BERBAGI

Karya instalasi ini menjelaskan perjalanan keseniaan Syam yang menggelar pameran tunggal lukisannya yang pertama dengan judul “Pada Ruang yang Bercerita” di Ruang Dalam art house, 5 hingga 21 Maret lalu.

Syam Terajana (memakai topi), saat menjelaskan karya kepada kolektor Oei Hong Djien yang datang dalam pembukaan pameran lukisan tunggal pertamanya di Ruang Dalam art house di Bantul, Jumat 5 Meret 2021 lalu.Pameran berjudul “Pada Ruang yang Bercerita” yang mengeksplorasi kisah manusia dalam sejarah itu berlangsung hingga Minggu 21 Maret 2021, (Bambang Muryanto/serat.id)

Di salah satu pojok Ruang Dalam art house tergantung 85 panel berukuran 18 kali 18 cengtimeter berisi aneka macam “muntahan” ekspresi seni seorang perupa, Syam Terrajana.

Ada drawing, kolase, puisi, dan narasi pendek yang dibuat dengan mesin ketik. Alat tulis ini diletakkan di atas meja ditemani sebuah kursi.

Video berdurasi 1 menit 28 detik yang merekam penampilan teatrikal Syam dalam membuat panel-panel itu menggenapinya menjadi suatu karya instalasi yang berjudul “Pada Ruang yang Bercerita”.

Baca juga : MaskArt Exhibiton, Cara Perempuan Pelukis Mengekpresikan Diri Saat Pandemi

Cara Laila Tifah Mendobrak Bias Gender Lewat “Sri”

Lukisan-lukisan Muji Konde

Karya instalasi ini menjelaskan perjalanan keseniaan Syam yang menggelar pameran tunggal lukisannya yang pertama dengan judul “Pada Ruang yang Bercerita” di Ruang Dalam art house, 5 hingga 21 Maret lalu.

Syam, pria multi talenta asal Gorontalo itu adalah seorang aktor, penyuka sastra, sejarah, dan jurnalis.

Sejak tahun 2017 ia dan keluarganya tinggal di Yogyakarta karena istrinya kuliah pascasarjana di Surakarta. Mereka memilih Yogyakarta agar Syam bisa belajar seni lukis kepada pelukis kondang, Gusmen Heriadi.

Melukis menjadi pilihannya mencari jeda sejenak untuk menghilangkan kejenuhan dunia jurnalisme yang digelutinya setiap hari.

Pameran dengan kurator Sujud Dartanto yang menampilkan 15 lukisan dan satu karya instalasi itu menjadi tanda atas kehadiran pelukis baru di Yogyakarta.

Direktur Ruang Dalam art house, Titik Suprihatin yang menyaksikan perjuangan Syam dalam belajar melukis merasa terharu dan bangga dengan capaian Syam ini.  

“Sangat menyenangkan melihat keberhasilan Syam mencapai pameran tunggal,” ujar Titik, istri Gusmen itu saat memberikan sambutan dalam pembukaan pameran, Jumat pekan pertama Maret lalu.

Jika dalam jurnalisme Syam mengabarkan fakta, maka dalam lukisannya ia mewartakan imajinasi atau fantasi tentang kehidupan manusia dalam penggalan sejarah yang dipilihnya.

Syam mengaku sebagai manusia ia hanya mengetahui cerita soal manusia sehingga itulah yang dibawa ke dalam lukisannya.

Lihat dalam serial enam lukisan yang diberi judul seperti pembabagan dalam pentas teater, masing-masing berjudul “adegan no.1” hingga “adegan no.6”. Lukisan dengan latar belakang ruang yang “sepi” itu menampilkan sosok perempuan dan pria.

“Kira-kira lukisan ini bercerita tentang sejarah pergundikan, hubungan seorang Nyai dengan pembesar kolonial,” ujar Syam ketika menjelaskan kepada kolektor lukisan, Oei Hong Djien dan Sita Revuelta, seorang pengusaha mebel yang didaulat membuka pameran itu secara resmi.

Tetapi jurnalis media massa Jubi di Papua ini juga mengajak bermain-main dengan mempertanyakan sejarah. Seperti dalam lukisan berjudul “adegan no.6” ia mengusik dengan pertanyaan, adakah laki-laki bumi putera yang menjadikan nona Belanda sebagai gundiknya? Kitab sejarah perlu dibuka kembali untuk menjawab pertanyaan ini.

Pria berdarah Jawa dan Gorontalo ini juga menjadikan sejarah keluarga sebagai inspirasi melukis. Ini muncul dalam lukisan berukuran 180 kali 200 centimeter berjudul “Malam Bakupas” yang menceritakan para perempuan di Gorontalo berkumpul, menyiapkan hidangan untuk suatu hajatan. Lukisan itu menampilkan bongkahan daging dan para perempuan yang membawa pisau terbaiknya.

“Malam bakupas sangat berkesan bagi saya, dulu saat masih kecil saya sering hadir di sana untuk mengambil daging, atau ada yang memberi sate,” ujarnya.

Lukisan akrilik dan cat minyak di atas kanvas ini menarasikan betapa pentingnya kedudukan para perempuan dalam suatu hajatan. Mereka adalah aktor utama yang menyajikan makanan, salah satu unsur penting dalam suatu hajatan.

Tari, seorang perempuan seniman mengatakan lukisan “Malam Bakupas adalah salah satu favoritnya. Lukisan ini menarasikan bahwa perempuan mempunyai peran penting dalam tatanan kehidupan yang tentu saja tidak boleh dipandang sebelah mata.

“Kita mendapatkan semangat dari lukisan itu,” ujar Tari dalam diskusi artist talk.

Syam juga menyinggung soal sejarah kelam rakyat Papua dengan judul “Mop no.1” dengan keterangan,”gunung, hutan, langit biru-biru/paru paru penuh hirup haru/mama, mama/air pinang masih merah/puji tuhan, rahang masih kuat ketawa. Sedangkan dalam lukisan berjudul “Mop no.2”, keterangannya, buah nangka buk ditanah/air mata macam getah saja/lengket, tajam dan noda/lonceng gereja, pekik merdeka, piuh senjata ha ha ha suaranya.

Ada perasaan getir seperti rasa pinang saat menatap dua lukisan beserta puisi yang mengiringinya. Kehidupan rakyat Papua masih getir tetapi masih bisa membuat joke ala Papua (mop) yang sangat lucu dan cerdas itu.

Memang tidak mudah menebak pesan visual lukisan Syam. Lukisan yang bebas inteprestasi itu diberi keterangan dalam bentuk puisi sehingga orang harus teremenung lama untuk memahaminya.

“Begitulah saya merespon karya lukisan saya sendiri,” ujar Syam.

Dalam diskusi “artist talk”, banyak pula yang memberikan apresiasi kepada karya instalasi “Pada Ruang yang Bercerita”. Padahal Syam membuatnya dengan “semangat Bandung Bondowoso”, ia hanya membutuhkan waktu sekira dua minggu menjelang pameran dibuka. 

“Saya membayangkan dalam masa injury time, tangan saya masih kotor, saya ingin menyajikan karya yang fresh,” ujar Syam memberikan alasan.

Perempuan pelukis, Laila Tifah melihat karya instalasi ini “Syam banget” dan bisa bercerita. Syam dengan jenaka mengisi sebuah panel berisi tulisan “God News is A Bad News”, plesetan dari satu adagium dalam jurnalisme, “bad news is a good news”.

Syam yang jenaka itu memang sering mengejutkan. Ia pernah berlagak sebagai “pawang tuyul” dan memperdaya sejumlah anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) yang ingin melihat sosok mahluk gaib itu. Tentu saja tak ada yang bisa melihatnya dan Syam selalu tertawa terbahak-bahak saat mengenang pengalaman ini.

Kini Syam tengah membuat kejutan lagi dalam dunia seni lukis karena karya-karyanya mengangkat persoalan kehidupan manusia dalam lintasan sejarah. Sujud mengatakan tak banyak pelukis yang mengeksplorasi soal sejarah.

“Yang dibutuhkan adalan saran dan kritik agar Syam semakin maju,” ujar Sujud. (*) BAMBANG MURYANTO

.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here