BERBAGI

Inflasi di Jateng pada Februari 2021 sebesar 0,17 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 105,92. Dari enam kota IHK di  Jawa  Tengah,  semua  kota  mengalami  inflasi

Ilustrasi, pixabay.com

Serat.id –  Penyebab  utama  inflasi  di  Jawa  Tengah  Februari  2021  dipengaruhi kenaikan harga  cabai  merah,  cabai  rawit,  bawang  merah,  mobil, dan  rekreasi. Sedangkan penahan utama inflasi di turunnya harga daging ayam ras, emas perhiasan, jeruk, minyak goreng,dan tomat.

“Tingkat  inflasi  tahun  kalender  Februari  2021  sebesar  0,39  persen  dan tingkat  inflasi  tahun  ke  tahun  (Februari  2021  terhadap  Februari  2020) sebesar 1,42 persen,” kata kepala BPS Jawa Tengah, Sentot Bangun Widoyono, dikutip dari situs resmi, Kamis 2 April 2021.

Baca juga : Tekan Inflasi, Pemkot Semarang Gelar Bazar Ramadan

Kenaikan Harga Telur Ayam Ras dan BBM Sumbang Inflasi Tertinggi Jateng

Pangan dan Transportasi Pengaruhi Inflasi Jateng

Tercatat inflasi di Jateng pada Februari 2021 sebesar 0,17 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 105,92. “Dari enam kota IHK di  Jawa  Tengah,  semua  kota  mengalami  inflasi,” kata Sentot menambahkan. 

Menurut dia, inflasi  tertinggi  terjadi  di Kota Surakarta sebesar 0,26 persen dengan IHK sebesar 105,59 diikuti Kota Tegal sebesar 0,25 persen dengan IHK sebesar 106,34, diikuti Kota Kudus sebesar 0,20  persen  dengan  IHK  sebesar  105,15.

Sedangkan di ibu kota provinsi Kota  Semarang  sebesar  0,16 persen dengan IHK sebesar 106,23.  Kota Purwokerto sebesar 0,15 dengan IHK  sebesar  105,39  dan  inflasi  terendah  di Kota  Cilacap  sebesar  0,12 persen dengan IHK 104,66.

Sentot menyebut inflasi  terjadi  karena  adanya  kenaikan  indeks  pada  beberapa  kelompok pengeluaran. Antara lain kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 0,81  persen;kelompok  makanan,  minuman,  dan  tembakau  sebesar  0,48 persen, kelompok transportasi sebesar 0,19 persen;kelompok perumahan, air,  listrik,  gas,  dan  bahan  bakar  lainnya  sebesar  0,14  persen;kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,09 persen kelompok penyediaan makanan dan minuman atau restoran sebesar 0,09 persen

“Kelompok kesehatan juga ikut mempengaruhi sebesar 0,03 persen sertakelompok  perlengkapan,  peralatan,  dan  pemeliharaan rutin  rumah  tangga  sebesar  0,03  persen, kata Sentot menjelaskan.

Sedangkan deflasi  terjadi  karena  adanya penurunan indeks   padadua   kelompok   pengeluaran,   yaitu   kelompok perawatan  pribadi  dan  jasa  lainnya  sebesar  0,52  persen sertakelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,02 persen. untuk  kelompok  pendidikan  tidak  mengalami  perubahan  indeks  atau relatif stabil. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here