Jumat, Agustus 29, 2025
27.9 C
Semarang

Hadiri Forum Sosial Tematik 2023, Gunarti Kartini Kendeng: Kami Melawan dengan Cara Menanam

lnstalasi pegunungan Kendeng dalam acara Global Thematic Social Forum 2023 yang digelar di Kota Semarang, Jawa Tengah pada Kamis, 19 Oktober 2023 (Serat.id/Riska F)

“Nek nganti Jawa Tengah wis ora dadi lumbung pangan, yo kari ngitung wektu ambruke kapan negorone dewe. (Kalau sampai Jawa Tengah sudah tidak menjadi lumbung pangan, ya tinggal menunggu waktu robohnya kapan negaranya kita). Karena kekuatan negara kita bukan di peluru tapi di pangan dan air,”.

Masih lekat dalam ingatan Gunarti (49) sebuah filosofi leluhur yang diwariskan secara turun temurun bagi anak cucu di kawasan Pegunungan Kendeng.

Perempuan yang akrab disapa Mbak Gun ini merupakan sosok Kartini Kendeng yang sampai detik ini masih gigih berjuang mempertahankan ruang hidupnya dari gempuran pabrik semen yang dibangun di wilayahnya.

“Kendeng itu seperti miniatur Jawa. Mbah saya bilang Kendeng ini kan di Jawa Tengah. Jadi ibarat tubuh, kalau Jawa Timur itu kaki, Jawa Barat itu kepala dan Jawa Tengah itu perut. Perut seperti lumbung untuk pangan dan air, jadi harus dijaga supaya tubuhnya kuat dan sehat,” katanya saat ditemui Serat.id di sela acara Global Thematic Social Forum 2023 yang digelar di Kota Semarang, Jawa Tengah pada Kamis, 19 Oktober 2023.

Sejak tahun 2008, Mbak Gun menggerakkan ibu-ibu di desanya untuk berjuang menyelamatkan lingkungan dengan menolak pendirian pabrik semen yang mengancam penghidupan dan mengakibatkan kerusakan alam.

Perjuangan panjang para perempuan tangguh ini dilakukan dengan berbagai cara mulai dari aksi protes turun ke jalan, mengecor kaki dengan semen, menggugat perusahaan hingga bertemu Presiden Joko Widodo di istana negara.

Baginya, bumi layaknya seorang ibu yang patut dirawat dengan penuh welas asih. Bumi sudah memberikan sumber daya alam yang melimpah seperti tanah, air dan udara sehingga harus senantiasa dijaga demi keberlangsungan anak cucu.

“Kita masih berpijak di ibu bumi, masih minum air yang sama, menghirup udara yang sama punya tugas menjaga dan menggunakan secukupnya. Ingat generasi ke depan kalau kita tidak ingin dijajah lagi oleh para penjajah dengan wajah-wajah pabrik,” ungkapnya.

Hadiri forum internasional

Dalam pertemuan yang dihadiri oleh perwakilan lintas negara ini, Mbak Gun berbagi kisah perjuangan masyarakat Kendeng dalam upaya melestarikan alam dan melawan kerusakan lingkungan.

Mbak Gun mengaku dirinya juga banyak mendengar cerita perjuangan serupa dari para warga terdampak dan aktivis lingkungan yang menolak aktivitas pertambangan dan industri ekstraktif dari berbagai benua.

“Di forum ini saya mendengar ada keberhasilan dalam upaya penghentian izin tambang di Taiwan. Saya ingin mengetahui dimana tingkat keberhasilannya. Sedangkan di Kendeng sebenarnya izin juga sudah mandek, Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) sudah bagus bahwa Kendeng harus dilindungi. Tapi faktanya pabrik semen tetap beroperasi sudah 5 tahun, apakah ini yang disebut negara hukum?” ungkapnya.

Menurut dia, perjuangan warga Kendeng selama lebih dari satu dekade ini sebenarnya juga telah membuahkan kemenangan karena perizinan tambang sudah dihentikan. Namun, faktanya aktivitas penambangan ilegal masih dilakukan sampai sekarang.

“Rekomendasi dari KLHS hasil dari kesepakatan Presiden Jokowi dengan warga Kendeng telah dikaji. Ini sebagai rujukan untuk merevisi Perda RTRW. Kenyataannya justru semakin diobral tambang-tambang liar dengan dalih punya izin,” katanya.

Dia mengungkapkan, masyarakat Kendeng kecewa dengan sikap pemerintah lantaran tidak memikirkan keberlangsungan hidup rakyatnya.

Pemerintah justru berpihak kepada korporasi demi mengeruk keuntungan semata yang tidak peduli terhadap kelestarian lingkungan.

“Maka kami sudah tidak bisa mengandalkan pemerintah. Tanah dan air ini tetap milik kami jadi akan selalu kami jaga,” tegasnya.

Melawan dengan cara menanam

Mbak Gun mengaku dengan segala daya upaya, dirinya akan tetap melawan segala praktik pengrusakan lingkungan yang mengancam wilayah Pegunungan Kendeng. Salah satunya yakni melawan dengan cara menanam.

“Kami melawan dengan cara menanam. Kita hijaukan lagi Kendeng. Karena selama ini ada pembiaran, pembabatan hutan, penambangan galian C. Jadi meskipun kita menggarap lahan sedikit akan kita buktikan sebagai percontohan,” ujarnya.

Menurut dia, penguatan solidaritas warga dan jaringan di akar rumput merupakan faktor yang sangat penting sebagai penentu keberhasilan dalam upaya melawan segala bentuk eksploitasi lingkungan.

“Jadi kita seperti bagi tugas ibarat tim sepak bola. Baik warga, aktivis, komunitas maupun lembaga tetap berjuang. Karena penguatan dari tingkat bawahlah salah satu penentu kemenangan mengingat betapa pentingnya tanah dan air bagi generasi ke depan,” ungkapnya.

Dia menegaskan, aktivitas penambangan harus segera dihentikan karena telah mengancam sumber air dan tanah yang biasa digunakan petani untuk mengolah sawah, beternak dan kebutuhan hidup sehari-hari.

“Pertambangan harus dihentikan! Kita harus memikirkan betapa pentingnya air, betapa pentingnya pangan dibandingkan tambang. Kita harus memikirkan pembangunan yang berkelanjutan,” ucapnya.

Pentingnya solidaritas perempuan

Dalam kegiatan Global Thematic Social Forum 2023, perempuan menjadi isu yang penting untuk dibahas sebagai strategi penguatan gerakan akar rumput secara luas.

Sebab, perempuan menjadi yang paling rentan terdampak karena memiliki keterkaitan dengan pengolahan sumber daya alam untuk keberlangsungan kehidupan.

Belum lagi, perempuan yang menanggung beban ganda dihadapkan banyak tantangan ketika harus berdiri di garda terdepan perjuangan saat terjadi konflik-konflik lingkungan.

Koordinator Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) Melky Nahar mengatakan, dalam banyak kasus, perempuan sebagai garda terdepan dalam perjuangan memiliki tingkat resiko yang jauh lebih kecil daripada laki-laki yang cenderung emosional.

Namun, lanjut dia, tak bisa dipungkiri gerakan perempuan di Indonesia kerapkali dihadapkan sejumlah tantangan seperti hegemoni laki-laki dan jarang dilibatkan dalam rantai pengambilan keputusan.

“Sehingga ini menjadi evaluasinya karena seringkali mengabaikan perempuan dalam urusan pengambilan keputusan. Keputusan diambil ketika terjadi aksi langsung di lapangan misalnya seringkali memaksa untuk perempuan di depan. Dan hal-hal semacam ini yang perlu kita selalu evaluasi,” katanya.

Menurut dia, sebenarnya ada banyak cara yang bisa dilakukan dalam upaya penguatan sebuah gerakan, misalnya dimulai dari ranah keluarga dan domestik.

“Saya ambil contoh misalnya banyak komunitas warga terutama yang perempuan mencoba menyusun satu gerakan itu mulai dari rumah tangga. Maksudnya ketika kita sedang melawan satu korporasi maka urusan perlawanan kita tidak hanya terkait dengan aksi-aksi yang barangkali menghadang perusahaan tapi bagaimana menguatkan dapur,” ungkapnya.

Dia mengambil contoh penguatan solidaritas masyarakat di Kendeng yang berjuang melawan eksploitasi lingkungan dan perampasan ruang hidup.

Setiap anggota keluarga, kata dia bisa saling mengambil peran dan tugasnya masing-masing untuk berjuang sebagai bentuk perlawanan.

“Jadi ada semacam pembagian peran dan tugas antara suami, istri dan anak-anak. Ini seperti yang terjadi di Kendeng. Dan hal yang sama sedang digunakan oleh teman-teman di tempat lain,” katanya.

Ruang aman bertukar pengalaman

Untuk itu, kata dia, tujuan digelarnya forum sosial tematik ini adalah sebagai ruang aman untuk saling bertukar pikiran dan pengalaman yang serupa dari para perwakilan di seluruh penjuru dunia.

Forum yang membahas tentang pertambangan dan ekonomi ekstraktif ini mempertemukan perwakilan dari berbagai lintas negara dari Afrika, Asia, Oseania, Amerika Latin (LATAM), Timur Tengah dan Afrika Utara, Amerika Utara, dan Eropa.

Menurut dia, dalam forum ini ada pengalaman baik yang bisa dibagikan kepada jaringan komunitas lainnya yakni kisah kemenangan-kemenangan kecil.

“Di jejaring akar rumput kita bertukar pengalaman dan upaya perlawanan di masing-masing komunitas lintas negara lintas benua. Tidak semua pengalaman yang dialami itu buruk. Ada pengalaman lain, ada kisah kemenangan kecil yang itu penting untuk dibagikan dengan banyak jejaring komunitas di level akar rumput,” ungkapnya.

Selain itu, kata dia, forum ini juga untuk mengkonsolidasikan kekuatan di akar rumput dari berbagai negara agar saling terhubung sebagai upaya perlawanan terhadap pertambangan dan ekonomi ekstraktif.

“Konteks besarnya negara-negara di bagian Utara dan Selatan masih sangat bergantung pada model ekonomi ekstraktif yang sebetulnya tidak berkelanjutan, hanya sesaat, rapuh dan tidak ada jaminan warga akan sejahtera. Maka kekuatan di level akar rumput ini bisa saling terhubung antara masyarakat di desa, kota hingga negara berkembang dan negara maju. Termasuk lembaga di Indonesia, Asia Pasifik, Eropa, Amerika dan Afrika,” ucapnya.

Indonesia jadi tuan rumah TSF-Mining

Global Thematic Social Forum (TSF-Mining) pada tahun ini diselenggarakan di Indonesia yakni di Kota Semarang, Jawa Tengah sejak 17 – 20 Oktober 2023. Sebelumnya, TSF-Mining kali pertama diselenggarakan di Afrika pada tahun 2018.

“Indonesia dipilih karena selain cukup siap secara teknis juga kita melihat urgensinya terkait krisisnya yang menumpuk dari satu rezim ke rezim lain sehingga menjadi sangat relevan. Di sini banyak sekali wilayah-wilayah krisis, ada tambang, PLTU, geothermal, pabrik semen, kan lengkap sekali. Sehingga soal krisis ini kita perlu dukungan publik internasional,” ujarnya.

Forum ini dihadiri sekitar 340 peserta yang terdiri dari warga terdampak, komunitas, aktivis, serikat pekerja, kelompok lintas agama dan masyarakat sipil yang menentang pertambangan dan ekstraktivisme.

Melky mengatakan, forum ini nantinya akan menghasilkan deklarasi yang diinisiasi dari warga yang mengalami langsung krisis selama ini.

“Krisis kita ini bukan hanya berlangsung setahun, dua tahun tapi berpuluh-puluh dekade. Deklarasi ini sasarannya bagaimana memperluas perlawanan di tingkat akar rumput bahwa solidaritas antara masyarakat korban menjadi sangat penting ketika model negara dan korporasinya begitu bebal,” tegasnya. (Riska F.)

Hot this week

Jurnalis MNC Terluka Usai Meliput Aksi di Grobogan, AJI Semarang: Polda Jateng Harus Usut Tuntas Kasus Ini

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Semarang mengecam keras aksi pembacokan...

Robig Penembak Mati Gamma Resmi Dipecat

Illustrasi sidang Robig Zainudin di Mapolda Jawa Tengah pada...

Lima Mahasiswa Aksi Hari Buruh Jalani Sidang Perdana di Pengadilan Negeri Semarang

Kelima mahasiswa saat sedang menjalani sidang perdana di Pengadilan...

Puluhan Warga Pati Terluka, Sebagian Terkena Selongsong Peluru

Massa aksi saat melakukan protes kenaikan PBB sebesar 250...

Saparan di Kopeng, Tradisi Ucap Syukur Kepada Alam

Festival Budaya Kulon Kayon di dusun Sleker, Desa Kopeng,...

Topics

Jurnalis MNC Terluka Usai Meliput Aksi di Grobogan, AJI Semarang: Polda Jateng Harus Usut Tuntas Kasus Ini

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Semarang mengecam keras aksi pembacokan...

Robig Penembak Mati Gamma Resmi Dipecat

Illustrasi sidang Robig Zainudin di Mapolda Jawa Tengah pada...

Lima Mahasiswa Aksi Hari Buruh Jalani Sidang Perdana di Pengadilan Negeri Semarang

Kelima mahasiswa saat sedang menjalani sidang perdana di Pengadilan...

Puluhan Warga Pati Terluka, Sebagian Terkena Selongsong Peluru

Massa aksi saat melakukan protes kenaikan PBB sebesar 250...

Saparan di Kopeng, Tradisi Ucap Syukur Kepada Alam

Festival Budaya Kulon Kayon di dusun Sleker, Desa Kopeng,...

Robig Divonis 15 Tahun Penjara, LBH Semarang: Polri Harus Memecatnya

Suasana Sidang Robig Zainudin di Pengadilan Negeri Semarang, Jumat,...

Komunitas Sastra di Kendal Kembali Gelar KCA 2025

Beberapa komunitas sastra di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah kembali...

Ini Desakan Koalisi Advokat Progresif Indonesia Terkait RUU KUHAP

Koalisi Advokat Progresif Indonesia (KAPI) menyoroti sejumlah pasal dalam...
spot_img

Related Articles

Popular Categories

spot_imgspot_img