Di Ujung Tanduk
Sebenarnya, jauh sebelum itu, tepatnya pada saat peristiwa politik di tahun 1965 pecah, Sumini telah merasakan hidupnya di ujung tanduk. Tragedi dan petaka yang mengubah jalan hidupnya dimulai setelah kepulangannya ke Pati. Saat itu seluruh mahasiswa dipulangkan karena kampus digeruduk ratusan tentara dan pemuda, diobrak abrik, dan dirusak.
Kebanggaan Sumini sebagai mahasiswi Institut Pertanian dan Gerakan Tani Egom pupus ketika dia baru merasakannya selama tiga bulan. Dia pulang dengan hati berkecamuk, terlebih lagi dia menyaksikan situasi chaos di sepanjang perjalanan.
Setelah Peristiwa 65, seluruh aktivitas Gerwani diberangus dan anggota mereka diburu, ditangkap, dan ditahan. Sumini yang waktu itu menjadi Ketua Gerwani Ranting Pati, tak luput dari sasaran penangkapan. Ia dicari dengan tuduhan terlibat dalam pembunuhan tujuh jenderal di Jakarta.
Di rumahnya pun kondisinya tak aman. Sebelum kedatangannya, kedua orangtuanya beberapa kali didatangi dan diinterogasi dengan todongan senjata oleh aparat polisi, tentara, dan orang-orang berbaju preman yang menanyakan keberadaannya. “Emak tanya apakah saya bunuh jenderal, menyileti, dan mencukil mata jenderal. Apakah saya joget-joget dengan telanjang. Itu kan yang ada di koran-koran, isi beritanya menghasut rakyat bahwa PKI itu pembunuh.”
Tak hanya itu, rumah kedua orangtuanya digeledah dan semua dokumen diambil. Rapor dari SD-SMA milik anak-anak, buku- buku termasuk yang berisi lagu-lagu disita tanpa sisa. Lumbung padi dibongkar dan isinya dijarah. Bahkan jam dinding besar dengan bandul besar kesayangan orangtua pun diambil.
“Seperti perampokan, harta benda diambil semua. Emak nangis dan meratapi peristiwa itu. Saya disuruh bersembunyi. Bapak meneteskan air mata dan memberi uang Rp50 ribu. Itu pertemuan terakhir dengan saya,” ungkap Sumini.
Dalam kondisi kebingungan, Sumini pergi tanpa tujuan. Dia bersembunyi dari satu tempat ke tempat lain karena dia harus berpindah-pindah untuk menghindari aparat. Dia harus berjalan kaki ke stasiun untuk naik kereta, tidur di emperan stasiun atau tidur dengan para bakul di pasar. Yang penting baginya, pergi dari rumah dan bersembunyi.