Ilustrasi, pixabay.com

“Amblesan tanah menjadi isu yang sangat penting karena turut meningkatkan resiko Kota Semarang mengalami banjir”

Serat.id – Koalisi Pesisir Kendal-Semarang Demak menilai rencana pembangunan Tol Tanggul Laut Semarang-Demak (TTLSD) berpotensi menambah masalah yang berimbas penurunan tanah di Kota Semarang bagian utara. Dampak jangka panjangnya pembangunan tersebut justru membuat kawasan Kota Semarang bagian utara rentan banjir.

“Amblesan tanah menjadi isu yang sangat penting karena turut meningkatkan resiko Kota Semarang mengalami banjir. Kawasan yang kerap dilanda banjir seperti Kaligawe setiap tahunnya mengalami amblesan tanah sekitar 10 centi meter,” ujar perwakilan Koalisi Pesisir Kendal-Semarang-Demak, Cornel Gea,  dalam konferensi pers daring, Rabu, 10 Februari 2021.

Baca juga : Tol Semarang-Demak, Solusi atau Bencana?

Banjir di Kota Semarang, Peneliti : Akibat Penurunan Tanah

Terjangan Ombak Robohkan Belasan Rumah di Kampung Tambak Lorok

Cornel mengutip hasil penelitian yang telah dilakukan pada tahun 2019 dalam buku Maleh dadi Segoro: Krisis Sosial Ekologis di Kawasan Pesisir Semarang-Demak, terdapat lima faktor penyebab amblesan tanah di Kota Semarang yakni ekstraksi air tanah, pembebanan bangunan atau struktur, aktivitas tektonik, kompaksi sedimen alluvial di bawah Kota Semarang, serta pengerukan secara rutin di Pelabuhan Tanjung Emas yang menyebabkan bergeraknya sedimen di bawah Kota Semarang ke arah laut.

“Kondisi amblesan tanah berhulu pada hukum dan kebijakan yang dibuat oleh  pemerintah pusat maupun pemerintah daerah atau kota, berupa aturan Proyek Strategis Nasional, aturan tata ruang, aturan zonasi wilayah pesisir dan Omnibus Law,” kata Cornel menambahkan.

Selain itu, juga menduga  aktor negara bertindak merintangi atau membangkangi hukum atau obstruction of justice ketika perbuatan terstruktur dan tersistematis tersebut berimbas pada terhalangnya akses terhadap keadilan sosial-ekologis bagi masyarakat dan lingkungan di pesisir Kendal-Semarang-Demak.   

Ia mendesak pemerintah Pusat maupun daerah dapat meninjau kembali rencana proyek TTLSD. Selain itu masalah amblesan tanah harus segera diselesaikan dengan melihat konteks dan berbagai jenis penyebabnya.

“Warga Kota Semarang dan sekitarnya agar secara sadar mempelajari krisis sosial ekologis yang terjadi di wilayahnya sesuai dengan kemampuannya,” katanya.

Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Henny Warsilah, mengungkapkan pembangunan TTLSD kedepan justru rentan menghancurkan ekosistem hutan bakau yang imbasnya daerah pesisir Semarang menjadi rawan banjir.

“Jika tidak dillakukan pencegahan terhadap ekologi, maka Semarang riwayatnya akan tenggelam di kemudian hari,” ujar Henry.

Ia menduga pembangunan masif di Semarang wilayah atas yang digunakan untuk kantor pemerintahan, universitas, perumahan menyebabkan hilangnya banyak pohon yang berfungsi untuk resapan air. “Sehingga ketika hujan berlangsung air akan langsung mengalir ke Semarang bagian bawah,” kata Henry menjelaskan. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here