Positif Covid-19
Ilustrasi, pixabay.com

Selain di Depok, pasien Covid-19 yang meninggal tak mendapat layanan berasal di Tanggerang yang sempat mendapatkan penanganan pertama di Puskesmas Tanggerang Selatan.

Serat.id –  Koalisi Warga Lapor Covid-19 mendapati 34 laporan kasus pasien Covid-19 yang ditolak Rumah Sakit (RS) sejak Desember 2020 hingga 21 Januari 2021. Empat di antaranya pasien tersebut berakhir meninggal dunia.

“Di antaranya ada pasien yang meninggal asal Depok pada pada 12 Desember 2020, pasien mendapati keluhan sesak nafas dan dibawa ke RS untuk memeriksa CT Scan Thorax dan pemeriksaan lainnya,” kata Koordinator Koalisi Warga Lapor Covid-19, Irma Hidayana, dalam konferensi pers yang digelar secara daring Senin, 25 Januari 2021, siang tadi.

Baca juga : Rumah Sakit Daerah Kekurangan Tempat Tidur Khusus Pasien Covid-19

Pasien Covid-19 Berhak Tahu Nilai CT dalam Tes PCR

871 Mantan Penyitas Covid-19 Telah Donorkan Plasma Konvalesen

Irma menyebut saat masih di IGD, pasien itu sempat ditawari kamar namun harus membayar DP sebesar Rp1 juta. Hal itu membuktikan jika ada satu pasien yang meninggal dalam kondisi kegawatdaruratan di layanan primer, itu menandakan fasilitas sudah kolaps dan ini tidak hanya di Jabodetabek saja namun juga terjadi di Jawa Timur.

Menurut Irma, kondisi itu membuat keluarga pasien Covid-19 di depok memutuskan membawa pulangnya untuk isolasi mandiri di rumah, sebab kondisi fisik pasien dinilai masih mampu. Sayangnya seminggu kemudian kondisi pasien justru semakin memburuk  keluarga pasien dan beberapa warga sekitar telah mencoba menghubungi Satgas dan Puskesmas Depok untuk dapat menggunakan ambulans.

“Namun hingga satu jam ambulans tak kunjung datang,” kata Irma menyayangkan.

Meski keluarga pasien memutuskan untuk menggunakan taksi daring untuk mencari rumah sakit yang masih kosong. Namun sepuluh RS menolaknya dengan alasan penuh, sehingga pasien meninggal dunia di taksi daring tanpa sempat mendapatkan perawatan.  Hal ini menjadi persoalan  dalam penanganan sistem rumah sakit saat banyak warga yang mencari bantuan segera mendapatkan perawatan.

Selain di Depok pasien Covid-19 yang meninggal tak mendapat layanan berasal di Tanggerang yang sempat mendapatkan penanganan pertama di Puskesmas Tanggerang Selatan. Namun melihat kondisi pasien yang semakin memburuk, maka diperlukan untuk dirujuk ke ICU Rumah Sakit.

Namun rumah yang seharusnya menerima rujukan tak kunjung ditemukan sehingga pasien telah meninggal dunia sebelum mendapatkan ICU.

Hal itu dialami keluarga pasien yang ikut positif Covid-19 kemduian ikut meninggal juga. “Kemudian pasien yang ketiga meningga dunia, terjadi ketika satu keluarga yang positif, di mana dua pasien diantaranya dalam kondisi darurat untuk membutuhkan Rumah Sakit,” kata Irma menjelaskan.

Lapor Covid-19 pun bertindak dengan dibantu salah seorang dokter rumah sakit berhasil menemukan satu rumah sakit yang menampung pasien tersebut. Sayangnya, ketika di RS tersebut, ternyata ICUnya dalam kondisi penuh  sehingga pasien tidak terselamatkan meski sempat dirawat beberapa hari.

Tercatat pasien keempat yang meninggal dunia, sempat dirawat di salah satu RS, namun membutuhkan ventilator. Sedangkan ventilator sudah penuh, sehingga pasien memutuskan menggunakan dana pribadinya untuk menyewa ventilator yang bernilai jutaan. “Setelah beberapa waktu penanganan, pasien kemudian meninggal dunia,” katanya.

Peniliti CISDI, Yurdhina Meilissa, menilai sulit bagi pemerintah untuk secara cepat dapat membalikkan kondisi RS yang telah kolaps meski Kemenkes telah meminta RS mengalokasikan 40 persen kapasitasnya untuk pasien Covid-19.

“Hal tersebut karena pemerintah tidak memberikan instruksi yang jelas bagaimana mengatur lalu lintas pasien,” kata Yurdhina.

Menurut Yurdhina, pemerintah perlu juga segera menginformasikan tentang alur tindakan yang harus dilakukan kepada masyarakat sesuai dengan tingkat keparahanya ketika ada pederita Covid-19.

“Bagaimana pemerintah sebetulnya bisa melibatkan masyarakat sipil untuk mengisi gap dari data. Kita tau sistem rumah sakit tidak bisa (melacak) keterisian bed secara real time (berkala),” kata Yurdhina menjelaskan. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here