Tak hanya Didik, kedua adiknya pun penanda perjalanan Sumini dan Slamet Iswandi yang menjalani kehidupan dengan stigma sebagai eks PKI. Selain penanda, nama anak-anaknya pun menjadi doa.
Seperti anak kedua, Dwi Susanto Nugroho, lahir pada 1977 itu dianggap sebagai pembawa anugerah meski hadir saat kondisi masih sulit. Adapun anak ketiga yang lahir pada tahun 1981 diberi nama Heru Trisikwanto yang dimaknai peristiwa huru hara dan mengingatkan penderitaan karena disiksa, ditahan, dan dijauhkan keluarga.
Sejak bebas pada 1971, Sumini dan keluarganya memang berada dalam pengawasan aparat. Label sebagai mantan tapol anggota Gerwani selalu dihembuskan. Pergerakannya dipantau. Untuk melakukan apapun, dia harus meminta izin kepada aparat keamanan atau perangkat desa.
“Itu benar-benar masa sulit. Saya sering didatangi orang dari CPM, Koramil, Kodim, dan Polsek. Kerja dipersulit, jualan makanan difitnah dengan cerita bahwa makanan dimasak dengan minyak babi, usaha menjahit dilarang, lalu coba-coba jualan pakaian di Pasar Runting. Itu pun tidak mudah.”
Status orangtua yang menyandang identitas khusus bertanda ET (Eks Tapol ) berimbas pula pada ketiga anaknya.
“Didik dibilang anak PKI. Ketika ngaji dia tidak dapat jatah kupluk (kopiah-Red) karena anak Gerwani. Sejak kecil sering diolok-olok dan dikucilkan temannya sampai nangis tidak mau sekolah,” kenang Sumini.
Didik menimpali, “Ibu selalu mengantar ke sekolah. Katanya, jangan gubris omongan orang, yang penting harus sekolah.”