IFJ prihatin dengan meningkatnya kekerasan terhadap jurnalis di Indonesia

Dok/ifj.org

Serat.id – International Federation of Journalists atau IFJ menyurati Presiden Joko Widodo terkait kasus kekerasan yang menimpa jurnalis Tempo, Nurhadi. IFJ menilai penyelesaian kasus ini akan menjadi salah satu tindakan nyata untuk melindungi kebebasan pers.

“Kami mengungkapkan keprihatinan yang besar atas penyekapan dan penyerangan terhadap jurnalis Tempo Nurhadi dan menyerukan kepada pemerintah Indonesia menekankan komitmennya pada kebebasan pers melalui tindakan nyata dalam kasus ini,” kata Jane Worthington, Director IFJ Asia-Pacific, dalam surat yang dikirim kepada Presiden Joko Widodo, 27 April 2021.

Baca juga : Ini Alasan Kasus Kekerasan Dialami Jurnalis Nurhadi Diadukan ke Komnas HAM

Mahfud MD Pastikan Pengusutan Kekerasan Terhadap Jurnalis Nurhadi

Derita Jurnalis Nurhadi, Disekap Dipukuli Saat Bertugas

IFJ adalah organisasi jurnalis terbesar di dunia yang beranggotakan 600 ribu jurnalis di lebih dari 140 negara. Didirikan pada tahun 1926, IFJ adalah organisasi yang mewakili jurnalis di  Perserikatan Bangsa-Bangsa dan dalam gerakan serikat pekerja internasional.

Menurut Jane, IFJ prihatin dengan meningkatnya kekerasan terhadap jurnalis di Indonesia. Hal hal itu mengacu data Aliansi Jurnalis Independen  (AJI), yang menyebutkan sejak 2006,  hingga sekarang ada 848 kasus kekerasan terhadap jurnalis.

Angka tertinggi terjadi pada tahun 2020 yaitu 84 kasus kekerasan. Pelaku sebagian besar adalah aparat keamanan dan sebagian besar dari kasus ini belum diselidiki.

“Hal ini menjadi alasan IFJ mendesak agar mereka yang terlibat kekerasan pada Nurhadi bisa dimintai pertanggungjawaban,” kata Jane menjelaskan.

Selain  kasus Nurhadi, IFJ juga prihatin dengan tren serangan digital dan mendesak agar Presiden Jokowi meninjau UU ITE karena telah nyata mengancam  jurnalis Indonesia. Sepanjang 2020, dua jurnalis dijatuhi hukuman penjara dengan UU ini. Sejak awal, IFJ menentang UU ITE dan telah memperingatkan dampaknya terhadap kebebasan pers.  

“Organisasi kami mewakili lebih dari 600 ribu jurnalis dan masing-masing dari mereka bersolidaritas dengan Nurhadi dan setiap jurnalis Indonesia lainnya.  Mohon Anda untuk melindungi keamanan mereka dengan menjamin investigasi yang adil dan menyeluruh,” tulis Jane dalam suratnya.

Ketua Umum AJI Indonesia, Sasmito mengatakan, solidaritas dari IFJ menunjukkan kasus kekerasan terhadap jurnalis di Indonesia menjadi perhatian internasional. Sehingga tak ada alasan lagi bagi presiden untuk tidak menuntaskan semua kasus kekerasan terhadap jurnalis.

“Termasuk kasus Nurhadi yang belum ada tersangkanya hingga hari ini, meski kasus ini telah diproses sebulan di Polda Jawa Timur. Presiden harus turun tangan jika diperlukan untuk memastikan kasus ini menjerat pelaku utamanya,” kata Sasmito.

Nurhadi menjadi korban penganiayaan saat melakukan reportase di Gedung Samudra Bumimoro, Sabtu 27 Maret 2021 malam. Saat itu Nurhadi berencana meminta keterangan terkait kasus dugaan suap yang dilakukan oleh Direktur Pemeriksaan Ditjen Pajak Kemenkeu, Angin Prayitno Aji yang sedang ditangani Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)

Nurhadi mendatangi tempat berlangsung pernikahan antara anak Angin Prayitno Aji dengan putri Kombes Pol Achmad Yani, mantan Karo Perencanaan Polda Jatim.

Dalam peristiwa tersebut, Nurhadi tak hanya dianiaya oleh para pelaku yang berjumlah sekitar 10 sampai 15 orang. Pelaku juga merusak sim card di ponsel milik Nurhadi serta menghapus seluruh data dan dokumen yang tersimpan di ponsel tersebut. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here