja. 

“Yang paling banyak membeli tempe itu penjual penyetan. Sekarang banyak yang libur sehingga yang membeli hanya sedikit,” ungkapnya. 

Terpisah, Dewanti, produsen tempe di Tlogosari, Kota Semarang mengaku terpaksa mengurangi pembelian kedelai, agar produksi tempe miliknya tetap berjalan di tengah meroketnya harga bahan baku itu. 

“Harga kedelai naik produksi tempe terkena imbasnya, karena bahan baku semakin mahal dan penjualan itu saingannya banyak,” katanya. 

Menurutnya, pihaknya biasanya mampu memproduksi 60 kg sampai 65 kg, tetapi sekarang hanya 50 kg. 

“Kami juga tidak menaikan harga tempe dan kami juga berusaha agar tempe tetap laku, karena kadang juga sering tidak laku, jadinya rugi,” ujar Dewanti. 

Agar tidak merugi dia terpaksa mengurangi ukuran tempe. “Harga jual tempe tetap sama, ya cuma ukurannya lebih kecil karena pembeli kan maunya harganya tetap murah,” terangnya.

Dewanti menjelaskan, biasanya dirinya mampu mendapatkan omzet Rp 500 ribu hingga Rp 700 ribu per hari. Namun kini hanya mampu mengantongi tak lebih dari Rp 200 ribu per hari. 

Ia berharap, agar harga kedelai kembali normal. Ia khawatir jika harga tak kunjung stabil, usahanya yang telah berjalan lebih dari 5 tahun itu akan gulung tikar. 

“Kalau rugi ya pasti, tapi mau gimana lagi, usaha harus tetap jalan,” pungkasnya. (*)  

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here