
Banjir melanda Dusun Karang Krajan, Desa Wadas, Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah pada Sabtu, 8 Juli 2023 sore. Dalam kejadian itu, air menggenangi ruas jalan utama, dua rumah penduduk, dan satu musholla.
Banjir tersebut diakibatkan air hujan yang tidak meresap, karena lahan hijau di bukit-bukit sudah dikupas untuk pembangunan akses jalan menuju tambang andesit (quarry).
Walaupun sudah ditolak warga, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo masih bersikukuh meneruskan rencana menambang andesit yang batunya digunakan untuk pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN), Bendungan Bener di Purworejo.
“Hujan yang tidak begitu deras itu turun sejak pukul 15.00,” ujar Kadir, seorang warga Wadas.
Aliran air yang deras turun dari bukit yang sudah gundul sambil membawa lapisan tanah dan meninggalkan lapisan lumpur di jalan utama. Jalan menjadi licin, seorang warga yang mengendarai motor sempat jatuh saat menerjang lumpur ini.
Selain itu, Kadir juga menjelaskan hujan menyebabkan erosi dan mengotori Sungai Juweh yang mengalir di Wadas. Sungai yang airnya biasa jernih itu berubah menjadi berwarna coklat kekuning-kuningan. Ini menjadi pertanda hujan telah menyapu lapisan humus di bukit dan membawanya ke sungai.
Kejadian ini kali kedua, banjir terjadi di Wadas akibat pembangunan akses jalan menuju lokasi tambang. Sebelumnya banjir terjadi pada Maret 2023 lalu.
Banjir yang terjadi ini menunjukkan betapa pembukaan lahan di wilayah perbukitan di Wadas itu merusak lingkungan dan berpotensi membahayakan warga yang tinggal di kaki bukit. Nantinya, lahan seluas 114 hektar di puncak bukit-bukit di Wadas akan dibuat jadi gundul dan jadi tambang andesit.
Selama ini wilayah Wadas ditetapkan sebagai wilayah rawan bencana longsor. Tetapi setelah ditetapkan sebagai lokasi tambang andesit, Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) Kabupaten Purworejo diubah pada 2021 dan Wadas ditetapkan sebagai wilayah pertambangan.
Talabudin dari Gerakan Masyarakat Peduli Alam Desa Wadas (Gempadewa) mengatakan banjir yang terjadi lagi ini membuktikan sejak awal pendirian warga yang menolak tambang dan ingin mempertahankan tanahnya, terbukti benar.
Sejak awal Gempadewa menolak tambang andesit karena khawatir kerusakan lingkungan dampak dari pembukaan lahan pasti menyebabkan bencana bagi warga.
“Pak Ganjar yang sedang mencalonkan diri sebagai presiden, tolong buka mata lebar-lebar, bencana banjir terjadi lagi di Wadas. Ini alasan kami menolak rencana tambang andesit itu,” ujarnya.
Talabudin mengatakan hujan yang tidak terlalu lebat karena terjadi pada musim kemarau saja sudah bisa membuat banjir yang mengkhawatirkan warga. Alam sudah memberikan peringatan dua kali, betapa aktivitas tambang berpotensi menimbulkan bencana.
“Bagaimana nanti jadinya warga Wadas jika ada hujan sangat lebat pada musim hujan mendatang? Alam pasti murka dan bajir besar akan terjadi,” tambahnya.
Ia berharap pemerintah mau membuka mata dan menghentikan rencana pertambangan. Apalagi Izin Penetapan Lokasi (IPL) tambang andesit sudah berakhir sejak 7 Juni lalu dan semua lahan tambang belum diselesaikan. Dari aspek hukum, seharusnya pemerintah menghentikan semua aktivitas di Wadas. (*)