Ilustrasi,pixabay.com

Saat ini Indonesia baru bisa menemukan 221 WGS dari 244 sekuens genom SARS COV-2 yang diungah Indonesia ke GISAID. Provinsi yang paling banyak diambil WGS ialah DKI sebanyak 56, disusul Jawa Timur dan Jawa Barat masing masing 34. 

Serat.id – Ketua Konsorsium Riset dan Inovasi Covid 19 Kemenristek /BRIN, Prof Ali Ghufron Mukti menargetkan pada akhir tahun 2021 setidaknya terdapat 1.000 sekuens genom SARS CoV-2 yang dapat diunggah Indonesia ke Global Initiative for Sharing All Influenze Data (GISAID) atau bank data inflenza di dunia. 

Untuk mencapai hal tersebut kerja sama telah disusun antara Kemenristek/BRIN dan Kemenkes tentang Surveilans Genom Virus SARS COV-2 pada 8 Januari 2021. 

“Perlu dibentuk sebuah kerja sama. Jadi bentuknya pembagian wilayah. Jadi lembaga tertentu mengover daerah tertentu untuk mengidentifikasi mutasi yang terjadi,” ujarnya dalam webinar virtual yang digelar The Society of Indonesian Science Journalist bertajuk “Genomic Surveillance di Indonesia: Antara Tantangan dan Birokrasi”, Sabtu, 23 Januari 2021.

Baca juga : Epidemolog : Vaksin Bisa Gagal Jika Angka Reproduksi Dasar Tinggi

IDI Sarankan Pemerintah Tak Asal Keluarkan Vaksin Covid-19

871 Mantan Penyitas Covid-19 Telah Donorkan Plasma Konvalesen

Ali mengatakan, sebagai upaya memenuhi target tersebut pihaknya berupaya untuk dapat mendeteksi whole genome sequencing (WGS) minimal 0,01 persen dari jumlah kasus di setiap wilayah. Pasalnya saat ini Indonesia baru bisa menemukan 221 WGS dari keseluruhan 244 sekuens genom SARS COV-2 yang diungah Indonesia ke GISAID. Provinsi yang paling banyak diambil WGS ialah DKI sebanyak 56, disusul Jawa Timur dan Jawa Barat masing masing 34. 

Berdasarkan lembaga atau institusi yang menggunggah  WGS tersebut terbanyak ialah LBM Eijkman (57), Balitbangkes (50), ITD-Unair (29), LIPI (27), UGM (19), TFRIC-ITB/UNPAD/BPPPT (16), UNS (10), ITB (7), UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (5), Mikro FKUI (1).

Ali menjelaskan, pada dasarnya mutasi virus dapat berlangsung sekitar 1-2 mutasi setiap bulannya. Menurutnya, mutasi merupakan suatu perubahan pada materi genetik virus yang wajar. Sebab merupakan upaya virus untuk beradaptasi pada host (manusia)

Pakar biologi molekuler, Riza Arief Putranto, memaparkan kini banyak negara yang secara masif melacak genom virus Covid sebagai upaya untuk dapat mengendalikan virusnya pada setiap daerahnya. Pasalnya, kata Riza, setiap mutasi yang dilakukan virus diibaratkan seperti pisau bermata dua, ada yang memperlemah virusnya  ada dan ada yang memperlemah inangnya (manusia).

Untuk saat ini negara Islandia menempati peringkat tertinggi dalam GISAID yang berhasil mendeteksi 66 persen dari jumlah kasus terkonfirmasi di negaranya per 22 Januari.  Sementara untuk Indonesia saat ini masih 0,02 persen.  Jumlah tersebut dinilai masih kurang dalam minimum pendeteksian jumlah genom ialah 0,05 persen. 

Menurut Riza, dari 965.283 kasus yang terdeteksi di Indonesia per 22 Januari 2021, setidaknya Indonesia harus memiliki minimal pendeteksian 483 genom atau jika ingin mencapai target ideal dibutuhkan identifikasi 9.653 genom.

Riza menambahkan, saat ini dari 221 genom yang telah teridentifikasi di Indonesia, 2.398 diantaranya telah teridentifikasi melakukan mutasi sejak Maret 2020 hingga Januari 2021.  “Kasus di Indonesia kebanyakan 69 persennya varian D614G,” ujarnya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here