Genangan di kawasan Sekaran, Gunungpati, Kota Semarang, Senin petang 3, Desember 2018. dok. Whatshap

“Saban pagi dan sore makanan hasil olahanya harus diantar”

Serat.id – Banjir setinggi pusar orang dewasa di Jalan Kaligawe, tak mengurungkan niat Marimin dan Zulfa mengantar  makanan bagi tenaga kesehatan di Rumah Sakit Islam Sultan Agung Kota Semarang. Meski pasangan suami istri itu mengaku kesulitan melintasi jalur menuju rumah sakit yang terendam  air.

“Setiap harinya mendapatkan pesanan untuk tenaga kesehatan yang berjumlah ratusan di rumah sakit yang terdampak banjir tersebut,” kata Zulfa, Senin, 8 Februari 2021 siang tadi.

Baca juga : Ini cara PT KAI Atasi Jalur Lintas Utara yang Terendam Banjir

Banjir, Perjalanan Kereta Api di Wilayah Semarang Terganggu

Ini Alasan Pakar Sarankan Kota Semarang membangun Jaringan Irigasi

Selama banjir melanda tempat tinggalnya di Tambakrejo, Kelurahan Gayamsari, ia dan suaminya terpaksa mengantarkan makanan untuk tenaga kesehatan dengan berjalan kaki selama 3 jam menuju rumah sakit.

“Biasanya kalau naik motor cuma 10 menit dari rumah ke rumah sakit. Tapi waktu banjir gini pernah jalan kaki sampai 3 jam baru sampai rumah sakit,” kata Zulfa menambahkan.

Zulfa ditemani suaminya Marimin mengirimkan makanan ke rumah sakit  Islam Sultan Agung setiap hari sekali, jumlahnya mencapai 200 paket makanan yang diantar.  Beruntung, pada Senin tadi mereka dibantu truk milik TNI yang hari ini ia tumpangi.

Meski banjir, kali ini mereka tetap bertangungjawab mengirimkan pesanan tanpa menaikan harga. Hambatan saat musim hujan itu ia jalanan dengan ikhlas untuk membantu sesama dalam situasi bencana .

“Saya memang tidak naikkan harga. Karena sudah resiko dan saya ikhlas melakukannya dengan hati. Saya tak menghitung untung ruginya,”  katanya.

Marimin mengaku bersama sang istri sudah lima tahun memiliki usaha katering kecil-kecilan untuk kebutuhan makanan di rumah sakit tersebut. “Sudah 5 tahun mengantar makanan untuk Nakes,” kata Marimin.

Menurut dia, saban pagi dan sore makanan hasil olahanya harus diantar. “Karena susah cari makan. Pedagang pada tutup. Kadang pas ada acara rapat bisa diantar berkali-kali,” katanya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here