Ilustrasi, pixabay.com

“Karena berbahan plastik, kalau dipanasi dia meleleh, disitulah prinsip daur ulang dia dipanaskan dan kemudian diproses menjadi bentuk dasarnya,”

Serat.id – Limbah masker sekali pakai dianggap mencemari bisa lingkungan, meski pada dasarnya  dapat didaur ulang. Bahan masker tersebut terbuat dari polipropilendengan titik leleh 163 derajat Celcius.

“Karena berbahan plastik, kalau dipanasi dia meleleh, disitulah prinsip daur ulang dia dipanaskan dan kemudian diproses menjadi bentuk dasarnya,” ujar  peneliti Loka Penelitian Teknologi Bersih (LPTB), Akbar Hanif Dawam Abdullah saat webinar “Pengelolaan Limbah Masker di Masa Pandemi Covid-19: Jangan Buang Maskermu,” Selasa, 16 Februari 2021.

Baca juga : Ganjar Atur Warga Pakai Masker Lewat Pergub

KPK Sebut Limbah Medis Penanganan Covid-19 di Daerah Menumpuk

Rencana Pembangunan PLTSa di Semarang dan Surakarta, Ini Pendapat Walhi

Dawan menjelaskan, uji coba sterillisasi limbah masker sekali pakai yang telah dikumpulkan dengan mencelupkan larutan hipoklorit yang mudah didapatkan di dalam kandungan deterjen pemutih, setelahnya dikeringkan dan dipotong kecil-kecil.

“Selanjutnya proses ekstrusi menggunakan mesin ekstruder sehingga dapat dihasilkan bijih plastik daur ulang.  Bijih plastik tersebut berguna untuk dicetak untuk selanjutnya dihasilkan produk plastik daur ulang,” kata Akbar menambahkan.

Menurut dia implementasi daur ulang limbah masker sekali pakai tersebut ke masyarakat tak  sulit,  sebab tekhnologi yang digunakan mudah dan murah. Terlebih, industri dan UKM daur ulang plastik di Indonesia cukup banyak sehingga dapat dihasilkan produk plastik yang bermanfaat.

Peneliti Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI),

Sunit Hendrana, mengatakan metode limbah medis lain dapat dilakukan dengan rekristalisasi. Prinsip dasar metode tersebut ialah sifat kelaturannya, sebab plastik larut dalam pelarut tertentu, sehingga dapat dimanipulasi dan dijadikan kristal dalam bentuk larutan untuk dibuat serbuk.

“Proses daur ulang tersebut dimulai dengan melarutkan limbah medis, setelahnya dicampurkan dengan anti pelarut,” kata Sunit.

Hasil dari proses itu, kata Sunit, berupa pengendapan yang selanjutnya dipisahkan untuk didapatkan serbuk plastiknya. Keungulan dari proses itu ialah pelarut dan anti pelarut dapat dipisahkan untuk dapat digunakan kembali.

“Sehingga kita akan memberikan  hampir zero waste (bebas sampah), karena hampir semua barang (limbah medis) bisa didaur ulang lagi, sementara serbuk yang dihasilkan dapat digunakan masker karena kemurniannya tinggi,”  kata Sunit menjelaskan. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here