Ilustrasi, pixabay.com

Dalam tubuh pasien sudah terbentuk sistem kekebalan tubuh atau antibodi.

Serat.id– Pakar imunologi Universitas Gadjah Mada (UGM), dr. Deshinta Putri Mulya, menyebut alasan penyintas atau orang yang sudah pernah terpapar Covid-19 tidak perlu divaksin. Ia menilai dalam tubuh pasien sudah terbentuk sistem kekebalan tubuh atau antibodi.

“Oleh karena itu, (penyintas) tidak masuk dalam kelompok prioriotas untuk diberikan vaksin,” kata Deshinta dilansir dalam laman resmi UGM, Jumat, 15 Januari 2021.

Deshinta, yang juga Kepala Divisi Alergi Imunologi Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) UGM, mengatakan saat ini orang sehat menjadi kelompok prioritas sebagai penerima vaksin. Namun ia memastikan sebelum divaksin, penerima vaksin ditapis terlebih dahulu berkaitan dengan kondisi tubuh seperti suhu tubuh, tekanan darah, serta riwayat penyakit.

Baca juga : 70 tenaga kesehatan Kota Semarang Tak Hadir Vaksinasi Perdana

Ini yang Dirasakan Ganjar setelah Disuntik Vaksin Covid-19

Epidemolog : Vaksin Bisa Gagal Jika Angka Reproduksi Dasar Tinggi

Ketika pemberian vaksin, lanjutnya, penerima vaksin harus dipastikan dalam kondisi sehat dan tidak demam. “Apabila penerima vaksin demam dengan suhu lebih dari atau sama dengan 37,5 derajat Celcius, maka vaksinasi ditunda hingga sembuh dan tidak terbukti terinfeksi Covid-19, serta dilakukan penapisan ulang pada kunjungan vaksin berikutnya,” kata Deshinta menjelaskan.

Sedangkan pada orang-orang dengan penyakit tertentu seperti TBC, hipertensi, diabetes, HIV dan lainnya dapat diberikan vaksin, namun harus dalam kondisi terkontrol. Misalnya, pada pasien TBC bisa diberikan vaksin minimal 2 minggu setelah mendapat obat anti tuberkolosis.

Pada pasien DM tipe 2 terkontrol dan HbA1C di bawah 58 mmol/mol atau 7,5 persen dapat diberikan vaksin. Untuk pasien dengan HIV jika angka CD4 kurang 200 atau tidak diketahui maka vaksinasi tidak diberikan.

“Vaksin Covid-19 tidak bisa diberikan untuk pasien autoimun, gagal ginjal, serta wanita hamil,” katanya.

Menurut dia, pemberian vaksin akan menimbulkan efek samping, tetapi tidak berat. Reaksi yang muncul biasanya bersifat lokal ataupun sistemik. Reaksi lokal yang umumnya muncul beberapa diantaranya kemerahan, bengkak, nyeri pada area suntikan, dan selulitis. Sedangkan reaksi sistemik antara lain demam, nyeri otot seluruh tubuh, nyeri sendi, badan lemah, serta sakit kepala.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, merencakan vaksinasi terhadap 181,5 juta orang yang akan digelar selama 15 bulan yang memerlukan 426 juta dosis vaksin.

Tahap pertama vaksinasi direncanakan akan diberikan kepada 1,48 juta tenaga kesehatan di seluruh Indonesia yang dimulai sejak Rabu, 13 Januari 2021 dan diperkirakan rampung pada akhir Februrari. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here