“Pemerintah dan pemimpin dunia seharusnya tak hanya mementingkan perekonomian dengan terus membangun industri di pesisir. Yang terancam tidak hanya rakyat tapi juga bisa para pejabat,”

Serat.id – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia atau WALHI Jawa Tengah, menggelar aksi aksi mensikapi pertemuan COP26 sejumlah pimpinan dunia membahas krisis iklim. Aksi dilakukan sebagai pensikapan pertemuan di Skotlandia itu.
“Aksi ini untuk menyikapi COP26 yang diselenggarakan di Skotlandia, di sana pimpinan dunia berkumpul bicara krisis iklim,” kata Direktur Eksekutif Walhi Jateng, Fahmi Bastian, saat aksi , Jumat, 5 November 2021.
Aksi dilakukan Jum’at pukul 10 hingga 11, di bekas Tempat Pelelangan Ikan atau TPI Tambaklorok, Kota Semarang. Penempatan lokasi aksi di pesisir sebagai simbol beberapa daerah rentan krisis iklim di wilayah pantai yang terancam tenggelam di antaranya Semarang dan Demak.
“Pemerintah dan pemimpin dunia seharusnya tak hanya mementingkan perekonomian dengan terus membangun industri di pesisir. Yang terancam tidak hanya rakyat tapi juga bisa para pejabat,” ujar Fahmi menambahkan.
Dalam aksi itu, sebanyak 10 patung plastik terlihat di tenggelamkan, sebagai simbol para penguasa. Lima anggota WALHI membentangkan beberapa poster dan satu sepanduk bertuliskan ‘Selamatkan Kawasan Pesisir Jawa Tengah Hentikan Solusi Iklim Palsu’.
Para peserta dijemput perahu dari depan rumah kampung nelayan Tambakrejo, kemudian diantar ke titik aksi. TPI yang menjadi titik aksi itu, sudah terendam air Rob sejak 2012 lalu, sebelum digunakan.
Fahmi mengungkapkan aksi menenggelamkan patung di ditengah-tengah bangunan yang hancur akibat rob, merupakan bentuk kritik terhadap tokoh para pemimpin daerah.
“Kami berharap pemerintah tidak hanya memilirkan ekonomi semata, tapi lihat masyarakat pesisir yang rentan ini agar ditangani, jangan hanya tambak lorok sebagai kampung bahari, hanya nilai estetik saja, tapi bagaimana nasib warga diperhatikan,” katanya. (*)