Ada satu bagian di dalam museum yang lantainya dibuat dari kaca tembus pandang, dengan tujuan pengunjung dapat secara langsung melihat bekas bastion yang menjadi bukti benteng Kota Lama Semarang.

serat.id
Maket museum kota Museum Kota Lama Semarang, yang dijelaskan Wali Kota Hendi saat diskusi, Jum’at, 16 April 2021, (Ulil Albab/serat.id)

Serat.id – Museum Kota Lama Semarang yang menempati Polder Bubakan di kawasan kota tua akan mengaplikasikan teknologi digital. Museum itu  akan tebagi dalam lima bagian yang menjelaskan tentang  sejarah Kota Lama Semarang.

“Mulai dari fase pra benteng, yang kedua fase peralihan dari fase pra benteng ke benteng, ketiga fase benteng, keempat peralihan dari fase benteng ke pasca benteng, kelima pasca benteng,” ujar  Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, saat webinar “Pengembangan Museum dan Kawasan Kota Lama Semarang”, Jumat , 16 April 2021.

Baca juga : Mengais Rezeki di Tengah Kota Nyaris Mati

Menggelontorkan Ratusan Miliar Terhambat Pandemi

Cerita Hilangnya 108 Candi di Kawasan Dieng

Wali Kota Semarang yang akrab disapa Hendi itu menjelaskan, setiap bagian museum akan mengaplikasikan teknologi digital. Namun ada satu bagian di dalam museum yang lantainya dibuat dari kaca tembus pandang, dengan tujuan pengunjung dapat secara langsung melihat bekas bastion yang menjadi bukti benteng Kota Lama Semarang.

“Sedangkan halaman museum akan berfungsi untuk taman air mancur yang dapat dinikmati pengunjung,” kata Hendi menambahkan.

Keberadaan museum juga berdekatan dengan kawasan rumah pompa Berok yang dimanfaatkan fungsinya sebagai Tourism Information Center (TIC) atau pusat informasi turis. Tempat ini digadang-gadang oleh Hendi menjadi salah satu tempat swafoto yang menarik bagi pengunjung.

Menurut Hendi, saat ini 60 persen dari 124 bangunan cagar budaya yang ada di Kawasan Kota Lama Semarang telah dimanfaatkan untuk aktivitas sosial ekonomi dan budaya. Pemkot Semarang mengupayakan revitalisasi kawasan Kota Lama Semarang sejak tahun 1996 hingga 2020.

Dalam Tercatat Pemkot Semarang telah membebaskan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) di Kota Lama dan insentif pajak diskon 50 persen, serta mengatasi banjir di sekitar untuk merevitalisasi kawasan tersebut.

“Keberhasilan Kota Lama Semarang itu disebabkan tidak hanya infrastrukturnya saja, tapi juga rohnya kita dihidupkan, rohnya adalah para pemilik gedung cagar budaya tersebut,” kata Hendi menjelaskan.

Hendi menyebut pada tahun ini Pemkot Semarang menyasar pada revitalisasi  kawasan Kampung Melayu dan Kampung Kauman. Kawasan terakhir yang akan direvitalisasi ialah Kampung Pecinan.

“Kampung Pecinan menjadi yang terakhir, karena sudah eksis sedemikian rupa (ada) pasar gang baru, pasar semawis, mereka sudah mapan disitu,” katanya.

Guru Besar Sejarah Undip, Dewi Yuliati, menyebut bastion yang ada di bawah museum merupakan bastion Amsterdam, termasuk salah satu dari enam  bastion yang menjadi sebuah benteng  Kota Lama Semarang atau dikenal Europeesche Buurt. Keberadaan benteng tersebut dapat dilihat pada peta Semarang tahun 1787.

“Kawasan Kota Lama Semarang dulu dikelilingi benteng dan juga parit atau dikenal sebagai Groote Rivier yang masih bisa dilayari oleh perahu yang mengambil produk dari laut jawa,” ujar Dewi.

Ia berharap museum tersebut dapat memuat narasi secara ringkas dan informatif dengan turut memuat perkembangan dinamika peta yang ada dan foto perbandingan antara bangunan dahulu dan kini.

Selain itu, ia juga berharap agar akses museum tersebut dapat diperbaiki dengan memperhatikan akses difabel.

“Akses difabel itu dipersoalkan karena saya masih melihat sekitar Museum Kota Lama masih ada tangga  yang mengelilingi, (belum ada tangga landai),” kata Dewi menjelaskan. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here