Upaya PANDI (PengelolaNama Domain Internet Indonesia) mendaftarkan aksara Jawa menjadi nama domain internet ke the Internet Corporation for Assigned Names and Number (ICAAN() masih belum berhasil. Perlu upaya serius untuk memenuhi salah satu syaratnya, yaitu ada bukti aksara Jawa masih didukung oleh komunitasnya secara luas, termasuk digunakan dalam dunia digital dan sekedar dekorasi belaka.

Tio Cahya Sadewa, mentor aksara Jawa saat memberikan pelajaran kepada tiga orang muridnya di nDalem Djojoyodipuran, Yogyakarta, (4/2). Kelas belajar aksara Jawa ini diadakan oleh Jawacana, komunitas yang menggeluti budaya Jawa bekerja sama dengan Sanggar Kinanti Sekar. (Bambang Muryanto/serat.id)

Hari telah senja saat mendung mulai menjatuhkan butiran air mengguyur Yogyakarta pada Kamis 4 Februari 2021 lalu.  Hujan pun turun deras, namun tak menyurutkan semangat empat pemuda dan pemudi belajar aksara Jawa di Ndalem Djojodipuran, sebuah bekas rumah milik bangsawan yang kini menjadi kantor Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB).

“Sore ini kita belajar menulis pasangan, ada 20 pasangan yang berfungsi untuk mematikan konsonan yang berbeda-beda,” ujar Tio Cahya Sadewa, kepada tiga muridnya saat memulai pelajaran.

Berita terkait : Segajabung Membawa Aksara Jawa Ke Dunia Digital

Tio Cahya Sadewa merupakan mentor dari ketiga muridnya masing-masing Chrsitina Alexandra Duque Martinez dari Ekuador, Monica Kusumaningrum dan Sintha Wijayanti. Mereka  mengelilingi sebuah meja marmer kuno berbentuk oval di pojok pendapa ndalem yang luas itu.

Mereka belajar aksara Jawa (carakan) terdiri dari 20 karakter utama ; ha, na, ca, ra, ka, da, ta, sa, wa, la, pa, dha, ja, ya, nya, ma, ga, ba, tha, nga.

Tio memberi contoh cara menulis pasangan itu satu per satu dan menjelaskan tiap fungsinya. Sedangkan Christina yang mengaku suka dengan bentuk aksara Jawa mengikutinya dengan menulis setiap karakter pasangan secara perlahan di bukunya.

Sang mentor meminta mereka menulis beberapa kalimat yang unsur katanya berakhir dengan konsonan, termasuk nama mereka sendiri. Ada kehangatan dalam kelompok kecil ini. Sambil belajar, sesekali mereka bersandau-gurau atau mencuri pandang kepada beberapa perempuan muda yang sedang berlatih tari Jawa di pendapa ndalem yang bersih ini.

Sebersit harapan soal kelestarian budaya Jawa muncul ketika melihat anak-anak muda mau belajar aksara dan tari Jawa. Tetapi pikiran saya juga menerawang di sudut mana Soekarno yang kemudian menjadi Presiden Indonesia pertama itu berpidato saat Partai Nasional Indonesia (PNI) mengadakan rapat umum pertama tahun 1927 di gedung tempat mereka belajar senja itu.

Kelas belajar aksara Jawa di Ndalem Djojodipuran diadakan oleh Jawacana, sebuah kelompok anak muda yang menekuni kebudayaan Jawa bekerja sama dengan Sanggar Seni Kinanti Sekar. Paksi Raras Alit, seorang seniman musik dan pendiri Jawacana menginisiasi kelas ini agar masyarakat Jawa tetap terikat dengan kebudayaannya.

“Masa masyarakat Jawa harus kehilangan kejawaannya,” ujar Paksi Raras, sebelum mengikuti rapat di Sanggar Kinanti Sekar di Yogyakarta, Senin awal Februari lalu.

Ia mengatakan kebudayaan suatu suku bangsa akan tergerus jika aksara aslinya dilupakan. Ketrampilan menulis dan membaca aksara Jawa adalah pintu pendukung komunitas ini dalam mempelajari ajaran-ajaran leluhurnya yang diawetkan dalam kitab-kitab yang ditulis ratusan tahun lalu.

Namun saat ini banyak masyarakat Jawa sudah lupa atau tidak bisa menulis aksara Jawa yang sebenarnya diajarkan di sekolah-sekolah di Provinsi Jawa Tengah, Jawa Timur dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Selain itu, sejak Bahasa Indonesia digelorakan sebagai bahasa persatuan setelah Sumpa Pemuda dicetuskan pada 1928, dunia tulis-menulis (terutama Jawa Tengah dan Jawa Timur) mulai bergeser ke huruf latin sehingga tradisi baca-tulis aksara Jawa memudar.

Persoalan ini menjadi salah satu ujung pangkal ICANN menolak proposal dari Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI)  yang mengajukan aksara Jawa agar tercatat sebagai Internationalized Domain Name (IDN) pada Juni 2020. Padahal jika disetujui, aksara Jawa bisa digunakan menjadi alamat domain, seperti di India, Thailand, Jepang dan Korea yang menggunakan aksara lokalnya.

Ihtiyar Mempertahankan Aksara Jawa

Paksi tak hanya membuat kelas belajar aksara Jawa, ia juga baru saja menerbitkan buku komik beraksara Jawa untuk mengisi ruang kosong sastra Jawa bagi anak-anak, judulnya “Pengin Kaya Bapak”. Sejak beberapa tahun lalu, ia juga menerbitkan majalah “Jawacana” untuk kalangan remaja berbahasa Jawa yang terbit empat kali setahun.

Sedangkan di Kabupaten Bantul ada komunitas Seneng Gaul Basa Jawa Adiluhung (Segajabung) yang memfasilitasi generasi milenial “penghuni” dunia maya agar bisa menggunakan aksara Jawa pada ptaform digital seperti smartphone dan komputer. 

Aksara Jawa tersedia pada platform digital karena sudah terdaftar di Unicode dengan kode A980 hingga A9DF. “Saya sudah mempunyai pikiran lama, masa depan pelestarian aksara Jawa itu ya di dunia digital,” ujar pendiri komunitas Segajabung, Setyo Amrih Prasaja

Amrih yang juga mantan guru bahasa Jawa tingkat sekolah menengah umum, sangat prihatin melihat generasi muda tidak bisa dan enggan belajar aksara warisan nenek moyang yang sudah mampu membuat mahakarya seperti Candi Borobudur dan Prambanan.

Ia pernah terkejut ketika membuat prank di kelas dengan menulis aksara Korea, Hangeul di papan tulis dan semua muridnya bisa membacanya! “Aksara milik sendiri kok malah dibuang,” ujar Amrih prihatin.

Hal itu menjadi alasan ia bersama komunitas Segajabung berkumpul di rumahnya setiap Jumat malam untuk belajar bersama cara “mengakali” program di komputer atau smarthphone agar bisa digunakan untuk menulis akasara Jawa.  Kegiatan itu juga membuka kelas online yang diikuti peserta dari luar Provinsi DIY.

Hasilnya, mereka bisa menulis pesan dengan menggunakan aksara Jawa di grup whatsapp Segajabung atau di grup Face Book yang menggunakan aksara Jawa. Beberapa naskah kuno juga berhasil digitalisasi, diketik ulang dengan menggunakan aksara Jawa dan disimpan di komputer.  

Kepada anak-anak muda itu, Amrih berpesan agar mereka membuat “prasasti” seperti dilakukan nenek moyang dahulu. Bukan prasasti dengan media batu atau lempengan logam tetapi hasil tulisan mengenai ide dan pemikiran generasi muda pada platform digital.

“Jika kalian ingin meninggalkan jejak ‘prasasti’ untuk keturunanmu 20 tahun mendatang, ya pakai piranti (digital) ini,” katanya.

Wakil Ketua Dewan Pengurus Bidang Pengembangan Usaha, Kerjasama dan Marketing, Pandi, Heru Nugroho mengatakan aksara Jawa belum digunakan secara masif oleh masyarakat. “Masih digunakan untuk kepentingan pendidikan, kesenian, dan sesuatu yang dekoratif,” ujar Heru Nugroho mengutip alasan ICANN.

Saat mengunjungi Museum Wayang Beber “Sekartaji di Bantul, Heru menyebutkan alasan lainnya seperti status aksara Jawa yang sudah terdaftar di lembaga yang menghimpun seluruh aksara, huruf dan emoticon dari seluruh dunia (Unicode) sejak 2009. Namun masih berstatus limited used atau digunakan secara terbatas dan belum tercantum dalam International Standard Organization (ISO).

Sejumlah alasan itu tercantum dalam surat elektronik dari ICANN yang dikirim kepada Pandi, 10 Desember 2020 lalu. “Kami mendaftarkan aksara Jawa ke ICANN buka untuk tujuan bisnis tetapi semata-mata melakukan preservasi aksara Jawa,” kata Heru menambahkan.

Alasan ICANN menyebutkan aksara Jawa masih digunakan secara terbatas memang benar. Tetapi dalam beberapa tahun terakhir ini masyarakat dan pemerintah DIY mencoba mengairahkan masyarakat agar mengenali kembali dan menggunakan aksara Jawa untuk tulis-menulis.

Nguri-nguri Terbentur Pandemi, di Lingkungan RT Pun Jadi

Jauh sebelum wacana digitalisasi aksara Jawa muncul, Pamulangan KHP Kridha Mardawa yang terletak di Jalan Rotowijaya, sekitar 100 meter dari Kraton Yogyakarta sudah membuka kelas belajar aksara Jawa bagi publik sejak tahun 1960. Namun sejak pandemi Covid-19 melanda Indonesia setahun lalu, lembaga dibawah Kraton Yogyakarta ini menghentikan kegiatannya.

Namun bukan berarti warga Bantul berhenti mempertahankan bahasa ibu itu. Tercatat pada sebuah lingkungan Rukun Tangga, di Pedukuhan Payak Cilik dan di Bintaran Wetan, Desa Srimulyo, Piyungan, Bantul menggalakan penggunaan aksara Jawa.

Dua RT berada di sekitar situs Payak, sebuah bekas petirtaan (tempat pemandian dan sumber air suci) berumur 12 abad itu menampilkan  aksara jawa di dinding rumah-rumah di bagian depan. Tulisan aksara biasanya menandakan nama si tuan rumah ditulis dengan aksara Jawa timbul dalam sebuah papan. Boleh jadi inilah satu-satunya warga di Pulau Jawa yang mempertahankan aksara moyang di lingkungan tinggal.

Santosa, Ketua RT 06 Bintaran Wetan, Desa Srimulyo, Bantul bersama papan namanya yang beraksara Jawa berdiri di rumahnya, Minggu (31/1/2021) (Bambang Muryanto/serat.id)

Warga menampilkan aksara Jawa terbuat dari kayu yang dipesan dari seorang ahli. Mereka bergotong-royong menyusun menjadi sebuah nama, menempelkan pada bilah papan yang ditempel pada setiap rumah.  

“Biar sekalian belajar aksara Jawa,” ujar Ketua RT 6, Bintaran Wetan, Srimulyo, Santoso.

Menurut Santoso, waraga juga sedang membuat papan nama jalan di dusun yang dilengkapi dengan aksara Jawa. Pemasangan papan nama beraksara Jawa itu adalah stimulus agar warga belajar aksara Jawa.

Ia menjelaskan  langkah mempertahankan aksara banyak manfaat. Bahkan Santosa sendiri bisa menjadi contoh. Pria berusia 50 tahun itu dipercaya menerjemahkan sebuah buku lawas beraksara Jawa, berjudul “Tetuwuhan ing Tanah Hindia Miwah Dayanipun Kangge Jampi” (Tumbuhan di Hindia dan Khasiatnya untuk Obat) yang ditulis seorang Belanda bernama J Kloppenburgh Versteegh (1911).

“Saya jadi suka mencari tanaman yang bisa untuk obat seperti adas, cocor bebek dan cendana,” ujar pria yang bertani ini.

Tercatat pada Minggu awal februari lalu warga sedang bekerja bakti membersihkan lahan di sekitar sebuah rumah limasan yang dipersiapkan untuk cafe, namanya “Angkringan”. Akhmad Fikri, salah seorang warga mengatakan mereka sepakat dusunnya akan menjadi kampung aksara.

“Nanti daftar menu di Cafe Angkringan juga memakai aksara Jawa, tidak ada huruf latinnya. Orang perlu dipaksa agar belajar,” ujar Fikri.

Warga akan bersama-sama belajar aksara Jawa dan menggunakannya dalam platform digital. Fikri sendiri sudah membuat sebuah grup di Face Book bernama “Gerbangpraja Nusantara” untuk publik yang sudah memiliki anggota 299 orang. Syaratnya cuma satu, tidak boleh menulis dengan huruf latin.

“Jika belum bisa menulis aksara Jawa di Face book, tulis dulu dikertas, difoto dan diunggah,” kata Fikri menjelaskan.

Ia berharap aktivitas menulis aksara Jawa di dunia maya ini juga terpantau ICAAN, selain itu bisa menjadi bukti aksara Jawa masih ada komunitas pendukungnya.

Pemerintah Provinsi DIY juga turut aktif mendukung digitalisasi aksara Jawa. Hal itu dibuktikan saat Pagelaran Kraton Yogyakarta, 5 Desember 2020 lalu Pemerintah DIY menggelar acara Pahargyan Digitalisasi Aksara Jawa untuk merayakan capaian dalam mendukung digitalisasi aksara Jawa sejak 2018.

Plt Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi DIY, Sumadi membeberkan berbagai program dukungan ini, seperti mewacanakan digitalisasi aksara Jawa sejak 2018, standarisasi aksara Jawa di dunia digital, menetapkan fonta aksara Jawa bergaya Yogyakarta, menyusun sistem transliterasi aksara Jawa latin, menerbitkan majalah Jawacana dengan aksara Jawa dan lainnya.

“Kami juga memberikan dukungan penuh kepada Pandi dalam mengajukan enskripsi aksara Jawa ke ICANN,” ujarnya.

Sumadi mengatakan Pahargyan Digitalisasi Aksara Jawa itu menjadi bagian dari rangkaian Kongres Aksara Jawa I di Yogyakarta, Maret 2021. Kongres berskala nasional ini akan membahas banyak persoalan, antara lain peta persoalan digitalisasi dan standarisasi aksara Jawa di dunia digital.

Dalam catatan sejarah, ini adalah kongres pertama pada jaman Indonesia merdeka. Kongres Aksara Jawa terakhir berlangsung di Surakarta tahun 1922 saat Belanda masih menjajah Indonesia.

Sebuah pentas tari “Beksan Ajisaka” yang baru saja diciptakan Raja Kraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X ikut menyemarakkan acara Pahargyan Digitalisasi Aksara Jawa. Ajisaka adalah tokoh pencipta aksara Jawa seperti diceritakan dalam tradisi lisan dan tulis di Jawa.

Gending hasil kolaborasi gamelan dan terompet yang rancak mengiringi 10 pria gagah berbusana dodotan (busana temanten pria dalam versi pakain pengantin basahan) tampil di panggung. Tarian yang dibawakan dengan gagah selama 35 menit itu menceritakan Ajisaka yang memberikan wejangan tentang pentingnya hubungan manusia dengan Allah sang maha pencipta dan manusia dengan sesamanya.

Selama mereka menari, ada narasi yang dibawakan secara monolog oleh seorang pria atau tembang merdu yang dilantunkan beberapa sindhen (penyanyi wanita). Isinya mengajak manusia berbuat baik kepada alam, manusia harus saling bekerjasa karena memiliki kelebihan dan kekurangan, dan pentingan manusia megang nilai luhur seperti iman, bersikap mulia, berwatak lembut dan memiliki kecerdasan.

Tetapi pendiri Segajabung yang seorang filolog itu mengatakan Ajisaka hanya cerita fiktif. Kisah itu untuk melegitimasi proses perubahan hegemoni kebudayaan dari Hindu ke Islam yang dimulai sejak munculnya Kerajaan Demak. Aksara Jawa (carakan) yang seperti digunakan saat ini memang muncul pertama kali dalam Serat Gending karya Raja Mataram, Sultan Agung Hanyokrokusuma yang memerintah pada masa (1613 hingga 1645).

“Kalau dilihat dari perspektif sejarah tidak nyambung, Prasasti Sukabumi sudah menggunakan aksara Jawa Kawi yang jadi asal-usul carakan,” ujarnya.

Museum Sekartaji juga menyimpan prasasti beraksara Jawa kuno (Kawi) yang menurut dugaan Amrih dibuat sekitar tahun 1239. Ini juga jadi bukti lain masyarakat jawa sudah punya aksara ratusan tahun sebelum terbitnya Sastra Gending.

Dalam sambutannya, Gubernur Provinsi DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X yang hadir dalam acara itu mengatakan pada era digital kalau suatu aksara jika tidak hadir dalam dunia digital maka dianggap tidak ada. Kalau pun ada dianggap aksara yang tidak hidup karena tidak ada pendukungnya.

“Karena itu inisiatif Pandi untuk merajut Indonesia dalam bentuk penetapan domain name tersendiri untuk aksara-aksara Nusantara patut kita dukung,” ujarnya.

Selain mendukung digitalisasi aksara Jawa, Pemerintah DIY juga sudah menghadirkan aksara Jawa di ruang publik. Bila sedang berwisata di Yogyakarta, perhatikan semua penunjuk jalan di sekitar Malioboro yang sudah dilengkapi dengan tulisan beraksara Jawa. Nama lembaga publik seperti kantor pemerintahan juga dilengkapi dengan nama beraksara Jawa.

Gubernur Provinsi DIY juga telah mengeluarkan Peraturan Gubernur No.70/2019 tentang Tata Naskah Dinas yang antara lain mengatur bahwa kop naskah dinas Gubernur dan perangkat daerah dan sampul surat harus dilengkapi dengan aksara jawa.

Apakah aksara Jawa bisa menjadi nama domain internet? Sebelum meninggalkan Museum Wayang Beber “Sekartaji”, Heru Nugroho mengatakan Pandi sedang berupaya lagi memenuhi semua persyaratan ICANN agar aksara Jawa bisa menjadi domain name. ICAAN ingin memastikan aksara Jawa masih digunakan secara luas.

“Ada 21 pertanyaan dari ICANN yang harus kita jawab,” ujarnya. (*) BAMBANG MURYANTO (Yogayakarta)

Liputan ini didukung Pandi dalam program “Merajut Indonesia Melalui Digitalisasi Aksara Nusantara”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here