BERBAGI
Genangan di kawasan Sekaran, Gunungpati, Kota Semarang, Senin petang 3, Desember 2018. dok. Whatshap

Faktor dianggap sebagai penyebab dominan banjir di Kota Semarang adanya ekstraksi air tanah dan pembebanan bangunan

Serat.id – Peneliti tata kelola air dan kota, Bosman Batubara menyebut banjir yang terjadi di wilayah Kota semarang disebabkan oleh penurunan tanah yang terus terjadi. Hasil penelitian yang dilakukan oleh sejumlah ahli menyebutkan penurunan tanah di pesisir kota semarang sekitar 10 centimeter per tahun.

“Daerah Kaligawe itu, kalau menurut laporan penelitian lembaga-lembaga yang tergabung dalam satu konsorsium ‘Water Management Semarang’, ambles sekitar 10 centi meter per tahun,” kata Bosman, Selasa, 9 Februari 2021.

Baca juga : Ini Alasan Pakar Sarankan Kota Semarang membangun Jaringan Irigasi

Pemkot Semarang Tagih Hutang Pembangunan Embung

Ini Penyebab Rob di Sejumlah Kawasan, Khususnya Pantura

Menurut Bosman penurunan tanan menjadi salah satu hal yang penting dibahas dalam hubungannya dengan banjir. Fenomena alam itu dinilai mempertinggi risiko banjir di Kota Semarang.

Ia menyebut ada lima penyebab yang sudah diidentifikasi yaitu, ekstraksi air tanah dalam, pembebanan bangunan dan atau sturktur, aktivitas tektonik.

“Lalu kemudian kompaksi sedimen alluvial, pengerukan reguler untuk kebutuhan Pelabuhan Tanjung Emas dan ini membuat sedimen di bawah Semarang bergerak ke laut, sehingga bagian-bagian tertentu dari Kota Semarang ambles,” kata Bosman menjelaskan.

Sedangkan faktor dianggap sebagai penyebab dominan banjir di Kota Semarang adanya ekstraksi air tanah dan pembebanan bangunan.  

“Kalau mengikuti diskusi para peneliti mengenai penyebab amblesan tanah seperti yang saya sederhanakan di atas, maka salah satu penyebabnya adalah pembebanan bangunan atau struktur,” kata Bosman menambahkan.

Ia menilai infrastruktur raksasa seperti rencana Tol Tanggul Laut Semarang Demak (TTLSD) justru malah akan menambah beban di bagian utara Semarang.  Pembangunan itu dinilai akan memperparah amblesan tanah, dan membuat kota semakin berisiko direndam banjir.

Bosman merekomendasikan kepada pemerintah agar  melakukan hal yang sederhana dengan berfikir runtut, logis dan masuk akal dalam mengidentifikasi masalah dan merumuskan solusinya.

“Tentu saja dalam masa sekarang ini adalah memprioritaskan penanganan yang baik terhadap para korban banjir,” katanya.

Walikota Semarang, Hendrar Prihadi mengatakan upaya menangani banjir di wilayahnya dilakukan dengan pemaksimalan pompa penyedot pada sistem drainase.

“Dalam menghadapi hujan esktrem dengan siklus 50 tahunan yang melanda Semarang tersebut, daya tampung air pada drainase yang dibangun tidak mencukupi, sehingga butuh waktu dalam penanganan,” kata Hendar Prihadi. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here