BERBAGI

Perjuangan membuat aksara Jawa menjadi nama domain masih panjang. Semua langkah yang dilakukan komunitas dan Pemerintah DIY agar masyarakat Jawa bisa membuat “prasasti” di dunia maya mungkin masih sebuah langkah kecil. Bukankah suatu perjuangan mencapai satu cita-cita besar harus dimulai dengan sebuah langkah kecil ?

Setya Amrih Prasaja, pendiri komunitas seneng gaul basa Jawa adiluhung (Segajabung) sedang mencoba membaca angka tahun sebuah prasasti milik Museum Wayang Beber Sekartaji, Senin (8/2). Dari pembacaannya prasasti beraksara Jawa kuno itu dibuat sekitar 1239. (Bambang Muryanto/Serat.id)

Malam mulai merambat saat angggota komunitas Seneng Gaul Basa Jawa Adiluhung (Segajabung) meriung pada sebuah rumah di Desa Trirenggo, Kabupaten Bantul. Malam itu mereka menempati pendiri komunitas Segajabung, Setya Amrih Prasaja.

Jumat malam waktu berkumpul bagi anggota komunitas, berdiskusi atau mengoprek program agar bisa menulis aksara Jawa (carakan) pada smartphone atau komputer. Kali ini diskusi dipimpin Arif Budiarto dari divisi teknologi informasi Segajabung. Ia menjadi mentor bagi empat peserta dari luar Yogyakarta yang belajar membuat buat font aksara Jawa.

“Ini pengantar dulu ya, nanti sampelnya kita coba lagi,” ujar Arif sambil menggerakkan tetikusnya untuk membuka program-program di laptopnya, Jumat 5 februari 2021 lalu.

Tulisan terkait : Memprasastikan Aksara Jawa di Dunia Digital

Mereka menerapkan aksara Jawa dalam platform digital yang selama ini belum banyak diketahui orang. padahal aksara jawa sudah terdaftar di Unicode, sebuah konsorsium yang menghimpun aksara, huruf emoticon di seluruh dunia tahun 2009, dengan kode A980 hingga A9DF. Dengan terdaftar di Unicode, aksara Jawa bisa digunakan dalam semua platform digital.

Alumni Fakultas Tehnik Universitas Negeri Jogjakarta (UNJ) itu kemudian menjelaskan langkah-langkah teknis yang harus dilakukan. Prosesnya agak rumit karena aksara Jawa lebih komplek dari abjad latin.

Anggota komunitas Segajabung yang datang malam itu ikut menyimak materi dengan duduk tidak jauh dari Arif berada. Suara serangga malam yang hinggap di pepohonan menemani belajar online yang berlangsung sekitar 90 menit itu.

Segajabung didirikan Amrih 31 Agustus 2019 untuk memfasilitasi anak-anak muda yang ingin menulis dengan aksara Jawa di dunia digital. Amrih merasa mempunyai kewajiban moral mengajarkan aksara warisan nenek moyang itu kepada generasi muda yang masih mempunyai banyak waktu luang.

“Mumpung anak-anak muda itu suka dengan dunia digital. Masa depan aksara jawa juga ada pada dunia digital,” ujar Amrih yang juga ahli filologi itu. 

Di Indonesia, bahasa daerah sebagai bahasa ibu memang mulai terancam punah akibat masifnya penggunaan Bahasa Indonesia. Dampaknya aksara lokal seperti aksara Jawa juga semakin dilupakan.

Arif yang berkenalan dengan Amrih melalui Face Book kemudian bergabung dengan Segajabung. Ahli teknologi informasi itu menjadi mentor bagi anggota komunitas yang ingin mengoding aksara atau “mengoprek” program di smartphone atau laptop.

“Saya bergabung dengan Segajabung karena sejak dulu memang suka aksara Jawa,” ujar Arif.

Dengan keahliannya, Segajabung mendigitalisasi naskah-naskah kuno beraksara Jawa. Ada Naskah Kaliurang yang mengisahkan perjalanan tamasya dari Surakarta ke Kaliurang 26 April 1929. Sedangkan Kekawin Ramayana, Baratayuda, dan Sutasoma yang bekasara Jawa Kawi sedang dalam digitalisasi.

“Proses digitalisasi ini membuat naskah-naskah kuno lebih enak dibaca karena aksaranya jadi lebih teratur,” kata Arif menambahkan.

Aktivitas Segajabung telah membuka pintu gerbang baru bagi generasi milenial yang ingin menyesap samudra ilmu pengetahuan dan kearifan lokal ajaran para leluhur. Tidak semua naskah kuno itu sangat filosofis sehingga membuat kepala berdenyut saat membacanya. Ambil contoh serat “Katuranggan Kucing” tahun 1871 yang sudah didigitalkan oleh Arif, serat ini memuat informasi ciri-ciri “kucing garong” dan yang imut.

Bila ada permintaan, Segajabung tidak segan memberikan pelatihan kepada komunitas di suatu daerah yang membutuhkan ketrampilan menulis aksara pada platform digital. Komunitas ini pernah datang ke Wonosobo, Mangir di Bantul dan daerah lain.

Selain bergerak di dunia maya, Segajabung bekerja sama dengam Museum Wayang Beber, Sekartaji di Bantul menawarkan kelas belajar menulis aksara Jawa pada media dluwang seperti dilakukan para leluhur dahulu. Dluwang adalah kertas yang dibuat dari kulit pohon daluang atau abahasa latin Broussonetia papyrifera yang kebetulan ditanam di halaman Museum Sekartaji.

Saat mengunjungi Museum Sekartaji, Indra Suroinggeno pendiri museum menjelaskan proses pembuatan dluwang. Kertas dluwang sendiri juga digunakan sebagai medium untuk menggambar kisah wayang beber yang bersumber pada Kisah Panji.

“Ambil  kulit bagian dalam, direndam air beberapa jam dan kemudian dipukuli dengan alat khusus agar seratnya melebar dan rata,” Indra.

Selanjutnya dibungkus daun pisang selama empat hari agar terfermentasi, kertas dluwang dikeringkan dengan menempelkan pada batang pohon pisang. Setelah kering dihaluskan menggunakan cangkang keong.

Saat ini Segajabung juga sedang merancang kelas menulis aksara Jawa pada medium daun lontar seperti dilakukan nenek moyang kita dahulu. Ini lebih sulit karena lembaran lontar bentuknya kecil dan memanjang.

Cara menulisnya dengan menggoreskan pisau kecil (pangot). Hasil goresan itu kemudian diusap dengan kemiri yang sudah dibakar sehingga aksaranya muncul karena terkena tinta miri yang berwarna hitam.

“Tulisan di daun lontar itu jauh lebih awet dari kertas. Kalau tulisannya hilang tinggal diusap kemiri yang dibakar maka akan kelihatan lagi,” ujar Indra menjelaskan.

Malam makin larut, kelas zoom juga sudah selesai. Tetapi anggota komunitas Segajabung masih setia duduk dan ngobrol berbagai topik dengan ditemani kopi dan tembakau.

Setelah bicara ngalor-ngidul, tiba-tiba pembicaraan berbelok kepada yupa, prasasti tertua bertuliskan aksara palawa ditemukan di Kalimantan Timur. Bagaimana mungkin yupa dari batu andesit yang dibuat pada abad V itu bisa berada di Kalimantan yang tidak memiliki gunung berapi?

“Ya seperti ini, berangkat dari soal aksara kita bisa berdiskusi banyak hal,” ujar Amrih.

Malam semakin larut di rumah Amrih. Namun para anggota Segajabung masih meneruskan diskusinya, mereka tak bosan memperkuat akarnya sebagai orang Jawa. (*) BAMBANG MURYANTO (Yogayakarta)

Liputan ini didukung Pandi dalam program “Merajut Indonesia Melalui Digitalisasi Aksara Nusantara”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here