Berita proklamasi akhirnya tersebar di media
Berdasarkan Panitia Penyusunan Sejarah Pertempuran Lima Hari di Semarang, penyiaran berita proklamasi kemerdekaan juga terkirim ke redaksi Sinar Baroe. Gadis Rasjid, yang saat itu bekerja sebagai wartawan di surat kabar yang berlokasi di Jalan Suari No.22-26, Kota Lama Semarang sedang berkomunikasi dengan Soetinah.
Jumat, 17Agustus 1945, pukul 11.30, Gadis tengah menelpon Soetinah, dari Kantor Domei cabang Semarang untuk mengirimkan berita yang hangat sebelum deadline pukul 12.00 WIB.
“Tapi kali ini suara petugas KB Domei sangat gugup. Ia berkata dengan nafas terputus-putus. Zus Gadis, zus Gadis, ini ada berita penting. Ambil kertas lekas, harap catat. Mari saya bacakan. Dan dibacakanlah teks dari proklamasi kemerdekaan,” tulis Gadis Rasjid dalam 17 Agustus 1945 di Kota Semarang, Majalah Intisari, Agustus 1968.
Gadis sontak gugup mendengar berita dari Soetinah, hingga lupa mengembalikan gagang telpon. Mulutnya mengangga dan kakinya gemetar.
Hetami, Wakil Pemimpin Redaksi surat kabar Sinar Baroe heran melihatnya dan menanyakan kondisi Gadis Rasjid. Tanpa mengeluarkan sepatah katapun, anak buahnya itu menunjukkan kertas catatannya.
Hetami kaget dan berlari cepat ke ruang percetakan, menginstruksikan agar berita tersebut segera naik cetak dalam sebuah buletin. Alasannya, agar dapat dibagi-bagikan tanpa harus menunggu surat kabar terbit.
Namun seorang pegawai tata usaha di Sinar Baroe jurstu melaporkan berita tersebut ke pejabat sensor Jepang.
Pejabat Jepang tersebut geram dan dengan membawa senjata mendatangi ruang percetakan dan berteriak “Bagero itu bohong-bohong,” tulis kesaksian Gadis Rasjid.
Pejabat Jepang melampiaskan kemarahan dengan memberantakkan zetsel (alat penyusun huruf) untuk buletin.
Gadis hampir menangis, namun Hetami menenangkannya sambil mengatakan “ Tenanglah, pergilah pulang semua akan beres,” tulis Gadis Rasjid.
Sekitar pukul 15.00 WIB, Hetami menelepon Gadis dan memintanya untuk datang ke kantor karena semua persiapan untuk mengedarkan buletin sudah beres. Hetami juga menyusun ulang isi buletin itu setelah pejabat Jepang pulang dari Sinar Baroe.
“Hetami mengerahkan anak-anak murid-murid Sekolah Menengah di Semrang. Mereka berkumpul di luar gedung siap untuk mengedarkan buletin ini,” tulis Gadis Rasjid.
Beda dengan Hetami, Pimpinan Redaksi Sinar Baroe Parada Harahap justru tak berani menyiarkan berita proklamasi kemerdekaan dari Domei Cabang Semarang.
Saat itu Parada masih ragu karena penyiaran kemerdekaan tidak ada penjelasan dari Tenno Heika, Kaisar Jepang, yang sebelumnya telah berjanji akan memberikan kemerdekaan Indonesia.
“Saya kuatir jangan-jangan proklamasi kemerdekaan itu dari oknum Indonesia. Tanpa izin dan di luar sepengetahuan saudara tua. Kalau betul demikian, itu berarti perebutan kekuasaan. Pemberontakan! Akibatnya, seperti halnya peristiwa Blitar dengan Soeprijadi itu,” tulis Mintardjo.
Keraguan itu bahkan membuat Parada mencabut zetsel dari bingkainya. Padahal berita kemerdekaan telah set untuk siap cetak.
Ternyata pada pukul dua siang, Sinar Baroe mendapatkan berita susulan dari Kantor Berita Domie Cabang Semarang bahwa badan sensor militer Jepang melarang penyiaran kemerdekaan.
“Dengan keterangan bahwa tidandakan-tindakan Pemerintah Bala tentara terhadap kemerdekaan Indonesia tidak ada perubahan suatupun” tulis Panitia Penyusunan Sejarah Pertempuran Lima Hari di Semarang dalam Sejarah Pertempuran Lima Hari Semarang.
Pada esok hari, Sinar Baroe mendapatkan berita dari gabungan Persurat Kabaran Djawa di Jakarta yang membenarkan peristiwa proklamasi kemerdekaan.
Sinar Baroe berani membuat berita proklamasi kemerdekaan sehari kemudian. (na)