BERBAGI
Gedung SMAN 7 Purworejo, bekas Hoogere Kweek School (HKS) 1915 hingga 1928. (Ade Dani/serat.id)

Tercatat HKS Purworejo itu menghasilkan anak didik yang kemudian berkiprah di era pergerakan dan pemerintahan di awal kemerdekaan. Di antaranya  pahlawan nasional Otto Iskandardinata, mantan aktivis pergerakan sebagai Wakil Ketua Budi Utomo dan Menteri Negara pada kabinet yang pertama Republik Indonesia.

Gedung dengan arsitektur Eropa itu menjadi pertanda salah satu bukti sejarah di tengah kota Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.  Gedung yang berada di Jalan Ki Mangun Sarkoro itu masih anggun berdiri, kini menjadi tempat proses belajar mengajar SMAN 7 Purworejo.

Sesuai dengan catatan  angka  bertuliskan “Anno -1915” di tembok gedung bagian depan, sebagai bukti gedung itu sudah mulai digunakan sejak memasuki abad IXX.

Keberadaan gedung tua saksi dunia pendidikan itu masih menunjukkan keaslian bangunan,  termasuk alat belajar berupa barang inventaris yang sekolah rata-rata  lama masih terawat baik tanpa merubah dari nilai sejarahnya.

“Kursi, meja belajar, lemari dan bentuk bentuk fisik dari  bangunan, genteng, panel panel instalasi listrik, kayu-kayu tiang, usuk, dan lantai  masih dijaga keasliannya,” kata  Dani Safari,  Kepala Humas SMA 7, kepada koresponden belum lama ini.

Baca juga : Gereja Gedangan, Simbol Sejarah Katolik di Kota Semarang

Hendak direnovasi, Gedung Bersejarah Era Kolonial Ini Akhirnya Runtuh

Sejarah Gedung Bekas Kantor SJS

Kontruksi lantai dengan motif bertekstur unik juga  masih dipertahankan, termasuk hall yang menghubungkan dengan bangunan sebelahnya masih terlihat keasliannya.

Sebagai bangunan khas kolonial tropis, gedung itu juga dilengkapi cerobong asap menjulang tinggi yang berfungsi sebagai aliran pembuangan pembakaran dapur. Sedangkan dapur kuno masih sama bahkan masih digunakan pihak sekolah.

“Termasuk ruang makan bagian dari bangunan lama. Dulu difungsikan untuk tempat asrama para guru. masih tetap terjaga belum pernah diganti,” kata Dani menjelaskan.

Dani mengaku sekolah sengaja menciptakan kenyamanan belajar,  proses belajar mengajar lebih maksimal karena terdukung dengan situasi kondisi gedung yang masih mempertahankan kawasan hijau pohon perindang yang masih tumbuh lebat.

Berdasarkan sejumlah literasi sejarah,  gedung itu dibangun sebagai sekolah guru  atau Hoogere Kweek School (HKS) 1915 hingga 1928. Namun berangsur mengalami perubahan fungsi dipakai untuk  sekolah umum MULO tahun 1928 hingga 1942.

“Sedangkan tahun 1942-1945 bangunan ini menjadi sekolah menengah pertama negeri di masa  Kolonial Belanda. Di era kekuasaan Jepang 1945 hingga 1949 masih digunakan untuk sekolah menengah pertama,” kata Dani menjelaskan.

Gedung itu  kembali digunakan untuk sekolah guru SGB ditahun 1950 hingga 1961,  sedangkan pada 1958 hingga 1968 sempat mejadi sekolag DGA.

Gedung itu mencatatkan sejarah di Kabupaten Purworejo, bangunan tua yang membentang luas itu pernah menjadi sekolah pendidikan guru (SPG) sebelum dibubarkan.  Pada awal pergantian fungsi gedung yang sebelumnya digunakan untuk SPG, hanya menyediakan dua kelas bagi SMA 1 Negeri Purworejo terjadi pada  ke SMA Di tahun 1990-1991. Namun kembali berganti SMA 3 Purworejo yang bertahan hingga tujuh tahun.

Namun SK Mendikbud RI No. 035/0/1997, tepatnya tanggal 7 maret 1997 sekolah menengah atas ini pun Kembali berganti nama yakni  SMA 7  Negeri Purworejo hingga sekarang.

Gedung Sekolah Guru Era Kolonial

Kepala SMAN 7 Purworejo Niken Wahyuni, mengatakan sekolah yang ia kelola sebagai bekas  HKS di Purworejo saat zaman kolonial, kala itu untuk menjawab banyak guru Eropa didatangkan untuk mengajar rakyat pribumi.

“Maka tercetuslah mendirikan sekolah HKS  guru jaman Jepang, yang dipersiapkan  untuk guru guru di tanah air,” kata Niken.

Tercatat HKS Purworejo itu menghasilkan anak didik yang kemudian berkiprah di era pergerakan dan pemerintahan di awal kemerdekaan. Di antaranya  pahlawan nasional Otto Iskandardinata, mantan aktivis pergerakan sebagai Wakil Ketua Budi Utomo dan Menteri Negara pada kabinet yang pertama Republik Indonesia tahun 1945.

Bangunan yang sudah mencapai usia 105 tahun itu masih mengalami kendala dalam menentukan status cagar budaya. Saat ini sedang proses pengajuan sebagai bangunan yang memiliki status cagar budaya, harapanya kelak pemeliharan mendapatkan bantuan dari pemerintah pusat. (*) ADE DANI (Purworejo)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here