Berdamai
Butuh waktu lama bagi Sumini untuk mampu berdamai dengan peristiwa traumatis yang dialami, baik semasa berada di tahanan hingga bertahun-tahun setelah kebebasannya, termasuk yang juga diderita ketiga anaknya. Tapi ia sadar harus keluar dari situasi seperti itu.
Salah satunya dengan kesadaran spiritualitas untuk saling menguatkan dan menjaga keharmonisan keluarga agar peristiwa traumatis lainnya tak terulang dan merenggut masa depan anak cucunya.
“Anak-anak saya injeksi terus dari SMA hingga kuliah. Kalau ada kesempatan, saya ajak tidur bersama dan bercerita macam-macam termasuk peristiwa itu. Tapi tiap anak caranya beda karena karakternya juga beda-beda.”
Penerimaan itu juga dibuktikan dengan berdamai kepada orang-orang yang pernah menyiksanya. Dia berempati kepada pelaku yang kemudian sakit atau depresi. Sumini mengetahui beberapa nama orang-orang yang berandil terhadap apa yang dialaminya itu dari kesaksian para penyintas lainnya.
“Orang yang melempar ke truk dan menginjak-injak saya itu jadi lumpuh. Kasihan tapi sekarang sudah meninggal. Saya tangisi karena kecewa belum sempat nengok. Saya juga mengirim uang beberapa kali dan menjenguk orang yang dulu ikut mengobrak-abrik rumah karena dia sudah meminta maaf. Njaluk ngapura ya Nduk, iku ora karepku dhewe,” ujar Sumini menirukan ucapan orang yang pernah ikut menyiksanya.
Ada juga yang hingga kini mengalami depresi berat. Bahkan jika mendengar nama Sumini disebut, perangainya berubah seperti orang yang terganggu jiwanya. “Kalau kumat, dia keluar rumah dengan telanjang, mlayu mlayu nggak jelas. Mungkin masih memendam beban atas peristiwa itu dan akhirnya stres. Dia yang menelanjangi dan memukul hingga lebam semua, mata, hidung, mulut sampai keluar darah. Itu seperti Tuhan sedang mempermalukan dia.”
Didik mendengar obrolan kami tentang kisah hidup keluarganya dengan seksama. Sejak kecil ia mengaku sering mendengar sang ibu bercerita tentang kehidupannya. Tapi ingatan itu samar-samar. Baru ketika SMA, Didik mendapat gambaran jelas peristiwa demi peristiwa yang dialami keluarga besarnya.
“Lama-lama paham, terlebih lagi ketika melihat perjuangan ibu untuk meluruskan sejarah dan mengembalikan nama baiknya. Keinginan hati saya hanya satu, jadi pendamping ibu, selalu bersama ibu dan bantu perjuangannya,” tandas Didik.
Sumini mengakhir semua cerita dengan kalimat lirih bernada agak sedih, “Iya, saya tidak menyangka kalau masa remaja saya yang menyenangkan tiba-tiba direnggut penjara, disiksa, dan dipisahkan dari keluarga.”
Baca berita selanjutnya: Keluarga Dalam Sejarah Penyintas 65
Penulis: Noni Arnee