BERBAGI

Saat majelis hakim meminta untuk meletakan pistol tersebut di meja panitera, saksi sempat menolak sebanyak dua kali

Ilustrasi, pixabay.com

Serat.id –  Saksi polisi membawa senjata dalam ruang sidang perkara pidana kriminalisasi mahasiswa penolak omnibus law di Pengadilan Negeri Semarang pada, Selasa 6 April 2021. Sidang dengan agenda mendengarkan keterangan dari polisi yang menyidik IRF dan NAA, dua demonstran yang dipidanakan Polrestabes Semarang.

“Saksi Reza Arif Hadafi dengan pangkat IPTU yang merupakan anggota kepolisian di Unit Reskrim Polrestabes Semarang membawa senjata api berpeluru kedalam ruangan persidangan,” kata salah satu anggota Tim Advokasi Kebebasan Berpendapat Jawa Tengah, Kahar Mualam Syah, usai sidang.

Bahkan, menurut Kahar, saat majelis hakim meminta untuk meletakan pistol tersebut di meja panitera, saksi sempat menolak sebanyak dua kali.  “Selain itu terdapat beberapa personel polisi lain yang duduk di bangku penonton juga turut membawa senjata api berpeluru,” kata Kahar menambahkan.

Berita terkait : Mahasiswa Penolak UU Omnibus Law di Semarang Jadi Tersangka

50 Advokat Minta Penangguhan Penahanan Mahasiswa Unissula Penolak Omnibus Law

Advokat Kebebasan Berpendapat Minta Polrestabes Tangguhkan Penahanan Mahasiswa

Hal tersebut menunjukan kecenderungan intimidasi yang diberikan oleh polisi kepada IRF, NAA, penasihat hukum yang mendampingi, bahkan tidak menutup kemungkinan juga majelis hakim yang bertugas.

Selain itu terdapat upaya pengangkangan hukum yang dilakukan karena aturan hukum maupun peraturan di Pengadilan Negeri Semarang telah menegaskan bahwa dalam persidangan dilarang membawa senjata api.

Kahar mengutip pasal 219 KUHAP dengan tegas menyatakan bahwa Siapa pun dilarang membawa senjata api, senjata tajam, bahan peledak atau alat maupun benda yang dapat membahayakan keamanan sidang dan siapa yang membawanya wajib menitipkan di tempat yang khusus disediakan untuk itu

Dengan kondisi itu, tim advokad mahasiswa minta majelis hakim memberikan pernyataan maupun langkah tegas terhadap pelanggaran hukum yang dilakukan oleh saksi tersebut. Pasalnya, dengan adanya senjata api yang berada dalam ruang persidangan, maka majelis hakim tidak bisa memastikan keselamatan, keamanan serta kenyamanan dari para peserta sidang yang terhormat tersebut.

Selain itu, perlu ada sebuah evaluasi dari Pengadilan Negeri Semarang untuk meningkatkan keamanan maupun penerapan dari peraturan yang telah ditetapkan,  sehingga kemudian hari tidak terulang kembali hal-hal seperti itu.

Tim advokat juga menilai keterangan para saksi dari kepolisian diduga bohong, pasalnya saksi menyampaikan tidak ada kekerasan yang dilakukan oleh polisi kepada IRF dan NAA pada saat proses penyidikan.

“Selain itu, Saksi juga menyampaikan bahwa IRF dan NAA diberi akses untuk membaca BAP yang telah dicetak sebelum ditandatangani. Padahal, fakta yang disampaikan oleh IRF dan NAA menyatakan bahwa terdapat penyiksaan berupa pemukulan, tendangan, injakan secara bertubi-tubi kepada mereka oleh banyak polisi yang berada di Polrestabes Semarang,” kata Kahar menegaskan.

Ia menilai sikap para skasi tersebut dilakukan untuk mengejar dan memaksakan pengakuan dari IRF dan NAA. Selain itu IRF dan NAA juga tidak diberikan kesempatan untuk membaca BAP yang telah dicetak, melainkan dipaksa untuk segera menandatanganinya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here