Ilustrasi, Abdul Arif/serat.id

Munculnya klaster di kawasan industri di Kota Semarang, pada bulan Juni 2020, saat seorang buruh di salah satu perusahaan kategori pasien dalam pengawasan (PDP) usai dirawat rumah sakit tak melakukan karantina.

Serat.id Ratusan buruh banyak berkerumun berada di luar gedung produksi di  kawasan industri pelabuhan Tanjung Emas Semarang. Mereka bebas bergerombol  saat istirahat makan siang, sekitar pukul 11.30  Rabu, 20 Januari 2021 lalu.

Mereka membeli dan menikmati makanan siang yang dijual para pedagang di depan halaman pabrik.  Meski dalam situasi pandemi , mayoritas buruh yang dominan perempuan itu asyik berbincang-bincang tanpa ada jaga jarak. Bahkan usai makan siang pun tampak maskernya tidak digunakan kembali, saat mengobrol dengan rekannya.

Demikian pula dengan para pedagang. Ada sekitar puluhan pedagang juga tak mengenakan masker ketika melayani pembeli. Mereka juga tidak menyediakan tempat cuci tangan maupun hand sanitizer.

Kerumunan semakin banyak ketika waktu menunjukkan tepat pada pukul 12.00, sejumlah buruh keluar dari gerbang yang tidak seluruhnya nampak menggunakan masker.

Peringatan pemakaian masker di kawasan industri Tanjung Emas Semarang Kota Semarang

Sedangkan para petugas keamanan pabrik itu tak memberi peringatan pada karyawan yang tidak menggunakan masker. Padahal jelas di tembok halaman luar pabrik terpampang tulisan “Area Ini Wajib Menggunakan Masker”. Di kawasan itu Tanjung Emas Semarang itu sebelumnya ada sejumlah perusahaan menjadi klaster  penularan Covid-19.

Berita terkait : Cerita Penyitas Covid-19 Yang Tak Tahu Asal Penularan

Berita terkait : Bertahan di Tengah Pandemi

Fakta Lain Penerapan Protokol Kesehatan di Lingkungan Industri

Tertular Dulu Surat Edaran Kemudian

Catatan serat.id menyebutkan munculnya klaster di kawasan industri di Kota Semarang, pada bulan Juni 2020, saat seorang buruh di salah satu perusahaan kategori pasien dalam pengawasan (PDP) usai dirawat rumah sakit tak melakukan karantina.

Saat itu diketahui peraturan protokol kesehatan di perusahaan minim sehingga tak dapat mencegah penularan virus. Penelusuran Satgas Covid-19, buruh tersebut tertular dari lingkungan tempat tinggalnya.

Buruh dari kawasan industri pelabuhan tersebut tetap masuk kerja sehingga menularkan kepada buruh lainnya di lingkungan perusahaan. Sejak itu, Dinas Kesehatan Kota Semarang menyebut jumlah buruh yang tertular pada bulan Juli mencapai 300 orang dan 99 persen merupakan orang tanpa gejala (OTG).

Keterangan: Juli 2020, lonjakan kasus klaster Covid-19 di lingkungan kawasan industri Semarang.

Buruh sebanyak itu sebagian melakukan isolasi mandiri dengan difasilitasi perusahaan masing-masing. Selain itu, ada juga yang melakukan isolasi mandiri di fasilitasi Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang yakni di Rumah Dinas Wali Kota Semarang.

Jumlah sebanyak itu rupanya menyumbang lonjakan angka kasus Covid-19 di Kota Semarang yang cukup signifikan selama periode Maret hingga Juli 2020.

Dari data statistik mingguan penambahan kasus Covid-19, Dinkes Kota Semarang mencatat jumlah penambahan kasus Covid-19 setelah ditemukan adanya klaster industri yakni mencapai 526 kasus terkonfirmasi Covid-19 pada minggu ke II bulan Juli 2020. Sedangkan jumlah kasus total pada Juli 2020 mencapai 1.946 orang.

Selepas temuan kasus tersebut, pihak perusahaan pun diminta berhenti beroperasi sementara dan meliburkan karyawannya. Hal ini dilakukan untuk proses sterilisasi di lingkungan perusahaan guna mencegah penyebaran Covid-19 di lingkungan industri semakin massif.

Kendati demikian, pihak perusahaan dan pemerintah saat itu memang tidak menyebutkan secara rinci nama perusahaan yang menjadi klaster. 

Berharap Transparan Dari Pemerintah  

Ketua Federasi Serikat Pekerja Kimia, Energi, Pertambangan, Minyak, Gas Bumi Dan Umum, (FSP KEP), Zaenudin menyebut dua perusahaan, yang berada di kawasan pelabuhan Tanjung Emas Kota Semarang, menjadi klaster baru penularan Covid-19.

Informasi itu diharapkan dapat disampaikan untuk kepentingan publik agar bisa mengantisipasi penularan Covid-19 yang saat ini masih menjadi pandemi. “Informasi yang kami dapat berada di Kawasan Industri Pelabuhan Semarang. Perusahaan yang menjadi klaster di bidang garmen dan energi, “ kata Zaenudin saat dihubungi Serat.id, akhir Juli lalu

Informasi yang ia terima, di salah satu perusahaan itu, terdapat ratusan karyawan terpapar Covid-19. Dia mendorong semua kalangan masyarakat turut serta menahan laju penyebaran Covid-19.

Ia pun berharap pemerintah tidak hanya melanjutkan kebijakan penerapan pembatasan kegiatan masyarakat (PKM) maupun pembatasan sosial berskala besar (PSBB), “Pemerintah juga harus transparan dan tidak menutupi ancaman penyebaran virus Covid-19 di kalangan buruh.”

Infografis penyebaran Covid-19 di area industri Kota Semarang. (Abdul Arif/Serat.id)

Sedangkan Ketua Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Kota Semarang, Nanang Setyono mengungkap, perusahaan lain yang menjadi klaster baru Covid-19 itu berlokasi di Kawasan Industri Wijaya Kusuma, Kecamatan Tugu, Kota Semarang. “Itu yang kami dengar,” kata Nanang.

Dia meminta, pemerintah maupun perusahaan yang diduga menjadi klaster baru Covid-19 itu transparan, membuka diri terkait data dan informasi.

Hal ini agar penyebaran Covid-19 dapat dipantau dan penanganannya juga dapat dilakukan secara maksimal. “Karena dampaknya tidak hanya pada buruh yang berinteraksi dengan buruh lain, tapi juga di luar buruh. Karena informasinya ditutupi,” kata Nanang saat dihubungi Serat.id belum lama ini.

Munculnya klaster industri yang terjadi di Kota Semarang turut menambah angka penularan hingga menyebar ke 16 kecamatan.

Berdasarkan data dari BPS tahun 2019 tercatat sebanyak 446 industri besar dan sedang ada di 16 kecamatan di Kota Semarang.

Rinciannya antara lain Gajah Mungkur sebanyak 2 industri, Candisari sebanyak 5 industri, Tembalang sebanyak 6 industri, Semarang Selatan sebanyak 7 industri, Gunungpati sebanyak 9 industri, Semarang Timur sebanyak 9 industri, Semarang Tengah sebanyak 9 industri, Gayamsari sebanyak 15 industri, Banyumanik sebanyak 18 industri, Mijen sebanyak 20 industri, Semarang Utara sebanyak 27 industri, Pedurungan sebanyak 35 industri, Semarang Barat sebanyak 38 indsutri, Tugu sebanyak 56 industri, Ngaliyan sebanyak 115 industri, dan Genuk sebanyak 141 industri.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang Abdul Hakam mengatakan hingga saat ini jumlah klaster industri atau perkantoran masih banyak setelah klaster rumah tangga.  “Sampai saat ini ada sejumlah 51 klaster dari industri dan perkantoran,” jelasnya kepada Serat.id, Senin, 25 Januari 2021.

Jumlah tersebut tersebar di 16 Kecamatan di Kota Semarang. Hakam mengungkapkan temuan awal dari adanya penularan pertama kali di kawasan industri saat mendapatkan laporan dari perusahaan.

Sedangkan perusahaan yang menjadi klaster penularan ternyata tidak menerapkan protokol kesehatan secara baik.

“Perilaku hidup bersih sehatnya tidak memadai. Yang paling besar karena mungkin pada saat istirahat, shalat, makan bareng, itu yang mungkin tak sesuai protokol kesehatan,” kata Hakam menambahkan.

Hakam juga meminta agar protokol kesehatan tidak disepelekan. Tak hanya saat bekerja, termasuk saat istirahat. “Ketika muncul seperti ini, mereka harus punya sikap. Ketika menemukan begitu banyak, harus tanggap, apa yang harus dilakukan,” katanya.

Ia enggan menyebutkan detail nama perusahaan tersebut lantaran pihak perusahaan ingin menjaga keamanan dan mencegah adanya sentimen negatif dari masyarakat.

Meksi begitu ia memastikan petugas Dinas Kesehatan langsung melakukan upaya tracing dan testing ketika mendapat laporan dari perusahaan. ”Tracing dan pemantauan dilakukan bersama Satgas Covid-19,” ujarnya.

Mereka pun memberikan pilihan tempat karantina bagi buruh perusahaan dinyatakan positif Covid-19 untuk melakukan isolasi di tempat karantina yang disediakan perusahaan. Selain itu juga bisa memanfaatkan isolasi mandiri di rumah dinas (Rumdin) Wali Kota Semarang.

Hakam menyebut saat ini kapasitas ruang isolasi di rumah sakit Kota Semarang sudah hampir penuh. Maka dari itu, ia menyarankan bagi pasien OTG agar melakukan isolasi mandiri di Rumdin Kota Semarang atau Asrama Haji.

Berdasarkan data dari https://siagacorona.semarangkota.go.id/ sejak Maret 2020 hingga 26 Januari 2021, total kasus terkonfirmasi Covid-19 secara kumulatif sebanyak 26.389 kasus.

Rinciannya kasus terkonfirmasi positif Covid-19 yang sedang dirawat sebanyak 936 orang diantaranya 710 orang dari Semarang dan sebanyak 226 orang dari luar Semarang.

Sedangkan kasus suspek sebanyak 382 orang, sembuh total sebanyak 23.354 orang diantaranya 18.004 orang Semarang dan sebanyak 5.350 orang luar Semarang. Terdiri kasus meninggal total sebanyak 2.099 orang di antaranya sebanyak 1.448 orang Semarang dan sebanyak 651 orang luar Semarang.

Selain itu, Dinkes Kota Semarang juga mencatat tingkat fatality rate di Kota Semarang per 23 Januari mencapai 8,3 persen yakni sejumlah 1.408 orang. “Angka tersebut kumulatif sampai dengan minggu ke III memasuki tahun 2021,” kata Hakam menjelaskan.

Berdasarkan data statistik mingguan penambahan kasus baru dari Dinkes Kota Semarang pada Juli 2020 sejak ditemukannya klaster perusahaan menunjukkan angka penularan yang melonjak tajam.

Dari minggu ke 25 sebanyak 317 orang, minggu ke 26 sebanyak 362 orang, minggu ke 27 sebanyak 436 orang dan minggu ke 28 sebanyak 526 orang. Baru setelah memasuki Agustus 2020 pada minggu ke 29 mengalami penurunan menjadi sebanyak 490 orang.

Awal pertama ditemukan Covid-19 di Kota Semarang pada bulan Maret minggu ke 11 sebanyak satu orang, yang kemudian mulai menunjukkan tren peningkatan memasuki Juni 2020 hingga ditemukannya klaster industri pada Juli 2020.

Jumlah itu terus meningkat hingga di akhir tahun tepatnya Desember 2020 pada minggu ke 51 memuncak jumlahnya terdapat 1.113 penderita Covid-19 di Kota Semarang. (*)

Tim Liputan  : Kontributor 8, Kontributor 3, Editor Edi Faisol, Ilustrasi dan infografis, Abdul Arif

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here