BERBAGI

Dipukul, dikiting, ditampar. Ajudan Angin bahkan bilang, mau pilih UGD atau kuburan.

AJI Indonesia/Serat.id

Derita Jurnalis Nurhadi, Disekap Mengalami Kekerasan Saat Kerja Jurnalistik

Sabtu Sore, 27 Maret akhir pekan lalu, tak disadari menjadi awal sial Nurhadi, jurnalis Tempo untuk daerah liputan Surabaya dan sekitarnya. Saat itu Nurhadi tiba di Gedung Samudra Morokembang untuk kepentingan menjalankan penugasan konfirmasi ke bekas Direktur Pemeriksaan Ditjen Pajak Kemenkeu Angin Prayitno Aji, terkait kasus suap yang ditangani Komisi Pemberantasan Korupsi.

Gedung Samudra Morokembang merupakan tempat Angin sedang merayakan pesta pernikahan anaknya. Angin berbesan dengan Kombes Ahmad Yani, mantan Karo Perencanaan Polda Jatim.

Ia ditemani seoarang rekannya Fahmi. “Yang memang saya ajak untuk menemani dari awal, memberi tahu jika pintu samping kosong,” ujar Nurhadi, dalam sebuah testimoni kronologi yang diterima serat.id.

Melihat situasi gedung, ternyata tidak bisa bebas keluar masuk karena harus men-scan undangan. Saya balik ke parkiran. Lalu Fahmi, yang memang saya ajak untuk menemani dari awal, memberi tahu jika pintu samping kosong.

Ia akhirnya masuk dari pintu samping. Saat di dalam dia dua kali memfoto pelaminan untuk  memastikan Angin yang berada di sisi kiri mempelai atau kanan. Namun di depan, tepatnya dekat pintu utama ada keterangan hadirin tidak boleh memfoto.

Otomatis tindakan memotret yang ia lakukan menjadi perhatian panitia berseragam batik yang diduga para polisi. Di dalam gedung itu juga ada banyak ajudan Angin yang memakai baju batik seragam.

“Saya baru tahu belakangan bahwa dia ajudan Angin,” kata Nurhadi.

Nurrhadi mengaku saat itu ada seseorang berseragam batik berkepala botak yang diam-diam memfoto  dirinya. Ia juga sempat mendekat ke dia untuk memfoto balik sebagai jaga-jaga jika ada sesuatu menimpa dirinya.

Di situlah Nurhadi mulai kena masalah. Saat ia jalan memutar sampai ke pintu samping tempat awal masuk tadi. Di sana ia didekati laki-laki berseragam batik dan bertanya, apakah dirinya tamu undangan.

Saat itu Nurhadi menjawab sebagai tamu mempelai perempuan. Keluarga mempelai perempuan pun didatangkan dan menyatakan tidak kenal dengan  dirinya. Setelah itu, ia dibawa ke belakang, didorong oleh ajudan Angin. “Dibentak. HP saya diambil, dipegang keluarga mempelai perempuan,” kata Nurhadi menceritakan kisah yang dialami.

Ia dibawa keluar oleh anggota TNI yang bertugas jaga  di sana. Ia kemudian dimasukkan ke mobil patroli dan dibawa ke pos mereka. Tak lama ia ditanya identitas secara baik-baik. Mereka tidak ada yang memukul.

Namun saat perjalnan ada telepon masuk ke petugas di pos yang minta agar dirinya di bawa ke Polres Pelabuhan Tanjung Perak. Saat di tengah perjalanan menuju Polres Tanjung Perak, ada telepon masuk bahwa dirinya dibawa balik ke tempat acara pernikahan tempat dia awal meliput.

“Saya diturunkan di belakang Gedung Samudra Morokembang, dekat mushola. Di situ sudah ramai orang. Ada ajudan Angin, polisi, sampai puluhan,” kata Nurhadi menjelaskan.

Baru turun dari mobil ia sudah dipukul, dikiting, ditampar. Ajudan Angin bahkan bilang, mau pilih UGD atau kuburan.  Di situ juga ada juga ada menantu Angin atau Ahmad Yani. Termasuk anggota polisi juga memberi uang sekitar Rp600 ribu sebagai tanggung penamparan  dan tendangan yang ia rasakan.

“Dia memaksa saya memegang uang itu lalu difoto-foto,”

Baca juga : Kekerasan Jurnalis Yang Terus Berulang dan Diabaikan Negara.

AJI Ternate Kecam Kekerasan Jurnalis Malut Post

Tahun 2020, Kasus Kekerasan terhadap Jurnalis Tertinggi Pascareformasi

Ajudan Angin juga sempat bilang Tempo sebelumnya memfoto rumah Angin. Sambil mengcam akan membawa ke Jakarta dan  kalimat “Nggak bakalan lihat matahari besok pagi.”

Ajudan Angin juga memukul perut, dada, menggampat kuping. Setiap dia bertanya, dan belum menjawab, langsung main tampar. “Saya disuruh menengadah. Saya sempat salah buka password HP, juga langsung ditampar, jotos,” katanya.

Tak hanya itu Ajudan itu juga memaksa membuka handphone dan emailnya. Lagi-lagi dengan ancaman hendak ditampar jika tak dituruti. Mereka akhirnya merestart handphone  hingga semua data untuk kerja-kerja jurnalistik hilang.

Para anak asuh Kombes Ahmad Yani juga mengerubungi. Mereka bertanya, dikiranya Tempo mau menulis soal resepsi. Padahal sudah berulang kali sudah ia jelaskan bahwa hanya ingin konfirmasi ke Angin terkait kasus korupsi.

Kejadian penyiksaan terhadap Nurhadi berlangsung sekitar dua jam. Orang-orang itu tiap bertanya, sambil menampar dan menjotos saya. Nasib Nurhadi diperlakukan seperti pencuri. Bahkan lebih buruk.

**

Pemimpin Redaksi Majalah Tempo, Wahyu Dhyatmika langsung merespon kejadian yang menimpa jurnalisnya itu. Ia menyatakan penganiayaan terhadap Nurhadi jelas melanggar hukum dan prinsip kebebasan pers.

“Ini merupakan serangan terhadap kebebasan pers dan melanggar KUHP serta Undang Undang Pers Nomor 40 Tahun 1999,” kata Wahyu.

Sebagai institusi lembaga media, Tempo mengutuk aksi kekerasan tersebut dan menuntut semua pelakunya diadili serta dijatuhi hukuman sesuai hukum yang berlaku.  

Tempo menilai kekerasan ini merupakan tindak pidana yang melanggar setidaknya dua aturan yakni pasal 170 KUHP mengenai penggunaan kekerasan secara bersama-sama terhadap orang atau barang, dan pasal 18 ayat 1 UU Pers tentang tindakan yang menghambat atau menghalangi kegiatan jurnalistik.

“Ancaman hukuman untuk pelanggaran ini adalah seberat-beratnya  lima tahun enam bulan penjara,” kata Wahyu menegaska.

Baca juga : Kasus Kekerasan terhadap Jurnalis, Tertinggi dalam 11 Tahun Terakhir

28 Jurnalis Jadi Korban Kekerasan

Kekerasan Terhadap Jurnalis Masih Tinggi, Tak Ada Yang dituntaskan

Ia juga meminta Kapolda Jawa Timur Irjen Nico Afinta menindaklanjuti kasus kekerasan terhadap jurnalis Tempo dan memeriksa semua  anggotanya yang terlibat.

Termasuk memohon bantuan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), Komisi Nasional untuk Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) dan Dewan Pers, untuk melindungi korban dari ancaman kekerasan lebih lanjut dan mengawal proses hukum atas kasus  itu.

Kecaman penganiayaan dan penyekapan terhadap jurnalis Nurhadi juga disampaikan organisasi masyarakat sipil, tokoh masyarakat dan akademisi. Mereka mengutuk penganiayaan Jurnalis Tempo, dan minta agar diusut secara tuntas.

Setidaknya ada 10 organisasi masyarakat yang meminta kasus itu harus disut tuntas. Termasuk Aliansi Anti Kekerasan Terhadap Jurnalis yang terdiri dari Aliansi Jurnalis independen (AJI) Surabaya, Kontras, LBH Lentera, LBH Pers, dan LBH Surabaya juga melakukan pendampingan terhadap Nurhadi sebagai korban.

“Kami mengecam aksi kekerasan ini dan mendesak aparat penegak hukum untuk profesional menangani kasus ini, apalagi mengingat bahwa sebagian pelakunya adalah aparat penegak hukum,” ujar Eben Haezer.

 Dia juga mengingatkan kepada masyarakat serta aparat penegak hukum bahwa kerja-kerja jurnalistik dilindungi oleh Undang-undang Pers.

Sedangkan koordinator Kontras Surabaya, Rachmat Faisal, mengatakan terulanganya kasus kekerasan terhadap jurnalis yang menimpa Nurhadi menunjukkan lemahnya aparat kepolisian dalam memberikan perlindungan terhadap jurnalis yang melakukan kerja-kerja jurnalistik.

“Polisi juga gagal mengimplementasikan Perkap Nomor 8 tahun 2009 mengenai implementasi HAM dalam tugas-tugasnya,” Ujar Faisal.

Ketua Dewan Pers, Mohammad Nuh juga Mengutuk pelaku kekerasan terhadap saudara jurnalis Nurhadi. “Kekerasan tidak dibenarkan dilakukan kepada siapa pun, termasuk terhadap wartawan yang sedang melakukan kegiatan jurnalistik,” kata Mohammad Nuh.

Ia juga mendesak aparat kepolisian mengusut dan menghukum pelaku. “Dewan Pers berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait untuk menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi saudara Nurhadi,” kata Mohammad Nuh menegaskan. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here