Sampah bisa diuangkan dengan memberdayakan masyarakat memilah jenis sampah non organik kemudian dijadikan sesuatu yang bisa berguna

Ilustrasi, pixabay.com

Serat.id – Bank sampah Resik Becik atau BSRB di Jalan Madukoro V, Krobokan, Kecamatan Semarang Barat turut berperan aktif dalam penanganan sampah plastik di Kota Semarang. Bank sampah yang di bentuk pada 15 Januari 2012 lalu itu berawal dari keresahan tingginya produksi sampah yang mengotori lingkungan.

“Awal dibentuk BSRB hanya mempunyai 15 nasabah,” kata Direktur Bank Sampah Resik Becik, Ika Yudha Kurniasari, kepada Serat.id, Sabtu, 24 April 2021 kemarin.

Baca juga : Rencana Pembangunan PLTSa di Semarang dan Surakarta, Ini Pendapat Walhi

Ini Cara Daur Ulang Masker Sekali Pakai

Bahaya Konsumsi Daging Sapi Pemakan Sampah

Kini dengan kegigihan Ika bersama tinga orang anggota timnya, nasabah bank sampah yang ia kelola bertambah menjadi 600 orang, baik secara personal dan komunal. Menurut Ika, tak ada syarat khusus untuk menjadi nasabah.

“Hanya menyetorkan sampah sudah otomatis menjadi nasbah,” kata Ika menambahkan.

Nasabah bank sampah yang ia kelola terbagi menjadi dua, masing-masing nasabah aktif yang mereka setor sampah rutin per minggu atau bulan. Jumlah nasabah aktif itu mencapai 100 orang. Sedangkan sisanya nasabah pasif, setor sampahnya bisa sebulan sekali atau lebih.

Menurut Ika sampah bisa diuangkan dengan memberdayakan masyarakat memilah jenis sampah non organik kemudian dijadikan sesuatu yang bisa berguna. Pengelola BSRB memberi pelatihan ketrampilan, penyuluhan lingkungan, pembuatan produk kreasi sampah, pembuatan Eco Enzym, sedekah sampah, pembuatan ecobrick kepada masyarakat.

“Sampah yang kami terima akan dipilah, ditimbang dan dicatat di buku tabungan,” ucap Ika menjelaskan.

Sampah plastik yang telah dipilah, kemudian diproses menjadi tas, dompet, tikar, pigura dan kreasi lainya. Sampah yang tidak bisa di buat kreasi dikerjasamakan  dengan pengepul untuk dijual ke pabrik recycle.

Ika menyebut nasabah dapat mencairkan uang sebulan sekali. Jumlah uang yang didapat tentunya berdasar jumlah sampah yang disetorkan. Untuk mainan plastik per kilogram dihargai hargai Rp300, ember plastik Rp1.500, begitu  pula botol minum kemasan. Untuk sampah non organik lainya juga ada harganya sendiri, tergantung jenisnya.

Mendirikan bank sampah bagi Ika bukan tak menemui kendala, saat ini justriu ia dihadapkan keterbatasan lokasi, serta pemahaman lingkungan mengenai sampah masih sangat rendah.

“Kurangnya kepedulian serta kesadaran dampak negatif sampah, rendahnya apresiasi terhadap kreasi daur ulang sampah dan hambatan pemasaran produk kreasi juga menjadi kendala,” katanya.

Ia berharap masyarakat lebih peduli sampah serta menjaga lingkungan agar lingkungan lebih bersih dan sehat.

Field Officer Yayasan Bintari, Yuliana Rachmawati mengatakan jumlah sampah di Kota Semarang pada 2020 tiap hari mencapai 1.270 ton terdiri dari organik dan non organik.

“Penangananya ya masyarakat agar sadar sampah, pemilahan melalui bank sampah,” kata Yuliana.

Yuliana menyebut Kota Semarang ada 160 bank sampah. Sebanyak 50 bank sampah yang ia dampingi. Saat ini lembagnya mengkampanyekan pengolahan sampah dari hulu atau konsumen karena lebih efektif.

“Gerakan itu kami lakukan salah satunya melalui media sosial,” kata Yuliana menambahkan.

Lembaganya mengajak agar masyarakat lebih sadar sampah serta mampu memilah sampah organik dan non organik, sebelum dibuang. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here