Lukisan bungkus kopi itu sebagai pameran seni untuk merespon rencana pemerintah yang akan menambang batu andesit di perut perbukitan di desa Wadas, Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo Jawa Tengah

Puluhan bungkus kopi robusta ukuran 250 gram berjajar rapi di galeri Kedai Kebun Forum (KKF), Yogyakarta. Masing-masing bungkus kopi itu menampilkan aneka lukisan yang menceritakan kisah warga Wadas, Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo Jawa Tengah, yang saat ini sedang berkonflik dengan pemerintah terkait rencana tambang batu andesit di kampung itu.
Salah satunya karya Toni Malakian, menggambar wajah seorang petani bernama Mbah Marsono dengan kutipan,”Kita bakal mati tetapi tanah Wadas harus lestari”. Lukisan itu memberikan kesan nyata perjuangan warga Desa Wadas di Purworejo, Jawa Tengah yang sedang terancam ruang hidupnya.
Lukisan bungkus kopi itu sebagai pameran seni untuk merespon rencana pemerintah yang akan menambang batu andesit di perut perbukitan di desa itu. Batu ini akan menjadi material pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN) Bendungan Bener yang berjarak sekira 12 kilometer dari Desa Wadas.
Dengan tema “Kepada Tanah, Hidup dan Masa Depan Wadas”, pameran di KKF itu mulai dibuka sejak Minggu 20 Februrai hingga Senin akhir bulan nanti. Pameran yang diikuti 22 seniman ini secara simultan juga dipamerkan di Denpasar, Batu, Bandung, Semarang dan Jakarta.
“Sedangkan kopi yang dipamerkan ini dijual dan hasilnya untuk membantu perjuangan warga Wadas,” ujar Sirin Farid Stevy, salah satu seniman yang menggagas pameran itu.
Ia mengatakan para seniman ingin membagikan cerita soal fakta dan rasa di Wadas. Mereka merespon kopi, salah satu hasil bumi dari Ibu Bumi Wadas, selain durian, kemukus, kunir, rambutan, pisang, pete dan masih banyak lainnya.
Pameran itu juga melibatkan Melaju Studio yang membuat kolase sejumlah tokoh penting nasional sperti foto Presiden Joko Widodo, Gubernur Ganjar Pranowo, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan, juga alat excavator dan barisan polisi bertameng yang sedang berhadapan dengan petani.
Visual ini menggambarkan situasi nyata di Wadas yang sejak 2016 menentang kebijakan pemerintah yang memaksa mau mengambil lahan pertanian mereka menjadi lokasi tambang.
Ada pula gambar Rifki, seorang pemuda Wadas yang sedang memeluk ibunya di atas 12 besek, yakni kantong berbentuk persegi empat yang terbuat dari bambu yang ditempelkan di tembok.
Gambar itu terinspirasi dari foto seorang jurnalis yang mengabadikan momen itu setelah Rifki dibebaskan dari Polres Purworejo.
Rifki bersama 66 orang lainnya sempat ditahan tanpa alasan jelas saat ribuan polisi mengawal proses pengukuran tanah lokasi tambang andesit, Selasa 8 Februari silam.
Pengamat music, Felix Dass dalam pengantar pameran menuliskan testimoni menarik, yakni hari ini kita merayakan perlawanan dari Desa Wadas. Bukan tidak mungkin besok yang melawan adalah desamu, kampung kotamu tempat mu hidup.
Felix berpesan bila kita punya energi besar bisa ikut dalam gerbong perlawanan. Tetapi kalau tidak punya energi besar bisa juga berkontribusi dengan menarik garis batas dengan tegas dengan keserakahan.
“Jadilah pasif dan tidak berpartisipasi di dalamnya,” ujar Felix . (*) BAMBANG MURYANTO