Total sampah makanan sebanyak 300 kilogram per tahun per kapita

Ilustrasi, sampah di TPA Tatibarang Kota Semarang. (Dok/Serat.id)

Serat.id – Indonesia merupakan salah satu penghasil sampah terbesar di dunia dengan  44 persen di antaranya sampah makanan.  Hal itu sesuai dengan data FAO, sepertiga bahan makanan berakhir sebagai sampah.

“Karenanya, tidak mengagetkan jika Economic Intelligence Unit mencatat Indonesia sebagai negara penghasil sampah makanan terbesar kedua di dunia, dengan total sampah makanan sebanyak 300 kilogram per tahun per kapita,” kata Direktur Lingkungan Hidup, BAPPENAS, Medrilzam, dalam keterangan resmi, Jum’at, 30 April 2021.

Baca juga : BSRB, Mengolah Sampah Menjadi Rupiah

Bahaya Konsumsi Daging Sapi Pemakan Sampah

Ini Cara Daur Ulang Masker Sekali Pakai

Hal ini sangat miris mengingat Indeks Kelaparan (Hunger Index) Indonesia ada di angka 19.9 dan masuk dalam kategori “Almost Severe”.  Sedangkan data lain dari UNEP Food Waste Index tahun 2021 menunjukkan bahwa jumlah sampah makanan secara global mencapai angka 931 juta ton pada tahun 2019.

“Di sisi lain, pemerintah Indonesia tetap optimis untuk  mengurangi sampah dengan target 30 persen dan 70 persen  pada tahun 2025, termasuk di dalamnya adalah sampah makanan,” kata Medrilzam menambahkan.

Ia menegaskan pengurangan sampah makanan menjadi salah satu prioritas dalam RPJMN 2020 hingga 2024.

Direktur Pangan dan Agrikultur BAPPENAS, Anang Nugroho, mengatakan produk hortikultura, terutama sayuran penyumbang sampah makanan terbesar di Indonesia, yang wajib mendapat perhatian.

“Salah satu solusi tepat dalam menangani permasalah sampah makanan ini adalah dengan pelibatan sektor bisnis,” kata Anang.

Berdasarkan paparan dalam diskusi bertajuk “Aksi Bisnis untuk Atasi Susut Pangan dan Limbah Pangan di Indonesia” yang diselenggarakan Indonesia Business Council for Sustainable Development (IBCSD) pada 29 April 2021, hanya 11,5 persen sampah makanan dihasilkan pada proses konsumsi.

Sementara, proses produksi menyumbang 23,5 persen susut dan limbah pangan, penyimpan pasca panen menyumbang 24,4 persen, proses manufaktur 20,3 persen, dan distribusi sebesar 20,3 persen.

“Artinya, bisnis memiliki peran sangat besar dalam menangani masalah ini,” kata Anang menambahkan.

Executive Committee IBCSD, Yono Reksoprodjo, mengatakan kondisi yang ada itu menjadi alasan lembaganya mengenalkan inisiatif yang berbasis voluntary agreement untuk dapat mengatasi permasalahan susut dan limbah pangan di Indonesia.

“Hal ini bukan menjadi sebuah program reinventing the wheel, tetapi menjadi pendukung dan penyempurna inisiatif yang ada secara global maupun nasional,” ujar Yono Reksoprodjo.

Ia memetakan dan mengurangi susut serta limbah sampah dalam suatu rantai bisnis tidak hanya memberikan keuntungan pada lingkungan dan membantu pencapaian target pemerintah. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here