BERBAGI

Ada dua ketua DPC di daerah yang telah dipecat yaitu Ketua DPC PD Tegal Ayu Palaretin dan Ketua DPC PD Blora Bambang Susilo.

Ilustrasi, pixabay.com

Serat.id– Pengurus Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Partai Demokrat Jawa Tengah, menyelidiki 14 orang yang datang ke Konggres Luar Biasa (KLB) di Deli Serdang.  Belasan orang yang datang di KLB diduga mengatasnamakan sebagai perwakilan Demokrat di Jateng.

“Masih tahap penyelidikan. Kalau yang pemecatan baru dua yaitu Blora dan Tegal,” ujar Plt Sekretaris DPD Demokrat Jawa Tengah, Kartina Sukawati saat mendatangi Kanwil Kemenkumham Jateng, Senin, 15 Maret 2021.

Baca juga : Ini Hasil Konggres Pertama Partai Hijau Indonesia

Sejumlah Partai di Jateng Tak Maksimal Ajukan Caleg

Hendi-Ita dipastikan Calon Tunggal, Pengamat : Krisis Kaderisasi Partai

Kartina menyebut saat ini baru ada dua ketua DPC di daerah yang telah dipecat yaitu Ketua DPC PD Tegal Ayu Palaretin dan Ketua DPC PD Blora Bambang Susilo.

Kartina bersama sejumlah pengurus mendatangi Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) Jawa Tengah di jalan dokter Cipto Nomor 64, Kota Semarang.  Mereka menyerahkan surat pernyataan, AD/ART Partai Demokrat hingga surat keputusan kepengurusan DPD Partai Demokrat Jateng yang sah. Termasuk juga pernyataan dari 35 ketua DPC Demokrat se-Jateng dalam bentuk video.

“Selain bersilaturahmi, kami menyampaikan bahwa kami yang hadir di sini adalah pengurus yang sah dan itu dibuktikan dengan dokumen-dokumen yang kami serahkan ke Kanwil Kemenkumham supaya ditindaklanjuti di pusat,” kata  Kartina menjelaskan.

Menurut Kartina, langkah bertemu dengan Kemenkumham itu merupakan bentuk antisipasi adanya Demokrat versi KLB di Jateng.  “Kami juga waspada jika nanti ada pembentukan DPD abal-abal. Kami juga intruksi di DPP, kami berjalan sesuai dengan koridor dan instruksi DPP. Kami melawan dengan jalur-jalur yang semestinya,” katanya.

Pengamat Politik Universitas Diponegoro, Teguh Yuwono menyebut permasalahan internal partai politik di manapun, sebagai bagian dari proses upaya-upaya mencari kekuasaan. “Partai politik itu lahir, ada untuk mencari kekuasaan. Jadi apakah itu relevan dengan pemilihan presiden, atau gubernur, atau kepala daerah itu sudah pasti,” kata Teguh.

Ia menilai tahun 2021 dinilai cukup efektif bagi partai Demokrat untuk menancapkan kekuatan didalam politik masyarakat. Karena pemilihan presiden masih cukup lama dan konsilidasi partai juga menjadi persoalan.

“Jadi saya kira semua partai politik berpotensi menghadapi konflik internal, hanya bagaimana kekuatan-kekuatan figur didalam partai itu bisa menyatukan,” kata Teguh menjelaskan.

Dia menyebut partai Demokrat mempunyai ujian cukup banyak kasusnya. Sejak Angelina Sondakh, Andi Mallarangeng hingga Anas Urbaningrum. Selain itu saat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berkuasa sekalipun juga Demokrat belum tentu solid seperti yang diharapkan banyak orang.

“Apalgi SBY tidak lagi di lingkaran kekuasaan utama negara ini. Tapi tentu apakah figur SBY itu tidak menunjukan kekuatan internal, ini saya pikir menjadi pertanyaan lebih lanjut,” kata Teguh menjelaskan. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here