BERBAGI
Ilustrasi, pixabay.com

Naik dibanding tahun 2019 kisaran 2,57 persen

Serat.id – Sebanyak 3.143 atau 3,13 persen dari 100.446 balita di Kota Semarang pada tahun 2020 mengalami stunting.  Jumlah balita stunting di ibu kota provinsi Jateng itu naik dibanding tahun 2019 kisaran 2,57 persen.

“Pandemi Covid-19 mengakibatkan rendahnya tingkat pendapatan keluarga sehingga berdampak terhadap rendahnya daya beli keluarga dan mempengaruhi kualitas dan kuantitas makanan yang tersedia pada keluarga tersebut,” ujar Abdul Hakam, Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, ketika dihubungi serat.id, Jumat, 5 Maret 2021.

Baca juga : Siaran di Indonesia Tak Ramah Anak

Petaka yang Selalu Terulang

Tak Semua Bayi di Kota Semarang Mendapat ASI Eksklusif

Menurut Hakam, kenaikan angka stunting tersebut juga tak terlepas dari presentase wanita hamil yang mengalami Kekurangan Energi Kronis (KEK) yang mencapai 7,23 persen. Wanita hamil tersebut memiliki resiko melahirkan bayi berat lahir rendah.

“Upaya penurunan stunting selalu gencar ia lakukan dengan  kolaborasi melibatkan  multisektor dari masyarakat, organisasi profesi kesehatan, akademisi, fasilitas kesehatan serta perusahaan dan pengusaha,” kata Hakam menambahkan.

Ia menyebut berbagai program telah diupayakan untuk mengentaskan angka stunting tersebut yakni  pemberian fasilitas secara gratis untuk wanita hamil yang akan melahirkan  berupa antar jemput persalinan  yang tersedia di setiap Puskesmas.

Tak hanya itu, keluhan pasca melahirkan dapat dipantau melalui aplikasi Sayang Bunda, serta konsultasi untuk gizi anak dapat dilakukan melalui aplikasi Trengginas. Selain itu  ia juga menggandeng perusahaan untuk menyediakan fasilitas pemeriksaan kesehatan, Antenatal Care (ANC) terpadu, cuti hamil dan melahirkan, waktu untuk menyusui, Ojek ASI, kelas ibu hamil, edukasi konseling kesehatan, dan pelayanan KB tanpa harus meninggalkan tempat kerja.

Pemberian edukasi turut diberikan terhadap calon pengantin yang berusia produktif tentang pentingnya gizi anak. Bahkan, edukasi sejak dini terhadap anak dan remaja juga dilakukan di sekolah maupun pesantren dengan edukasi makanan yang miliki gizi tinggi dan pembuatan makanan bergizi, hingga jajanan sehat.

“Mudah-mudahan pandemi Covid-19 mulai memberikan nilai tambah bagi kita seperti cuci tangan, pakai masker. Dari cuci tangan saja dapat mengurangi diare akut anak yang datang ke Puskesmas,” katanya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here