BERBAGI
Ilustrasi, pixabay.com

“Sejak kita terdampak Covid pada awal Maret sampai September 2020, penduduk miskin kita mengalami kenaikan dari sisi jumlah maupun persentase,”

Serat.id – Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah melaporkan jumlah penduduk miskin di Jawa Tengah selama pandemi Covid-19 bertambah. Hal itu dibuktikan data hingga bulan September 2020 menunjukkan jumlah warga miskin  4,12 juta orang. Jumlah tersebut naik sebesar 11,84 persen dibandingkan bulan Maret 2020 angka kenaikannya sebesar 11,4 persen.

“Sejak kita terdampak Covid pada awal Maret sampai September 2020, penduduk miskin kita mengalami kenaikan dari sisi jumlah maupun persentase,” ujar Kepala BPS Jateng, Sentot Bangun Widoyono, dalam konferensi pers daring yang digelar Senin, 15 Januari 2021.

Baca juga : Minim Perlindungan dan Miskin

Ini Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Kesejahteraan Anak

Dana Terhimpun Dompet Dhuafa Mencapai Rp 96 Miliar

Sentot mengatakan, tingkat kemiskinan di perdesaan sebesar masih lebih tinggi mencapai 13,20 persen dibandingkan kemiskinan yang terjadi di perkotaan yang mencapai 10,57 persen. Meski begitu kenaikan persentase kemiskinan jika dibandingkan bulan Maret 2020, jauh lebih cepat terjadi di perkotaan dengan kenaikan 0,48 persen, dibandingkan di perdesaan yang kenaikannya sebesar 0,40 persen.

Sedangkan sumbangan garis kemiskinan terbesar berada pada sektor makanan senilai 74,46 persen dibandingkan sektor non makanan sebesar 25,54 persen. Sektor pengeluaran terbesar pada makanan ialah beras, rokok kretek filter, telur ayam ras, dan gula pasir. Sementara untuk sektor pengeluaran untuk komoditas bukan makanan ialah perumahan, bensin, listrik, pendidikan.

Ia juga melaporkan kenaikan indeks kedalaman kemiskinan (P1) menjadi 1,835 persen dibandingkan Maret 2020 angka kenaikannya sebesar 1,720 persen. Tak hanya itu, Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) juga naik menjadi 0,431 persen dibandingkan Maret 2020 angka kenaikannya sebesar 0,342 persen.

Ia menjelaskan, faktor faktor terkait kemiskinan disebabkan adanya kontraksi ekonomi sebesar -3,79 persen pada triwulan III jika dibandingkan triwulan III 2019, disusul kontraksi pengeluaran konsumsi rumah tangga sebesar -1,89 persen pada triwulan III jika dibandingkan triwulan I 2020 yang naik sebesar 3,46 persen, serta kenaikan inflasi sebesar 0,18 persen.

Sedangkan tingkat pengangguran terbuka (TPT) naik sebesar 2,04 persen sehingga total menjadi 6,48 persen pada Agustus 2020 dibanding Agustus 2019. “Prosentase penduduk setengah pengangur pada Agustus 2020 naik 5,36 persen sehingga total menjadi 8,60 persen dibandingkan Agustus 2019, serta 3,97 juta penduduk usia tenaga kerja terdampak Covid-19,” kata Sentot menjelaskan.

Tak hanya kemiskinan, BPS jateng juga menyebut nilai tukar petani mengalami penurunan pada bulan September 2020 sebesar 101,82 persen jika dibandingkan Maret 2020 dan rata-rata pengeluaran per kapita pada Desil 1 mengalami penurunan sebesar 0,69 persen, sementara pada Desil 2 mengalami sedikit peningkatan sebesar 0,69 persen.

“Bantuan sosial pemerintah baik dari Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah sangat membantu penduduk pada masa pandemi, terutama penduduk pada lapisan bawah, sehingga dapat mengerem kenaikan angka kemiskinan,” katanya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here