Pemerintah Provinsi Jateng diminta terus menggenjot ekspor komoditas unggulan yang  selama ini belum digarap secara serius.

Ilustrasi, pixabay.com

Serat.id – Ekspor Jawa Tengah pada awal tahun 2021 ini mulai menggeliat, tercatat ekspor pada Februari 2021 naik 3,33 persen dibanding ekspor Januari 2021 yaitu dari US$756,17 juta menjadi US$781,37 juta.

“Begitu pula jika dibandingkan dengan nilai ekspor Februari 2020, naik 8,05 persen,”tulis laporan badan pusat statistikk  (BPS) Jateng, dalam laporannya.

Laporan yang diunggah dalam situs resmi BPS jateng itu menyebutkan peningkatan ekspor Februari 2021 dibanding ekspor Januari 2021 disebabkan oleh naiknya ekspor migas maupun non migas. Tercatat ekspor migas  mengalami peningkatan yaitu sebesar 128,33 persen, dari US$18,30 juta (Januari) menjadi US$41,78 juta (Februari). Begitu pula dengan ekspor non migas juga mengalami peningkatan yaitu sebesar 0,23 persen, dari US$ 737,87 juta pada Januari, menjadi US$ 739,59 juta pada Februari.

Baca juga : Wabah Corona Turunkan Ekspor Perikanan Jateng

Bertahan di Tengah Pandemi

Alasan Jateng Menolak Aturan Komoditas Perikanan dan Pergaraman

Sedangkan peningkatan ekspor migas disebabkan oleh naiknya ekspor hasil minyak, sementara pada bulan yang sama tidak ada ekspor gas, gas alam dan minyak mentah.  

Nilai ekspor Jawa Tengah Februari 2021 sebesar US$ 781,37 juta atau naik 3,33 persen dibanding ekspor Januari 2021. Begitu pula jika dibandingkan dengan ekspor Februari 2020 naik sebesar 8,05 persen.

Tiga negara tujuan ekspor non migas terbesar Februari 2021 meliputi Amerika Serikat dengan nilai US$ 291,99 juta, disusul Jepang US$68,10 juta dan Tiongkok atau China US$52,75 juta, dengan kontribusi ketiganya sebesar 55,99 persen selama Februari 2021.

Sedangkan impor Jawa Tengah Februari 2021 sebesar US$ 771,03 juta atau  turun 12,36 persen dibanding impor Januari 2021. Begitu pula jika dibandingkan dengan nilai impor Februari 2020 turun sebesar 18,52 persen.

Sektor non migas pada Februari 2021 mencapai US$606,99 juta, naik sebesar US$ 5,77 juta atau 0,96 persen dibanding impor Januari 2021. Tiga negara pemasok barang impor non migas terbesar selama Februari 2021 ditempati oleh China dengan nilai US$310,27 juta, diikuti India US$44,11 juta dan Amerika Serikat US$38,53 juta.

Sekretaris Komisi perekonomian DPRD Jateng Muhammad Ngainirrichad, mengatakan hasil ekspor itu harus menjadi acuan pemerintah provinsi Jateng terus menggenjot ekspor komoditas unggulan yang  selama ini belum digarap secara serius.

“Banyak produk UMKM yang laku di luar negeri contoh gula semut, beberapa informasi yang saya terima Taiwan, Korea, China membutuhkan,” kata Ngainirrichad.

Menurut dia, basis produksi gula semut di Temangung, Purworejo  dan sekiatanya jika diberdayakan eksport maka bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat. Selain itu hasil perkebunan juga banyak potensi diekspor, diantaranya porang sudah banyak dikenal.

“Termasuk bahan obat-obatan diperlukan di China dan Nepal. Ketersediaan hasil kebun Jateng banyak. Panili dulu jateng sbagai lumbung tapi saat ini tak begitu mengeliat,” kata Ngainirrichad, menjelaskan.

 Jika digerakan serius, maka ke depan salah satu komoditas itu layak dijual ekspot, karena Amerika dan sejumlah negara lain juga menerima. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here