Pengalaman pahit juga dirasakan kedua anaknya yang lain. Mereka terpaksa mengubur pekerjaan impian dan banting setir dari cita-cita mereka. Anak kedua, Dwi Susanto sebenarnya lolos mengikuti pelatihan kerja ke Jepang, tapi surat undangannya tidak diberikan oleh pihak aparat.
“Dia cari pekerjaan lain juga sulitnya bukan main. Ditolak terus. Buntu semua. Diintimidasi terus tentang ibunya yang terlibat PKI. Dia marah sekali dan membenci saya.”
Sumini mengaku, “perang dingin” dengan anak keduanya yang dipicu oleh stigma sebagai eks PKI itu berlangsung cukup lama. Si anak kerap menyalahkan apa yang dilakukan ibunya.
“Kalau Ibu dulu tidak ikut kayak gitu aku bisa kerja di Jepang, nggak kayak gini. Saya tidak salah kok ikut disiksa seperti itu,” ujar Sumini menirukan perkataan anak keduanya yang kian memupuk luka.
“Syukurlah itu sudah berlalu. Dia punya usaha kuliner bersama istrinya.”
Anak ketiga Sumini pun mengalami nasib tak berbeda. Sebagai siswa berprestasi akademik membanggakan, hak akses pendidikannya “dicabut” tidak bisa menerima kenyataan itu. Dia dikeluarkan dari SMA Taruna Nusantara Magelang setelah mengenyam pendidikan selama tiga bulan.
“Bu, salahku apa? Aku ora rumangsa salah. Itu yang dia tanyakan waktu dikeluarkan tanpa sebab. Akhirnya kami tahu. Ada ‘surat kaleng’ dari desa yang menginformasikan bahwa Heru anak tapol. Dia frustasi dan tak mau sekolah hingga sempat nganggur setahun,” lanjut Sumini dengan mata nanar.