Hingga suatu ketika Sumini kembali ke Pati. Setibanya di Juwana, ia bertemu dengan Wage yang kemudian memberinya tempat untuk bersembunyi.
“Malam-malam ada yang mendatangi tempat persembunyian, dan bilang ingin menjadikan saya sebagai istri keempatnya. Saya frustasi. Ini nyawa sudah diubun-ubun antara hidup dan mati, justru ditawari jadi istri. Kowe tetep urip kalau mau jadi bojo keempat.”
Penolakan Sumini berbuntut panjang. Pada malam berikutnya, tempat persembunyian digeruduk sekelompok massa berseragam. Sumini ditangkap, dipukuli dan diseret dalam keadaan setengah sadar sebelum diangkut truk ke Polres Pati. Begitu juga Pak Wage yang memberinya tempat untuk bersembunyi.
Dengan nada bergetar, Sumini melanjutkan cerita tentang penangkapannya. “Saya didiinjak-injak, rambut sampai kena tanah. Darah mengucur dari hidung dan mulut, baju kena darah semua. Saya pingsan dan begitu sadar sudah ada di Polres. Baju sudah diganti. Saya telah ditelanjangi.”
Setelah itu, Sumini diperlakukan tak manusiawi, mengalami penyiksaan fisik dan seksual. Hampir setiap hari berpindah-pindah tempat dari Mapolres Pati dan Markas Corp Polisi Militer untuk “dibon”, istilah untuk diinterogasi agar mengakui sesuatu yang tidak pernah dilakukan, yaitu ikut terlibat membunuh para jenderal dalam Peristiwa 65. Interogasi demi interogasi itu berlangsung selama lima bulan sebelum ia dipindahkan ke LP Bulu di Semarang.
“Saya didorong sampai terjungkal, lalu kursi diambil untuk gebuk badan saya dengan penuh emosi. Kalau tidak mengaku dipukul terus, dijambak, disetrum, disundut rokok sampai pipi melepuh. Jari saya pernah ditindih dengan kaki meja, bahkan kepala dipopor senjata karena saya mengancam berteriak sekencang-kencangnya,” ceritanya sambil menunjukkan bekas-bekas di pipi kiri, kepala, dan punggung. Sumini mengaku syaraf di kepala kejepit akibat benda tumpul.
Hatinya makin hancur ketika mendengar Atmo Munago, ayahnya meninggal karena sakit akibat memikirkannya. “Bapak dapat kabar bohong kalau saya di-kekrek bayonet RPKAD saka kene tekan kene, terus jatuh sakit dan tiga hari kemudian meninggal. Padahal saya di Polres,” ujarnya sambil menunjuk bagian atas kepala hingga ke badannya sembari menambahkan bahwa dirinya diperbolehkan melihat jasad ayahnya dengan penjagaan ketat dari aparat.