BERBAGI
Ilustrasi, pixabay.com

Jenis malware trojan pada 2020 terdapat peningkatan pada malware jenis All Apple sebesar 72 juta, sementara Zero Access senlai 59 juta kemudian Scada Moxa senilai 24 juta

Serat.id – Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) melaporkan serangan siber pada 2020 kebanyakan dari trojan. Sedangkan total serangan mencapai 495.337,202 atau meningkat dua kali lipat jika dibandingkan tahun 2019 yang hanya mencapai 228.277.875.

“37 persen di antaranya berkaitan dengan aktivitas trojan yang merupakan malware didesain khusus untuk kejahatan berbagai tujuan menggunakan infrastruktur yang terinfeksi speerti bot, untuk melakukan pencurian data,” ujar Adi Nugroho, Plt. KepalaPusat Operasi Keamanan Siber Nasional (Pusopskamsisnas) BSSN dalam webinar bertajuk “Publikasi hasil Monitoring Keamanan Siber Tahun 2020”, Senin, 1 Februari 2021.

Baca juga : Ratusan Ribu Data Mahasiswa Undip Diduga Diretas

Peretasan Media Online Jelas Melanggar Undang-undang

Program Digital Ini membantu Pasien Kanker Payudara

Adi menyebut jenis malware trojan pada 2020 terdapat peningkatan pada malware jenis All Apple sebesar 72 juta, sementara Zero Access senlai 59 juta kemudian Scada Moxa senilai 24 juta.

“Serangan siber yang terbesar kedua mencapai 24 persen ialah informasion gathering atau pencarian informasi di mana pelaku kejahatan siber pada tahap awal mencari informasi mengenai target serangan,” kata Adi menambahkan.

Aktivitas serangan  tersebut 95 persen mencoba melakukan recon mengenai protokol SCADA Moxa, Remote Dekstop Prtokol dan BFA dengan menggunakan user admin. Selain itu serangan siber lainnya bernilai 9 persen ialah berupa information leak atau kebocoran data sebesar 9 persen. Hal tersebut mengindikasikan terdapat kerentanan pada open diectory listing, open configuration, unsecure connection.  

Dalam laporan BSSN juga tercatat adanya data breach atau pencurian data yang mencapai 79.439 data. Pencurian tersebut digunakan oleh pelaku serangan siber menggunakan malware information stealer dari berbagai jenis seperti Russian Password, Vidar Stealer, AzorUlt Botnet, Smoker Loader, Raccon Stealer, serta Predator Stealter.  

Sedangkan korban dari malware information stealer terbanyak berasal dari pemerintah sebesar 40 persen. Ia menduga serangan tersebut dilancarkan ketika pegawai pemerintah menggunakan perangkat komputer pribdi di rumah yang tidak terinstall antivirus. Selanjutnya serangan terbesar juga menyasar sektor keuangan sebesar 27 persen terkait aktivitas belanja online.

“Hampir sebagian informasi masih valid yang dapat digunakan untuk mengakses sistem elektronik pada sektor yang terdampak,”  kata Adi menjelaskan.

Tercatat laporan BSSN juga disebutkan data email phising mencapai 2.549 kasus, serangan terbesar menyasar email grup sebesar 66 persen dan 15 persen menyasar email pribadi dan web defacement atau peretasan situs website mencapai 9.749 kasus.

Ia menyebut peningkatan serangan siber melalui malware terjadi sejak 19 April hingga 17 Mei 2020 seiring pemberlakuan PSBB ketat dengan pemberlakuan kerja dari rumah (work from home).  Puncak tertinggi serangan siber terjadi pada 30 April 2020 mencapai 1.312 serangan siber dan pada 11 Mei 2020 sebesar 1.313 serangan siber.

“Data akan menjadi komoditas yang paling diincar dari penyerang siber yang akan terus meningkat (setiap tahunnya). Sehingga penyelenggara sistem elektronik dapat mengamankan data,” katanya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here