BERBAGI

Telaah Manuskrip dan Kearifan Lokal Negeri, Review Atas Buku Menolak Wabah

Wijanarto*

Sejarah wabah adalah sejarah panjang dalam peradaban umat manusia dan kerap terlupakan. Kedahsyatan wabah melumatkan populasi manusia.

Nestapa penyakit massal dalam peradaban manusia memaksa umat manusia meneroka sejarah tentang wabah. Kajian wabah dalam perspektif historis telah mendapatkan perhatian cukup banyak. Publikasi terakhir adalah studi Ravando Perang Melawan Influenza : Pandemi Flu Spanyol  di Indonesia Masa Kolonial 1918-1919 (2020), atau kajian Imas Emalia mengenai derajat kesehatan di Kota Cirebon kurun 1901-1940.

Sebelumnya studi Vivek Neelakantan yang menelaah kebijakan Kesehatan dan pembangunan secara umum pada era kekuasaan Soekarno. Belum lagi studi tentang penyakit pes di Jawa kurun tahun 1900an oleh Restu Gunawan, penyakit kelamin dan hubungannya dengan modernisasi perkotaan oleh John Ingleson.

Publikasi soal wabah marak dan menjadi pertimbangan kala sampai detik ini pandemik Covid-19 makin mrabah (baca marak) serta berpengaruh dalam perekonomian Nasional. Covid-19 memformulasikan tatanan kehidupan sosial masyarakat hingga kebijakan politik kenegaraan. Cengkeraman wabah Covid-19 mengharuskan kita untuk melakoni karantina sosial, berjarak secara fisik serta melewatkan kehidupan yang disebut Oliver Whang (National Geographic, 2020), sebagai qualia, tidak hidup dalam dunia fisik dan berada dalam kehidupan virtual yang makin eksklusif.

Baca juga : Cerita Penyitas Covid-19 Yang Tak Tahu Asal Penularan

Fakta Lain Penerapan Protokol Kesehatan di Lingkungan Industri

Tertular Dulu Surat Edaran Kemudian

Bertahan di Tengah Pandemi

Sejarah wabah adalah sejarah panjang dalam peradaban umat manusia dan kerap terlupakan. Kedahsyatan wabah melumatkan populasi manusia. Statistik menyebutkan angka hingga 50 juta saat wilayah Kekaisaran Byzantium tahun 588  dilanda wabah pes Justinian. Jumlah korban tewas yang dikutip dari Ravando Lie (2020), diperkirakan mencapai 21 juta jiwa hingga 50-100 juta jiwa. Flu Spanyol  menjadi pembunuh terbesar setelah wabah pes, malaria  dan kolera kala itu. Sementara angka kasus akibat wabah Covid 19 di Indonesia menembus angka 1.078.314 kasus (awal Februari 2021).

Sayangnya kajian soal wabah belum menyentuh khazanah kajian manuskrip lokal, mitologi, ritus adat sekaligus pengetahuan mitigasi lokal belum terhimpun menjadi publikasi utuh. Sepengetahuan penulis ada beberapa publikasi soal mitigasi local. Namun kajiannya lebih ke wabah akibat bencana alam. Publikasi yang dimaksud merupakan terbitan Kemendikbud, Merawat Ingatan : Bencana Alam dan Keatifan Lokal di Pulau Jawa (2018).

Teks-teks yang terangkum dalam manuskrip lokal dan mitologi yang terangkum dalam folklore Nusantara banyak menukilkan soal wabah dan pencegahannya. Contohnya Kidung Yogawedha mengajarkan bawang merah sebagai kerendahan hati manusia (berambang lembahing manah)  sekaligus pengobatan :

Punapa tak jampinipun

            Godhong pasrah ing Hyang Widi

Berambang lembahing manah

Temu temunahing ati

Adas uyah siring nala

Mung selawat puji dhikir

Babad Sengkala mewartakan wabah di Mataram (wilayah pesisir Surabaya sampai ke Cirebon) sebagaimana dikutip de Graaf dalam Puncak Kekuasaan Mataram :Politik Eskpansi Sultan Agung  (1983).  Mitologi Calon Arang menjelaskan bagaimana wabah juga berdampak bagi kegagalan panen serta kematian di desa Girah.

Pengetahuan tradisional yang termaktub dalam penyelenggaraan ritus, mantra dan pengobatan menjadi dokumentasi penting soal bagaimana respon masyarakat saat terjadi bencana wabah.

Meruwat Ingatan Tradisional dan Menyucikan Bumi

Berpijak dari keprihatinan wabah Covid 19 dan terlupakannya arsip pengetahuan tradisional, maka penerbitan 2 jilid buku Menolak Wabah : Suara-suara dari Manuskrip, Relief, Khazanah Rempah dan Ritual Nusantara (2020). Dua jilid buku tebal yang keseluruhannya 1816 halaman ini pada mulanya merupakan call paper dari perhelatan Borobudur Writer and Cultural Festival (BWCF) tahun 2020, yang mengambil tema besar Bhumisodhana : Ekologi dan Bencana Alam Refleksi Kebudayaan Nusantara. Panitia BWCF 2020 tampaknya menyadari, berawal dari wabah Covid 19, perlu mengangkat pandemik tersebut sebagai pemantik untuk membahas dari sisi yang luput yaitu pengetahuan tradisional, mitos dan manuksrip soal mitigasi menghadapi wabah sepanjang peradaban di Nusantara. Sekaligus menjadi pertanggungjawaban perhelatan BWCF untuk mengeksplorasi keunikan dan kekayaan berbagai pemikiran sastra, kesenian dan religi di Nusantara.Tahun – tahun sebelumnya beberapa tema yang dieksplorasim diantaranya “Memori dan Imajinasi Nusantara: Musyawarah Agung Penulis Cerita Silat dan Sejarah Nusantara” (tahun 2012), Arus Balik: Memori Rempah dan Bahari Nusantara”. (tahun 2013), “Ratu Adil: Kuasa & Pemberontakan di Nusantara”, BWCF tahun 2015 mengangkat tema “Gunung dan Mitologi di Nusantara”.  “Merayakan 200 Tahun Serat Centhini,”  (2016) serta BWCF keenam tahun 2017 bertemakan “Gandawyuha dan Pencarian Religiusitas Agama-agama di Nusantara”.

Hadirnya buku Menolak Wabah merupakan proses dari seleksi dan penelitian yang cukup ketat. Ini terbukti dari jumkah 84 penulis dari keragaman kajian, perbedaan wilayah tempat tinggal, sudut profesi, latar belakang keyakinan, cukup menyakinkan hasil kajian dari obyektivitas serta misi yang diemban Borobudur Writer and Cultural Festival. Tema yang senantiasa diusung dalam perhelatan menjadi jaminan kekhidmatan dalam menggali khazanah literasi wabah di Nusantara.

Pengantar Dirjen Kebudayaan, Hilmar Farid di buku ini menegaskan perlunya penahaman soal relasi manusia dengan lingkungan seperti diskriminasi yang terjadi dalam layanan kesehatan serta kemunculan pandemik ini, manusia berutang pada kerusakan lingkungan  sebagai konsekuensi upaya mengejar pertumbuhan ekonomi.

Tentang relasi manusia dengan lingkungan dijabarkan dengan apik melalui narasi Hudaya Kandahjaya yang meneroka arti dan makna Bhumisodhana dari teks-teks manuskrip Jawa Kuna seperti Negarakertagama. Bhumisodhana secara harfiah menyucikan bumi. Makna besar dari Bhumisodhana sebagai konsekuensi perbuatan manusia sebagai hukum sebab dan akibat (kamma-niyamma).

Kajian buku ini memang berujung dari local specific bagaimana wabah yang datang ditafsirkan melalui keragaman.  Kajian dan pandangan wabah yang dinukilkan dalam berbagai teks dan mitologi dijabarkan dalam buku ini. Salah satunya tulisan filolog Othman Fathurrohman mendedah manuskrip wabah dari Timur Tengah yang berpengaruh di Nusantara. Atau pembicaraan pageblug / wabah sekaligus mantra pengobatan dari peninggalan naskah lontar Merapi-Merbabu oleh Agung Kriswanto serta Abimardha Kurniawan. Tak kalah menariknya ulasan mantan jurnalis yang sekarang menjadi pandhita di Bali, Putu Setia (sekarang Pandhita Mpu Jaya Prema Ananda) tentang catatan lontar Bali mengenai wabah yang pernah terjadi di Bali.

Setidaknya keseluruhan buku ini merekonstrusksi ingatan tradisional masyarakat di Nusantara tidak asing dengan narasi wabah. Ingatan-ingatan itu tersimpan dalam manuskrip, folklore maupun catatan catatan arsip kolonial sebagai upaya menghadapi wabah sejenisnya. Ingatan-ingatan itulah yang melahirkan gagasan pencegahan melalui rekayasa pengobatan dan ritus adat masyarakat di Nusantara. Dalam konteks relasi manusia dengan ekologi alam inilah manifestasi penyucian bumi dan hubungan vertikal dinisbatkan melalui gelaran / helaran ritus, mantra dan pengobatan tradisional dan kebijakan peningkatan kualitas kesehatan. Cukup banyak artikel menawan yang mendedah kajian tersebut. Sejarawan Achmad Sunjayadi yang menelisik khaziat rempah-rempah sebagai penangkal wabah berdasarkan catatan perjalanan bangsa asing dari kurun abad XVI sampai abad XIX. Murni Widyastuti juga menggali jamu sebagai pengobatab penyakit. Selain teks-teks tradisional, peninggalan arsip kolonial juga menjadi penanda dalam melacak wabah. Satu contoh tulisan Jajang Nurjaman yang menyoal wabah di Batavia abad XVI  sampai abad XVIII melalui penelaahan arsip-arsip Kompeni / VOC atau artikel Irfanudin Wahid Marzuki mengenai wabah kolera dan hubungannya dengan mobilitas demografi di Minahasa masa kolonial.

Gagasan Besar dan Documenta Mitigasi

Pentingnya khazanah pengetahuan mitigasi soal wabah (baik bencana dan penyakit) merupakan latar belakang mengapa buku ini menjadi langka di tengah kondisi masyarakat dunia yang masih dalam cengkeraman wabah Covid 19. Literasi mitigasi yang merujuk pada khazanah tradisi masyarakat Nusantara nyaris terlupakan. Fenomena wedus gembel (awan panas) pada masyarakat lereng Merapi merupakan penanda mitigasi menghadapi letusan Merapi contohnya. Secara keilmuan (body knowledge) pelajaran mitigasi wabah melalui narasi tinggalan sejarah, pengetahuan tradisional, jejak arkeologis, manuskrip atau tindakan / perilaku melahirkan paradigma khas dalam orientasi keilmuan. Inilah gagasan besar yang terangkum dalam bunga rampai. Sejarah peradaban,  umat manusia mengalami kondis pageblug yang oleh sejarawan Yuval Noah Harari (2015) yang disebabkan karena kelaparan, wabah penyakit dan peperangan. Ketiganya menjadi penanda dalam peradaban umat manusia.

Sejumlah pertanyaan mengemuka . Adakah masyarakat Nusantara sekarang ini mengetahui  kearifan lokal (local wisdom) berupa pengetahuan lokal (indigenous knowledge) yang berkaitan sikap menghadapi pageblug berdasarkan riwayat ingatan yang ditularkan dari satu generasi pada generasi berikutnya. Selama ini terdapat anggapan bahwa pemantik pageblug yang berasal dari bencana disebabkan dari siklus alam (natural disaster) , tanpa disadari bahwa campur tangan manusia pun dapat memantik bencana. Seperti banjir tahunan yang meluluhlantakkan beberapa wilayah di wilayah Indonesia selalu yang dipersoalkan aliran sungai dan hujan . Adakah kita menelisik pengetahuan lokal masyarakat Nusantara yang berada di bantaran sungai  bagaimana penataan daerah di seputar aliran sungai serta filosofi masyarakat tentang budaya sungai sebagai ibu kebudayaan mereka ? Demikian halnya soal pageblug wabah adakah memiliki indigenous knowledge ? Paling tidak perilaku Bhumisodhana yang membawa konsekuensi kamma – niyama. (*)

*Pegiat sejarah, tinggal di Brebes.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here