BERBAGI
Lukisan
Pelukis Laila Tifah bersama karyanya,”Karbo I” yang menggambarkan refleksinya atas sakit diabetesnya sehingga ia harus menghindari makanan berkarbohidrat tinggi. Pameran berlangsung di Jogja Gallery, 7 hingga 17 Pebruari lalu. (Bambang Muryanto/serat.id)

Tercatat ada 35 lukisan dan 20 sketsa yang dipamerkan dan hampir semuanya menghadirkan sosok perempuan.

Serat.id –  Pelukis Laila Tifah mendobrak stereotipe miring yang selama ini bias gender lewat sejumlah karyanya dalam pameran “Sri” yang digelar di Jogja Gallery, Sabtu, 7 Februari 2021 lalu. Sejumlah karya yang ia pamerkan seakan membantah pendapat pelukis kondang, Basuki Abdullah yang pernah mengatakan perempuan lebih cocok dilukis bukan sebagai pelukis.

“Pameran ini adalah hasil dari rekaman sejak masa lalu,” ujar Laila ketika memberikan prolog sejumlah karyanya.

Alumni Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia (FSRD-ISI) Yogyakarta 1997 itu sengaja menciptakan goresannya dari inspirasi pengalaman, kesaksian atas kehidupan, dan pergulatan pemikiran. Tercatat ada 35 lukisan dan 20 sketsa yang dipamerkan dan hampir semuanya menghadirkan sosok perempuan.

Baca juga : MaskArt Exhibiton, Cara Perempuan Pelukis Mengekpresikan Diri Saat Pandemi

Tanamkan Jiwa Kebangsaan dengan Lukisan Patriotisme

Lukisan-lukisan Muji Konde

Salah satu karyanya menampilkan seorang perempuan yang menyondongkan setengah badannya, memberikan hormat kepada tumpukan buah waluh yang ditorehkan dengan cat minyak pada kanvas berukuran 120 x 190 cm.  

Lukisan berjudul “Hormat Waluh” ini berpesan agar perempuan tegar menghadapi rintangan kehidupan seperti disimbolkan dalam makna kata waluh,”uwalono, ilangono ngeluh, gersulo” atau lepaskan dan hilangkan keluh-kesahmu.

Sedangkan lukisan berjudul “Tangguh” menggambarkan tiga orang perempuan sedang bekerja keras merontokkan buliran padi dari batangnya setelah habis dipanen di sawah. Ini adalah pernyataan Laila soal perempuan tangguh, perempuan yang masih bekerja diluar tugas domestik mengurus rumah.

“Akumulasi apa yang pernah kupikirkan dan kurasakan dalam kurun waktu lama bisa muncul kembali dan menggangguku minta untuk segera dieksekusi manjadi suatu karya,” tulis Laila dalam katalog pameran “Sri”.

Sejumlah karya Laila yang identik guratan-guratan garis yang ritmis muncul dalam karyanya diakui kebiasaan lama Laila menggambar dengan krayon.

Video terkait : Pameran Lukisan “kertas kokoh”

Namun karyanya itu tak lepas dari perjalanan hidupnya merekam banyak perempuan menjalani hidup dengan memikul beban ganda yang berat tanpa mengeluh. Dalam lingkungan keluarganya, ia melihat perempuan dari saudara ibunya harus mengurusi rumah-tangga dan ikut bekerja mencari nafkah.

Kurator pameran “Sri”, AA Nurjaman dalam tulisan kuratorialnya, menyatakan sejak subuh, kakak ibu dari Latifah harus berjalan dari daerah Jejeran di Bantul ke Pasar Ngasem untuk berjualan makanan kecil. Dengan diterangi obor, perempuan perkasa itu jika saya hitung harus berjalan sekitar 10 kilometer!

Perempuan tegar lain yang hidup dalam pikiran Laila adalah ibu kandungnya yang mengajarinya laku prihatin dan jadi tumpuan meminta doa. Kaitan antara ibu dan doa itu Laila wujudkan dalam karya berjudul “Linea Nigra”.

Kata doa ia tulis dengan menggunakan spidol secara berulang-ulang sehingga membentuk garis-garis horisontal memenuhi kanvas berlatar belakang sapuan gelap warna merah dan kuning. Ada garis vertikal hitam di tengah kanvas yang menurut Laila seperti linea nigra, garis yang muncul dalam kulit perut ibu ketika mengandung.

“Doa itu untuk mengingatkan diri sendiri, termasuk minta doa dari ibu,” ujar Nurjaman.

Ia menilai Laila juga mempunyai kesan sangat dalam terhadap tokoh rekaan Umar Kayam dalam “Sri Sumarah dan Bawuk” sehingga menjadi sumber inspirasi dan semangat dalam berkarya. Kayam menulis kisah Sri Sumarah yang berhasil menemukan solusi dalam mengatasi gempuran hidup yang tak kunjung selesai itu saat berada di Hawaii, 1973.

Singkat cerita, Sri Sumarah, istri Mantri Guru, Martokusumo menjadi janda ketika Tun, anak semata wayangnya berumur empat tahun. Ia membesarkan Tun sendiri yang menikah dengan Yos. Belakangan Yos dan Tun masuk penjara karena terlibat peristiwa G30S sehingga Sri membesarkan anak mereka, Ginuk. Sri melakukan pekerjaan apapun, termasuk menjadi tukang pijit untuk membesarkan cucunya itu.

“Saya mengambil semangatnya Sri Sumarah itu,” kata Laila menjelaskan.

Bagi Laila, spirit perempuan tangguh tidak hanya diwartakan kepada publik melalui karyanya. Tetapi juga diinternalisasi menjadi api yang membakar semangatnya agar berkarya dan tidak terjebak pada kesibukannya mengurus rumah tangga dan terhalang sakit diabetesnya.

Beberapa karyanya yang berkaitan dengan diabetes juga muncul seperti “Karbo I” yang merefleksikan karbohidrat sebagai biang keladi diabetes. Laila mengatakan lukisan yang menggambarkan seorang barbadan kurus diapit pria dan wanita gemuk itu adalah yang paling disukainya.

“Entah mengapa, saya paling menyukai lukisan ini,” ujarnya.

Tema diabetes yang mendera Laila dalam beberapa tahun terakhir juga muncul dalam karya berjudul “Dimana Bakcang”. Penikmat akan terpancing untuk mencari bakcan makanan favorit Laila yang terselip di sudut rumah yang penuh makanan dan perabotan. Sedangkan “Ngrowot” dengan visual kelalawar yang bergelantungan adalah gambara dirinya yang harus banyak makan buah seperti mamalia bersayap itu.

Pameran ini juga memperlihatkan kisah pribadi Laila, misalnya “Setengah Minang” yang menjelaskan ada darah Minang mengalir di tubuhnya karena bapaknya adalah sastrawan dan pelukis Nasjah Djamin. Sedangkan “Urban Silence”, ini adalah kesaksian Laila saat tinggal di Jakarta. Ada kesunyiaan dalam kereta api komuter yang penuh penumpang karena semua orang menunduk menatap telepon genggamnya.

AA Nurjaman berpendapat Laila yang mengutamakan kekuatan garis dalam berkarya berhasil mengalihkan berbagai kecemasannya kepada media seni.  “Laila mampu mengatasi persoalan yang dihadapinya menjadi semangat baru,” ujar Nurjaman menjelaskan.

(*) BAMBANG MURYANTO (Yogyakarta)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here