Ilustrasi, Abdul Arif/serat.id

Berjuang melawan virus Covid-19 tak mendapatkan bantuan, meski mengaku beruntung karena upah diberikan secara penuh oleh perusahaan.

Serat.id – Salah seorang buruh penyintas Covid-19 di kawasan industri di Kota Semarang, Jawa Tengah tak menyangka dirinya harus menjalani karantina di rumah isolasi lantaran tertular Covid-19.  Sebut saja Tono, pria berusia 40 tahun itu menceritakan awal mula dirinya tertular Covid-19. 

Ia mengetahui positif Covid-19 saat hendak mendaftar sebagai calon petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) menjelang pemungutan suara Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kota Semarang yang dihelat 9 Desember 2020 lalu. Saat itu ia ikut rapid test sebagai syarat calon petugas KPPS.

“Hasil non reaktif,” kata Tono saat dihubungi Serat.id, Minggu, 10 Januari 2021.

Tono tertular Covid-19 pada bulan November 2020. Ia yang awalnya ingin menambah penghasilan menjadi KPPS akhirnya batal karena harus menjalani isolasi mandiri di rumah, usai tes rapid menunjukkan hasil reaktif.

Sebagai buruh di salah satu perusahaan bidang pecah belah itu, ia lantas melaporkan kondisinya tersebut ke tempat kerja. Manajemen tempat kerjanya menganjurkan melakukan tes usap (Swab test)  ke Puskesmas dan hasilnya pun sama, positif Covid-19.

Tono sudah 18 tahun bekerja menjadi buruh pabrik di bidang ekspor impor ini. Ia tak menyangka jika sang istri juga dinyatakan positif Covid-19. Akhirnya mereka menjalani karantina di tempat isolasi di rumah dinas wali kota yang selama ini disediakan oleh pemerintah setempat.

“Saya masuk hari Senin, 9 November jam 12 siang. Kemudian saya di-swab yang kedua hasilnya masih positif. Lalu di-swab lagi yang ketiga hasilnya negatif. Hari Kamis, 12 November pagi sudah diperbolehkan pulang. Kalau istri saya hari Rabu 13 November sudah negatif dan boleh pulang duluan,” kata Tono.

Berita terkait : Bertahan di Tengah Pandemi

Fakta Lain Penerapan Protokol Kesehatan di Lingkungan Industri

Tertular Dulu Surat Edaran Kemudian

Kala Wabah Menggurita

Meski hasilnya telah negatif, namun ia diberikan surat keterangan untuk menjalani isolasi mandiri di rumah selama 10 hari. Bersyukur perusahaan mengizinkannya memperpanjang karantina untuk pemulihan total.

Saat tertular Covid-19, ia mengaku tak memiliki gejala yang berat dengan status orang tanpa gejala (OTG). Ia hanya merasakan imunitas menurun akibat kelelahan karena lembur bekerja.  

Bahkan, dirinya masih bisa berkegiatan sehingga tak perlu menjalani perawatan intensif di rumah sakit.  Tono yang berjuang melawan virus covid-19 mengaku tak mendapatkan bantuan Covid-19, meski ia beruntung karena upah diberikan secara penuh oleh perusahaan.

“Dari perusahaan tak ada pemberian bantuan Covid-19. Hanya gaji saya diberikan full selama saya isolasi. Bantuan pemerintah kota juga tidak ada, kelurahan tidak ada, bantuan yang ia terima dari kebijakan lingkungan RT yang memberikan bantuan lewat swadaya tetangga mengirim makanan,” ucapnya.

Infografis penyebaran Covid-19 di area industri Kota Semarang. (Abdul Arif/Serat.id)

Selama menjalani karantina, ia pun mengisi hari-harinya dengan berbagai kegiatan untuk menghalau rasa bosan. Tono banyak beribadah, olahraga, makan, dan tidur teratur. “Hobi saya memelihara ikan dan otak atik motor kalau ada yang rusak saya benerin. Pokoknya cari kesibukan,” katanya.

Meski dirinya sudah dinyatakan sembuh, hingga kini ia tak mengetahui secara pasti riwayat dirinya tertular Covid-19. Ia menduga dirinya tertular Covid-19 dari lingkungan tempat tinggalnya yakni di sekitar kawasan industri Tugu.

Ia meyakini di perusahaan tempatnya bekerja, saat itu, belum ditemukan laporan penderita Covid-19 selain dirinya, sehingga belum bisa dikatakan menjadi klaster.

Ketua Federasi Serikat Pekerja Independen (FSPI) Kota Semarang Waluyo, menyayangkan  sikap pemerintah Kota Semarang yang tak transparan terhadap sejumlah pabrik menjadi klaster penularan Covid-19.

Ia mengaku gusar ketika mengetahui informasi ada salah satu buruh yang diisolasi di rumah sakit Muhammadiyah Roemani Semarang. Kejadian itu pada September 2020 lalu, saat itu, dia segera minta bantuan Dinas Tenaga Kerja agar mengecek perusahaan mana saja yang telah menjadi sumber penularan Covid-19 bagi buruh di ibu kota Jawa Tengah itu.

“Pemerintah menyampaikan sudah mengecek nama perusahaan, tapi tak menyampaikan perusahaan mana,” kata Waluyo, 8 Januari 2021 lalu.  

Menurut Waluyo, bungkamnya Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang yang seharusnya menyampaikan klaster penularan di sektor industri menjadi ancaman bagi buruh di wilayah setempat.

Apa lagi saat itu sudah ada ratusan pekerja di sejumlah pabrik tertular Covid-19. “Satu pabrik mencapai ratusan, itu terjadi kawasan industri pelabuhan Tanjung Emas,” kata Waluyo.

Dalam catatannya terdapat klaster baru saat itu, di PT Grand Best Indonesia yang berada di kawasan industri pelabuhan Tanjung Emas Semarang. Dampaknya pekerja di satu gedung produksi mendapat pemutusan hubungan kerja (PHK), meski hak-hak normatif dipenuhi semua. Sedangkan yang kedua di salah satu industri pembangkit listrik yakni PT Indonesia Power, tak jauh dari kawasan industri yang sama. (*)

Tim Liputan  : Kontributor 8, Kontributor 3, Editor Edi Faisol, Ilustrasi dan infografis, Abdul Arif

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here