Seorang transpuan yang tengah mengajari para bocah  sekitar usahanya sekaligus tempat tinggal untuk mengaji

belajar mengaji
Silvi mengajari bocah dan perempuan mengaji di rumahnya Jalan Randusari Rt06 /RW 01, Semarang Selatan. (Serat.id/Anindya Putri)

Serat.id – Lantunan ayat suci Al-Quran  sayup-sayup dengar dari rumah bercat ungu yang sesak dipenuhi alat-alat salon kecantikan. Rumah berada di gang sempit yang hanya bisa dilewati sepeda motor di jalan Randusari, Semarang Selatan dipenuhi sejumlah bocah laki-laki memangku sebuah buku Iqro. Sedangkan seorang berkerudung dengan warna biru tua duduk bersila bersama.

Dia adalah Silvi Mutiari, seorang transpuan yang tengah mengajari para bocah  sekitar usahanya sekaligus tempat tinggal untuk mengaji.  “Jadi setiap sore anak-anak ini datang ke rumah untuk belajar ngaji sama aku,” kata Silvi saat ditemui Serat.id di kediamannya, Rabu 14 april 2021 kemarin.

Baca juga : Pentas Wayang Transgender, “Kisah Bambang Perjuangkan Hak”

Keji, dituding mencuri HP Seorang Transgender Mati dibakar

Surat Edaran KPI Pusat Berpotensi Diskriminatif Kelompok Minoritas

Menurut Silvi, sudah dua kali di bulan suci Ramadhan ini kediaman sekaligus tempat usahanya  ramai didatangi bocah para bocah laki-laki dan perempuan dewasa yang menyambangi rumahnya untuk mengaji bersama Silvi. Hal itu terjadi saban menjelang sore tepatnya setelah adzan Asyar. Sedangkan kegiatan belajar mengaji dilakoni sejak awal pandemi Covid-19 tahun 2020 lalu.

Silvi menceritakan awal mula dirinya memilih untuk mengajari mengaji anak-anak yang berada di sekitar rumahnya. “Bermula dari dihentikannya seluruh kegiatan kampung termasuk kegiatan mengaji akibat merebaknya virus Covid-19,” kata Silvi menjelaskan.

Saat itu seorang ustadzah yang biasa menjadi guru mengaji di kampung Randusari tak lagi membuka kelas mengajinya, lantaran adanya anjuran dari Pemerintah untuk tidak berkerumun ketika pandemi.

Beberapa orang tua mulai kebingungan mencari guru mengaji di kampung tersebut. Hal itu menjadikan dia yang saat remaja telah khatam Al-Qur’an hingga tiga kali memberanikan diri menawarkan sebagai guru mengaji untuk anak-anak di rumahnya.

“Dulu aku udah Khatam Qur’an  beberapa kali, terus dengar guru ngaji katanya dia itu ustadzah yang ngajar ngaji di sini. Karena ada covid-19 dia enggak ngajar lagi, dari situ aku nawarin buat ngajarin ngaji dan orang tua anak-anak mau,” kata Silvi di tengah menyimak anak didiknya yang mengaji.

Selama satu tahun menjadi guru mengaji dirinya tak pernah menentukan biaya bulanan kepada orang tua anak yang menimba ilmu ditempatnya. Selain anak-anak, lambat laun perempuan dewasa dan ibu-ibu juga tergelitik untuk ikut belajar mengaji kepada Silvi.

Seiring berjalannya waktu setiap seminggu sekali yakni pada malam Jum’at rumah Silvi juga digunakan untuk pengajian para ibu-ibu di kampungnya. “Aku tak pernah mungut biaya atau minta honor ngaji, yang mau belajar sama aku silahkan datang ke rumah,” katanya.

Mega, seorang ibu rumah tangga yang juga murid Silvi mengaji, menuturkan dirinya merasa terbantu dengan adanya inisiatif dari Silvi mengajar ngaji di kampungnya. 

“Merasa nyaman dan sudah dua kali Ramadhan ini mengaji serta mengikuti kegiatan pengajian di rumah Silvi,” kata Mega.

Tak hanya dirinya, Ia juga mempercayakan anaknya yang berusia belum genap lima  tahun untuk diajari mengaji oleh Silvi.

“Karena dekat rumah ya, sangat terbantu waktu mbak Silvi mau ngajar ngaji. kebetulan juga ini pas puasa jadi cari waktu luang sebelum buka,” tutur Mega.

Silvi juga merupakan Ketua Persatuan Waria (Perwaris) Kota Semarang. Ia juga kerap aktif dalam kegiatan sosial dengan komunitasnya. Kesehariannya Ia bekerja lepas menjadi pembawa acara di setiap kegiatan yang diadakan instansi/komunitas.

Kepada serat.id ia mengatakan selama masih diberikan kesehatan dan kemampuan akan tetap mengajar ngaji di lingkungannya.”Semoga dikasih sehat terus ya itu aja sudah cukup, biar bisa terus ngajarin anak-anak ngaji,” kata Silvi berharap. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here