BERBAGI

Personil pasukan Belanda sedangmenjaga tengkorak korban Masa Bersiap 1945 di Balapoelang pada investigasi tahun 1947. Sumber foto : Koleksi Troopenmuseum.

Sebuah kisah masa bersiap di Pantura Barat

Serat.id – Sejarah kelam pada bangsa ini tetap menumbuhkan jahitan kebangsaan yang tak kelihatan rapi. Hal ini bukan hanya berlaku pada cerita 1965, namun cerita kelam itu berlaku pada saat bangsa ini dilanda euforia revolusi 1945.

Sepanjang tahun 1945 (pasca Proklamasi)  hingga tahun 1946, terjadi proses transformasi sosial tak berujung, dari suatu bangsa yang memerdekakan diri. Proses gejolak revolusi disertai sisi kelam yang menyisakan kisah terror, aksi balas dendam, penjarahan serta letupan sentimen rasial.

Masa Bersiap yang menunjuk pada periode sejarah kelam pasca revolusi kemerdekaan mengakibatkan jatuhnya korban bukan hanya golongan masyarakat Belanda, Indo Eropa, tapi juga mencakup peranakan Tionghoa, pangreh praja yang dianggap tidak nasionalistik serta sentimen terhadap etnis tertentu.

Yang menjadi pertanyaan secara periodesasi masa Bersiap terjadi pada bulan Agustus 1945 hingga tahun 1946 merupakan masa Bersiap satu satunya ?  Pada petikan harian Telegraph 8 November 1949 dengan judul berita “Vress voor Terreur in Indonesie” mengemukakan peristiwa Bersiap dari pandangan masyarakat Eropa sebagai perasaan kekhawatiran yang disebabkan ketidakpastian saat pengalihan kedaulatan, jaminan situasi ketenangan yang tidak terwujud. Betapapun masyarakat Eropa dan Indo Eropa merasakan masa Bersiap sebanyak 2 kali  dan berdampak bagi jatuh korban di kalangan golongan masyarakat Eropa :

Zijn orde en rust de eerste tijd na de souvereiniteitsoverdracht gegarandeerd, of krijgen we een tweede bersiap-periode? (Bersiap betekent: val aan” en onder de bersiap-periode wordt verstaan de eerste tijd na de Japanse capitulatie, toen duizenden Europeanen door tot hysterie opgezweepte Indonesiërs vermoord werden).

Jejak masa Bersiap saat kekalahan pemerintah Hindia Belanda oleh tentara pendudukan Jepang, dituliskan oleh Anton Lucas dalam kajiannya One Soul One Struggle Region and Revolution in Indonesia (1991), masa kekacauan awal sebelum meletusnya revolusi sosial Tiga Daerah, tepatnya jelang pendudukan Jepang 1942. Terjadi intimidasi, terror dan penjarahan di Pekalongan, Pemalang dan Tegal. Di samping sasaran lainnya seperti rumah gadai dan pabrik-pabrik di karesidenan Pekalongan.

Masa Bersiap jilid kedua terdapat beberapa pendapat yang melihat fase lamanya. Studi Remy Limpach, Kekerasan Ekstrem Belanda di Indonesia : Perang Kemerdekaan Indonesia 1945-1949 (2019), masa Bersiap terjadi pada akhir tahun 1945 hingga awal tahun 1946. Sedangkan Gert Oostinde, Serdadu Belanda di Indonesia 1945-1950 : Kesaksian Perang pada Sisi Sejarah yang Salah (2016) menyatakan ledakan Bersiap pada setengah tahun setelah Jepang memyerah.

Baca juga : Cerita Tragis Sekolah Tionghoa, Digeruduk Jadi Kamp Penahanan Kemudian

Memori Personal Ketionghoaan Dalam Buku

ELSA : Kebudayaan Saling Menjaga Agar Tidak Saling Menyakiti

Masa Bersiap secara harfiah disebut sebagai serangan (Telegraph, 8 November 1949) yang melindapkan tragedi kemanusiaan saat bangsa ini menyatakan kemerdekaan. Masa singkat ini ditandai dengan terror, kekacauan,  penyiksaan,  pembunuhan, penjarahan harta milik, hingga pemerkosaan. Oostinde (2016 :7) mneyebut angka 3.500 hingga 20.000 korban Masa Bersiap yang kebanyakan golongan masyarakat Belanda, imigran Eropa dan Indo Eropa. Sementara golongan peranakan Tionghoa angkanya hanya bisa ditebak, demikian tulis Oostinde. Angka-angka itu mungkin bisa didebat, termasuk jumlah peranakan Tionghoa yang menjadi korban periode kelam sejarah Indonesia. Termasuuk di wilayah pantura barat mencakup Pemalang, Tegal dan Brebes.

Kemungkinan angka yang bertambah pernah dilansir oleh NHC Handelsblad 31 Oktober 1989 dengan judul berita “Kinderen uit de Japanse besetting en de Bersiap” yang meralat jatuh korban masa Bersiap yang hanya kisaran seribuan. Fakta tidak terungkapnya berapa banyak korban warga peranakan Tionghoa saat periode Bersiap disebabkan beberapa faktor seperti tidak semua peristiwa kelam tersebut terdata serta investigasi atas peristiwa baru terlaksana tahun 1947 dan 1948 yang memungkinkan lokasi pembunuhan tak bisa diingat dan ketiga isu politik pendudukan pasca kekalahan Jepang menjadi prioritas Belanda.

Guna menguak soal warga peranakan Tionghoa yang menjadi korban masa Bersiap di pantura barat mencakup Pemalang, Tegal dan Brebes, artikel ini mencoba melihat dari beberapa pemberitan dari kliping media berbahasa Belanda yang mengekspose kejadian tahun 1945-1946. Beberapa studi lainnya terkait dengan peristiwa Bersiap adalah Revolusi Tiga Daerah yang meletus pasca kemerdekaan 1945.

Masa Suram Peranakan Tionghoa dan Peristiwa Tiga Daerah

Masyarakat pantura kulon menyebut periode Bersiap sebagai jaman cocolan . Istilah ini menunjuk pada bambu yang diruncingkan untuk menusuk tubuh. Pada masa Bersiap para pelaku menggunakan bamboo yang diruncingkan tersebut untuk mengeksekusi korban-korbannya. Masa Bersiap di wilayah pantura barat terjadi bersamaan dengan Peristiwa Tiga Daerah. Terdapat beberapa alasan mengapa warga peranakan Tionghoa menjadi korbannya. Pada titik ini hingga sekarang masalah identitas ketionghoaan dalam kewargaan Indonesia menjadi problem. Meminjam istilah Thung Ju Lan saat memberi pengantar buku Identitas Tionghoa Pasca Soeharto  Budaya. Politik dan Budaya karya Chang Yau Hoon (2012) menuliskan kalimat dengan gamblang,  …….keindonesiaan sejak awal didefinisikan dengan kepribumian daripada dengan kewarganegaraan, sehingga tidak seorang (Tionghoa) pun bisa menjadi benar-benar Indonesia tanpa terlebih dahulu menjadi anggota  kelompok etnis pribumi. Hatta, walaupun pada masa pemerintahan Abdurahman Wahid keran pengakuan dan kebebasan bagi warga Tionghoa Indonesia sudah diakui. Eksistensi kelompok ini walhasil menjadi alat politik dalam sejarah Indonesia.

Kajian Anton Lucas,  One Soul One Struggle Region and Revolution in Indonesia (1991), mengemukakan ada 4 faktor mengapa warga peranakan Tionghoa ikut menjadi korban Bersiap di pantura barat khususnya di Brebes. Seperti diketahui pemantik revolusi sosial di Brebes dipantik oleh kekacauan di kecamatan Tanjung. Pertama, beberapa sikap warga peranakan Tionghoa yang tidak mau mengibarkan bendera Merah Putih. Kedua, system pergundikan yang dilakukan orang Tionghoa yang menjadi perempuan pribumi menjadi istri tidak resmi (selir). Ketigam ketidakpercayaan masyarakat Tionghoa terhadap gerakan nasionalis setempat. Keempat, akumulasi pertentangan Tionghoa dengan kelompok Islam di sejumlah wilayah Kabupaten Brebes.

Namun menurut Anton Lucas berbeda di Pemalang, ketegangan rasial tidak seperti di Brebes. Alasannya kelompok peranakan Tionghoa berintegrasi dengan gerakan nasionalis lokal. Contohnya Laskar Pemuda Tionghoa yang berbeda dengan Pao An Tui serta adanya lembaga pendidikan Tiong Hoa Hwee Kwan (THHK) yang menyemai nasionalisme Indonesia.

Bukti-bukti pembunuhan atas warga Tionghoa pada periode Bersiap dalam kutipan beberapa media seperti kutipan Twentsch dagblad Tubantia en Enschedesche Courant tertanggal 30 Agustus 1947 dengan tajuk “Het Drama van Tiga Daerah” yang menyebut peristiwa sebagai babak berdarah dalam sejarah Republik. Data tersebut juga menyebutkan temuan tempat  serta jumlah sebagai berikut :

Tabel 1

Lokasi Pembunuhan Masa Bersiap di Pantura Barat

No.LokasiJumlah KorbanKeterangan
1.Jatibarang Lor Kabupaten Brebes20 orangTidak diketahui jenis kelamin dan dikuburkan massal dan golongan masyarakat
2.Slawi Kabupaten Tegal1000 orangDiantaranya golongan peranakan Tionghoa, Belanda, Eropa, Indo, etnis Maluku.
3.Balapulang Kabupaten Tegal16 orang dalam sumurKebanyakan merupakan keluarga Wijk FM seorang pengawas perkebunan tebu milik PG Balapulang
Sumber : Twentsch dagblad Tubantia en Enschedesche Courant tertanggal 30 Agustus 1947   dan Anton Lucas One Soul One Struggle Region and Revolution in Indonesia (1991).

Data-data tersebut masih sebatas yang tercatat. Seperti di  Bumiayu wilayah Brebes Selatan juga terjadi aksi pembantaian terhadap warga peranakan Tionghoa ysng dibunuh dan disiksa (Oostinde, 2016 : 212). 

Revolusi 1945 menggerakkan euforia semangat kemerdekaan melalui gerakan revolusion serta semangat antistatusquo, rasial dan dendam atas perlakuan pada periode sebelumnya. Termasuk di Tegal dan sekitaranya. Ingatan memoir Muhammad Nuh, Tjatatanku tentang Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 (1959), yang menggambarkan peristiwa pengeroyokan pegawai Pasar Pagi yang  bernama C. Hartian. Sebagaimana dilaporkan petugas Barisan Pelopor, Hartian yang bertugas menjual karcis  pasar Pagi Tegal, yang bersangkutan berteriak-teriak  di  muka  pasar  dan  mengatakan  bahwa  Bung  Karno  itu  orang  buangan serta  tidak  bisa  memerintah.  Pada  malam  harinya  pemuda  Barisan  Pelopor  mendatangi  rumahnya  di Kandang Menjangan (dekat pelabuhan Tegal). Hartian diminta keluar, dihajarlah oleh pemuda Barisan Pelopor karena dianggap menghina Presiden (Nuh,1959 :37).

Selama ini periode kelam tersebut terlupakan dalam historiografi Indonesia. Sebanding dengan apa yang dilakukan Belanda setelah mengambil kedaulatan RI melalui Agresi Militer 1 dan Agresi Militer 2 yang menciptakan kekerasan ektrem di wilayah Indonesia sepanjang tahun 1947-1949. Apa yang ditulis sejarawan Kevin W Fogg, Spirit Islam pada Masa Kemerdekaan (2020) tentang tudingan bahwa historiografi revolusi Indonesia selama ini berkisar pada kultus pribadi Soekarno dan prestise golongan militer, ada benarnya. Bagaimana revolusi kemerdekaan tidak hanya berkisah epik heroisme namun juga tragik kemanusiaan.

Pelaku dan Reaksi Masa Bersiap

Menjadi pertanyaan lebih jauh, siapa yang menggerakkan periode Bersiap dan bersamaan dengan Peristiwa Tiga Daerah itu ? Beberapa tudingan sebagaian besar mengarah pada apa yang disebut kolaborator Soekarno atau orang-orang Republik. Sementara Remy Lampach (2019) mengurai kemungkinan pelaku pada kelompok nasionalis muda (Pemuda), gerombolan kriminal yang beroperasi dibawah bendera perjuangan kemerdekaan.

Soal keterlibatan kelompok nasionalis muda dalam periode Bersiap diuraikan dalam studi Anton Lucas mengenai Angkatan Muda Republik Indonesia (AMRI) serta ketokohan Sakyani atau Kutil yang beroleh julukan Robbespierenya Pantura. Harian Algemeen Indisch Dagblad 19 November 1947 mewartakan penangkapan Atma bin Amin tokoh Angkatan Pemuda Imdonesia (API) di Cimahi atas pembunuhan Wilmink. Peristiwa Tiga Daerah telah menggerakkan sejumlah badan-badan perjuangan pemuda seperti  Barisan Pelopor, Angkatan Muda Kereta Api (AMKA), AMRI, Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo) Tegal, Badan Pemberontak Republik Indonesia (BPRI) Tegal untuk larut dalam gelombang euforia nasionalistik.

Tentang gerombolan kriminal telah disinggung dalam buku Robert Bridson Cribb, Para Jago dan Kaum Revolusioner Jakarta 1945-1949 (2010) yang menelisik kelaskaran yang muncul di perbatasan Jakarta dan beranggotakan berandalan serta menguasai perniagaan gelap berupa beras sekaligus petualangan kriminal memanfaatkan transisi kekuasaan. Di Tegal, terdapat laskar Banteng Loreng. Laskar ini diketahui beranggotakan para lenggaong (bromocorah). Selain bergerilya mereka melakukan penjarahan terhadap harta milik orang-orang Belanda / Indo Eropa. Bahkan sebuah laporan menyebutkan sejumlah komunitas peranakan Tionghoa di beberapa wilayah Jawa Tengah menyediakan sejumlah uang untuk pengganti biaya keamanan (Het Dagblad 11 Agustus 1947).

Reaksi yang menimpa atas sejumlah warga peranakan Tionghoa di wilayah Indonesia saat periode Bersiap, mengakibatkan komunitas Tionghoa mendirikan semacam kelaskaran bernama Pao An Tui. Pembentukan badan kelaskaran tersebut dari studi doktoral Taomo Zhou, Revolusi, Diplomasi, Diaspora : Indonesia Tiongkok dan Etnik Tionghoa 1945-1967 (2019) mengurai keterkaitan pembentukan Pao An Tui dengan kebijakan partai Kuo Min Tang (Cina Nasionalis). Organisasi yang tadinya sebatas kayak penjaga ronda untuk melindungi warga dan asset milik warga Tionghoa di Indonesia, menjadikan gerakan politis saat pemerintah Belanda kembali mneguasai wilayah yang disebut Netherland East Indies. Pao An Tui juga berperan dalam upaya membalasdendam korban warga peranakan Tionghoa dalam periode Bersiap.

Reaksi yang terjadi pasca berlalunya periode Bersiap justru menimbulkan kekerasan kembali saat kehadiran serdadu Belanda ke wilayah Indonesia yang dimulai pada awal September 1945 bersamaan dengan bala tantara Sekutu. Terlebih pada periode 1947-1949. Agresi Militer 1 (1947) dan 2 (1948) merupakan jalan masuk munculnya kekerasan ektremis pasca periode Bersiap. Laporan yang tercatat Verslag van Bevindingen van de Recomba voor Midden Java over de maand December 1947, (Arsip NEFIS ARA). Pasukan Belanda melakukan operasi pembersihan serta blokade di beberapa desa yang berdekatan dengan Balapulang seperti desa Kesuben, Balaraden, Kambangan dan Lebakgowak pada bulan September 1947. Akibatnya 18 orang penduduk dari wilayah desa tersebut dieksekusi.

Memasuki tahun 1948, kekerasan ektremis kembali terjadi di wilayah Tegal.. Dari dokumen laporan (Verslag) “Kedjadian-kedjadian Sesudahnja tanggal 17 Djanuari 1948 di Kawedanan Tegal”, Arsip Kementerian Penerangan Yogyakarta 1948, menyampaikan data kekerasan di beberapa wilayah Tegal.

Pasukan Belanda dengan kekuatan satu seksi pasukan melakukan penyerbuan ke desa Tarub, Mindaka, Karangmangu dan Kleca. Akibat penyerbuan itu jatuh korban : 1 orang tewas, 1 orang terluka parah serta 38 rumah dibakar, tepatnya di Kleca. Kejadian berikutnya 24 Januari 1948, di dukuh Bulu desa Kemuning pasukan Belanda merangsek ke perkampungan serta membakar 2 rumah, 9 orang ditangkap dan 7 orang terbunuh. Laporan juga mencatat, pasukan Belanda menyasar desa Bulakbanteng Hardjosari dan Jatibagor. Di desa tersebut, pasukan Belanda menangkap 6 orang serta merampas Oeang Repoeblik Indonesia (ORI) serta merobeknya.

Pada satu sisi, Belanda juga berkeinginan menyelesaikan pelanggaran kemanusiaan pada periode Bersiap. Kutipan salah satu media Het Dagblad uitgave van de Nederlandsche Dagbladpers te Batavia , 16 Juli 1948 mengenai penangkapan 10 orang yang diduga terlibat pembunuhan warga Tionghoa di Bumiayu untuk diproses melalui pengadilan. Termasuk Pengadilan Negeri Tegal melakukan proses pengadilan atas  mereka yang terlibat pembunuhan van Ronkes beserta anaknya pada masa Bersiap.

Tidak diketahui vonis hukuman yang diputuskan Pengadilan Negeri (Landraad) Tegal terhadap kejahatan kemanusiaan. Namun Belanda telah membalas atas sejarah kelam pada masa Bersiap. Yang jelas kawasan pantura Barat pernah menjadi persaksian narasi kelam dalam sejarah panjang Republik ini. Setidaknya untuk tidak menjadikan kita lupa. Paling tidak seperti dinukilkan sejarawan Abdul Wahid : Berdamai dengan Masa Lalu yang Kelam. (*) WIJANARTO BREBES.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here