Aksi yang dilakukan para perempuan itu sebagia simbol ibu bagi anak bangsa. Mereka mengajak seluruh perempuan Indonesia untuk mewarisi semangat RA Kartini dalam mendobrak feodalisme.

kartini kendeng JMPPK
Aktivis JM-PPK saat aksi hari Kartini dan hari Bumi, mereka mendorong kelestarian pegunungan Kendeng (Dok/JM-PPK)

Serat.id –  Para perempuan pegiat lingkungan di kawasan pegunungan Kendeng Jawa Tengah menggelar kasi damai memperingati hari Kartini sekaligus hari hari Bumi bretepatan 21 dan 22 April 2021. Rangkaian aksi dilakukan di sejumlah titik rencana tapak pabrik PT SMS di Desa Larangan, Tambakromo; Desa Sukolilo; Desa Kedu, Sukolilo. Para perempuan yang menemakan Kartini Kendeng juga melakukan aksi di wilayah CAT Watuputih, Pegunungan Kendeng, Rembang.

“Peringatan Hari Kartini dan Hari Bumi bagi Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JM-PPK) bukan hanya peristiwa seremonial belaka,”kata juru bicara Kartini Kendeng, Sukinah, dalam pernyataanya kepada serat.id, Jum’at, 23 April 2021  

Baca juga : Cara Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng Peringati Sumpah Pemuda

Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng Peringati Kemerdekaan Dengan Keprihatinan

Tagih Hasil Revisi Perda RTRW, Masyarakat Peduli Kendeng Geruduk DPRD Rembang

Sukinah menyatakan aksi dalam peringatan dua momentum perempuan dan bumi yang dilakukan adalah momen istimewa. Tak hanya untuk perwujudan sikap penolakan terhadap segala upaya pengalihan fungsi lahan pertanian untuk industri, namun perlawnan perusakan kawasan karst Kendeng untuk penambangan batu kapur.

“Ini juga upaya perjuangan panjang yang kami lakukan sudah lebih dari 1 dekade bahkan hingga hari ini kami belumlah tidur nyenyak,” kata Sukinah menambahkan.

Dalam aksi kali ini, Kartini Kendeng menyerukan sejumlah tuntutan. Di antaranya menuntut pemegang saham Indocement di Jerman untuk segera mengambil langkah menghentikan rencana pembangunan pabrik semen di Pegunungan Kendeng dalam rapat pembahasan tindak lanjut perusahaan pada bulan Mei 2021.

Langkah itu dinilai penting untuk segera diambil mengingat posisi Indocement yang telah kalah secara hukum dalam sengketa izin lingkungan di Pengadilan Tata Usaha Negara. Yang artinya Indocement tidak lagi memiliki legitimasi untuk bersikeras mendirikan pabrik dan pertambangan kapur di Pegunungan Kendeng.

Kartini Kendeng juga menyoroti tentang rekomendasi KLHS Pegunungan Kendeng yang tidak kunjung dilakukan oleh pemerintah dan kementerian terkait. Hal ini menyebabkan lingkungan Pegunungan Kendeng terancam akibat eksploitasi pertambangan.

“Padahal rekomendasi KLHS jelas menyatakan bahwa kawasan Pegunungan Kendeng tidak layak untuk ditambang karena fungsi lingkungannya yang begitu penting,”kata Sukinah menambahkan.

Sukinah menegaskan Kartini Kendeng mendesak agar operasi PT Semen Indonesia di Rembang segera dihentikan sebab terbukti tidak sesuai dengan KLHS dan telah melanggar putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap.

Selain itu ia mengacu putusannya Gubernur diperintahkan untuk mencabut izin lingkungan PT SG yang berubah jadi PT SI, namun tidak dijalankan.

“Kartini Kendeng juga mendesak pemerintah serius menjaga kelestarian lingkungan Pegunungan Kendeng di tengah ancaman krisis iklim dan risiko bencana yang menyertainya, serta ancaman krisis pangan,” kata Sukinah menegaskan. (*) Aksi yang dilakukan para perempuan itu sebagia simbol mereka adalah ibu bagi anak bangsa. Jika

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here