BERBAGI
Ilustrasi, pixabay.com

Bahkan, 11,2 persen orang pernah menyebarkan berita atau informasi yang memiliki isu hoaks atau berita bohong. Kebanyakan mereka hanya meneruskan berita yang tersebar saja tanpa mengetahui apakah konten yang disebarkan termasuk hoaks atau tidaknya.

Serat.id– Hasil Survei Literasi Digital Nasional 2020 yang dirilis Kementerian Komunikasi dan Informatika bersama Siberkreasi dan Katadata menunjukkan kesadaran masyarakat Indonesia untuk mencari beritamasih minim. Survei itu menyebutkan  berita online hanya menduduki peringkat kelima dalam aktivitas berinternet.   

“Hanya 2,2 persen yang sering melakukan untuk mengakses berita online. Sisanya 15,4 persen cukup  sering; 33,7 persen kadang-kadang, 16,5 persen cukup jarang, dan 32 persen sama sekali tidak pernah mengakses platformm digital,” ujar Direktur Eksekutif Remotivi, Yovantra Arief dalam webinar daring yang digelar Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia bertajuk “Jelang Setahun Pandemi: Berhasilkah Media dan Plattform Mengatasi Infodemi?”, Senin, 8 Januari 2021.

Baca juga : Membuka Lapak Baca Jalanan Menarik Minat Literasi Masyarakat

Etnomatematika Literasi Budaya Penguatan Pendidikan Karakter*

Manfaatkan Tekhnologi Informasi Sebagai Media Pembelajaran Ilmu Sosial

Yovantra mengatakan survei tersebut juga menampilkan bahwa masyarakat Indonesia lebih mempercayai televisi, disusul media sosial dan situs web resmi pemerintah dibanding dari berita online..

“Dari responden yang mempercayai media sosial kebanyakan mempercayai sumber yang berasal dari whatssapp, 55,2 persen, disusul facebook 27 persen,”  kata  Yovantra Arief menambahkan.

Bahkan, 11,2 persen orang pernah menyebarkan berita atau informasi yang memiliki isu hoaks atau berita bohong. Kebanyakan mereka hanya meneruskan berita yang tersebar saja tanpa mengetahui apakah konten yang disebarkan termasuk hoaks atau tidaknya.

Selain itu, Yovantra juga menilai masih ada masalah dalam panel informasi cek fakta. Misalnya panel cek fakta yang disediakan Kominfo justru dapat menjadi pisau bermata dua. Sebab, Kominfo merupakan badan negara yang punya otoritas apakah sebuah informasi termasuk hoaks atau tidaknya.

Ia mencontohkan saat Kominfo pada tahun 2019 sedang menangani kampanye sawit itu baik, kemudian mengecap dan menyangkal pernyataan pegiat lingkungan bahwa sawit itu buruk bagi lingkungan sebagai hoaks.

Dasarnya ialah merujuk pernyataan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan. Tak hanya itu, Yovantra juga  menilai seharusnya pengecekan fakta yang dilakukan media tak harus merambah ke bagian lain seperti lelucon atau satir.

Menurut Yovantra tantangan saat bagi jurnalisme ialah masih rendahnya kepercayaan masyarakat terhadap jurnalisme. Dampaknya otoritas pers tak lagi jadi penentu agenda perbincangan publik.

Ia juga menilai untuk menciptakan jurnalisme yang baik memerlukan biaya yang mahal. Di sisi lain jurnalisme dihadapkan pada permasalahan serius baik dalam sektor produksi dan pemasaran produk. Sedangkan menciptakan jurnalisme yang baik idealnya ialah harus meluasnya literasi informasi dalam masyarakat.

“Supaya jurnalisme bisa berkembang kita memerlukan pasar orang-orang yang memerlukan jurnalisme, sehingga orang bisa menghargai informasi dan memahami informasi yang baik,” katanya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here