
Krisis oksigen terjadi karena lonjakan kebutuhan rumah sakit yang kini melayani pasien Covid-19.
Serat.id – Marketing dan Public Relation Rumah Sakit Bhina Bhakti Husada Kabupaten Rembang, R Jatnika Utama menanggapi keluhan kurangnya stok oksigen di rumah sakitnya, yang ramai dibicarkan di twitter. Keluhan itu pertama kali disampaikan lewat akun twitter @nophiieta kepada Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.
Dalam akun tersebut tertulis, “Pak @ganjarpranowo, kami atas nama RS Bhina Bhakti Husada Rembang butuh bantuan oksigen pak. Oksigennya tinggal untuk 3-4 hari ke depan, stok dimana2 habis. Kami satu2nya rs resmi pembantu RSUD dalam penanganan Covid-19 di Rembang Pak. Tolong kami”.
Menurut Jatnika, keluhan itu disampaikan agar Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memberikan perhatian atas apa yang terjadi di rumah sakitnya.
“Namun hari ini kami sudah menerima supplay tambahan oksigen sebanyak 1.800 liter. Dengan pengunaan rutin estimasi bisa sampai 5 hingga seminggu ke depan dengan estimasi pemakaian 350 liter perhari,” kata Jatnika saat dikonfirmasi, Jumat, 9 Juli 2021.
Pihaknya juga mengaku jika kondisi itu juga dialami oleh rumah sakit se Jawa Tengah. Namun dengan perhatian dari pemerintah provinsi Jawa Tengah, permasalahan itu bisa teratasi.
“Memang terjadi lonjakan kebutuhan karena sebelumnya rumah sakit kami melayani yang umum, terus sekarang datang yang Covid-19, otomatis kan kebutuhan oksigen secara drastis kelihatan grafiknya naik,” ucapnya.
Jatnika menyebut tingkat Bed Ocupancy Ratio (BOR) untuk pasien corona di rumah sakitnya hampir terisi penuh. Pihaknya pun berencana menambah jumlah bed isolasi.
“BOR sudah 88 persen, dari 60 bed sekarang terisi 53 bed. Rencana kita akan menambah bed hingga 75. Kita juga ada beban moral karena grafiknya naik drastis,” kata Jatnika.
Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo mengatakan pemerintah provinsi Jawa Tengah sudah mempersiapkan aplikasi benama JOSS untuk memantau perkembangan rumah sakit di Jateng.
“Sebenarnya kita sudah mempersipkan complain sistem dari kemarin. Ngisi saja di aplikasi JOSS,” katanya.
Menurutnya yang komplain tersebut sudah mengetahui harus menghubungi siapa untuk keluhan itu.
“Saya minta setiap rumah sakit harus ada person in charge (PIC), jangan diwakilkan,” pungkasnya.(*)