Ilustrasi, pixabay.com

Berdasarkan tangkapan layar pada Rabu, 10 Fabruari 2021, Prof Bambang memposting poster upacara penganugerahan gelar doktor kehormatan kepada mantan narapidana korupsi, Nurdin Halid.

Serat.id – Profesor Fakultas Ilmu Keolahragaan, Univesitas negeri Semarang Bambang Budi Raharjo, dikeluarkan dari grup Majelis Profesor Univesitas kampusnya oleh Rektor Fathur Rokhman. Hal tersebut diduga dilakukan terkait dengan kritik Profesor Bambang, di grup whatsapp (WA), atas penganugerahan doktor kehormatan atau doctor honoris causa bidang teknologi olahraga kepada Nurdin Halid pada Kamis, 11 Februari lalu.

“Saya telah dikeluarkan dari grup Majelis Profesor, pada Kamis, 11 Februari lalu. Hanya bertanya saja sudah dikeluarkan dari grup Whatsapp,” kata prof Bambang dikonfirmasi Serat.id, Minggu, 14 Februari 2021.

Bambang mengakui mempertanyakan pemberian anugerah doctor causa untuk Nurdin Halid mengingat rekam jejak masa lalu penerima. “Mahasiswa sudah melakukan protes. Di luar, orang banyak membincangkan keganjilan penganugerahan ini. Salahkah saya mempertanyakan hal ini?,” kata Bambang menambahkan.

Baca juga : Ini Alasan Dosen Unnes Menantang Debat Terbuka Rektornya

Ini Alasan Dosen Unnes Menantang Debat Terbuka Rektornya

Anif Rida : “Mungkin Prof Fathur yang Menulis Makalah Itu”

Berdasarkan tangkapan layar pada Rabu, 10 Fabruari 2021, Prof Bambang memposting poster upacara penganugerahan gelar doktor kehormatan kepada mantan narapidana korupsi, Nurdin Halid.

Postingan itu disertai teks yang berbunyi, “Anggota Majelis yth, sudah layakkah orang ini mendapatkan gelar doctor honoris causa?”.

Merasa tak mendapatkan jawaban atas pertanyaan itu, ia kembali memposting unggahan salah seorang alumnus Unnes, Achiar M. Permana, di Facebook.  Unggahan tersebut berupa dialog satire yang menyejajarkan Habib Luthfi bin Ali bin Yahya dengan Nurdin Halid karena sama-sama menerima anugerah tersebut dari Unnes.

Bambang mengaku tak mempermasalahkan dirinya dikeluarkan dari grup tersebut. “Biarkan sajalah, mengeluarkan dari grup adalah kewenangan penguasa,” kata Bambang menjelaskan.

Kejadian serupa juga pernah terjadi pada Mei 2020, Rektor Fathur Rokhman juga mengeluarkan profesor Tri Marhaeni Pudji Astuti dan Hartono karena keduanya memposting berita tentang adanya operasi tangkap tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap pejabat Universitas Negeri Jakarta (UNJ) di grup WA Majelis Profesor.  Saat itu itu Tri Marhaeni menulis, “Semoga tidak terjadi di kampus kita”.

Serat.id mencoba mengkonfirmasi terkait sikap anti kritik Unnes ke akademisinya itu. Namun belum ada tanggapan, termasuk Humas Unnes, Muhamad Burhanudin mengatakan belum mengetahui hal tersebut. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here